Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kedatangan Chika


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.40, mereka sudah siap untuk menjalankan sebuah rencana.


Awalnya Nurul tidak menyetujui ide dari Lidya tersebut, namun Lidya terus mendesaknya karena hari itu adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk balas dendam kepada Chika.


Mereka akan mencari Chika di Universitas A, untuk memberikan sebuah peringatan bahwa mereka bukanlah Gadis Desa yang mudah ditindas.


Nurul hanya bisa pasrah dengan ide tersebut, tapi ia tidak ingin hal itu diketahui Ari, karena ia merasa malu jika Ari mengetahui bahwa ia cemburu melihat kedekatan mereka. Dan tujuan mereka hanya untuk memberi peringatan saja, bagaimanapun Chika sudah melakukan sesuatu yang kejam terhadap Nurul.


Tak lama kemudian, mereka sampai di depan universitas. Lidya kebingungan bagaimana cara mereka menemukan Chika dari ribuan orang yang berada di tempat itu. Ya, mereka datang hanya bermodalkan kata 'nekat'.


Mereka berteduh sebentar di samping parkiran motor, tak lama kemudian ada seorang Pria mendekati mereka.


"Halo adik-adik,"


Refleks, Nurul sedikit menjauh dari Pria itu karena jarak mereka yang terlalu dekat bahkan hampir bersentuhan.


"Sepertinya mereka masih polos," gumam pria itu di dalam hatinya.


Lidya yang merasakan niat jahat dari Pria itu menengahi keduanya dan berkata, "Jangan berani macam-macam dengan kami," kemudian berkacak pinggang.


Pria itu hanya menarik sudut bibirnya beranggapan bahwa gadis desa yang sedang berada di hadapannya itu sangat lucu dan menggemaskan. Pria itu pun mencoba merangkul pundak Lidya.


Syuut


Lidya langsung mengukung lengan Pria tersebut, kemudian ia meringis kesakitan dan meminta maaf.


"Hey, hey! Ada apa ini?" tanya seorang Satpam yang kebetulan lewat di tempat mereka.


"To... Tolong Pak,"


Lidya semakin mengencangkan kukungannya. Pak Satpam pun mencoba membujuk Lidya dan mengajak mereka ke Pos Keamanan.


Setelah mereka sampai, pak Satpam menanyakan apa yang menyebabkan Lidya berani berbuat demikian.

__ADS_1


"Dia mendekati sahabat saya, kemudian ingin merangkul saya." jawab Lidya sambil menunjuk Pria yang masih meringis kesakitan itu.


"Bohong Pak, mereka saja yang terlalu kuper (kurang pergaulan). Sepertinya mereka dari Desa."


Tak terima, Lidya pun berdiri dan berkata, "Emang kami dari Desa tapi bukan berarti Kamu bisa berbuat seenaknya," bantah Lidya geram sambil mengepalkan tangannya.


"Sudah, sudah! Lalu apa tujuan kalian datang kemari Dik?" tanya pak Satpam setelah melerai pandangan mereka.


Lidya mendengus kesal, lalu ia berkata, "Kami sedang mencari kak Chika,"


"Chika si Primadona kampus? Mana mungkin wanita seperti Chika memiliki hubungan dengan Gadis Desa seperti kalian." sela Pria itu dengan nada yang mengejek.


Lidya semakin geram dengan kata-kata yang diucapkan Pria itu, ia ingin melompat dan menghadiahkan sebuah bolu mentah di wajahnya yang sok tampan tersebut, "Meskipun sebenarnya cukup tampan," sambung Author he-he-he.


Pak Satpam menepuk pundak Pria itu dan menatapnya dengan sebuah tatapan yang mengerikan, seketika Pria itu langsung terdiam seketika. Lidya pun merasa puas melihat ekpresi Pria itu. "Kami hanya ingin memberikan surat ini." sambungnya sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna putih berisi sebuah surat yang menantang Chika untuk menemui mereka di taman.


Pak Satpam pun mengambil surat tersebut, "Bapak akan membantu kalian."


"Terima kasih Pak, kami pergi dulu." Dengan gaya angkuhnya Lidya melewati Pria itu dengan mengangkat sedikit dagunya. Membuat Pria tersebut mendengus kesal, membuat Lidya memekik kegirangan di dalam hatinya.


Wueee,


Lidya menarik kelopak matanya kebawah untuk meledek Pria jahat itu.


"Dasar Gadis Kampung!" umpatnya dari kejauhan.


*****


Satu jam kemudian, Nurul dan Lidya masih menunggu kedatangan dari Chika di tempat yang mereka janjikan. Tempat dimana Chika dan Ari duduk sambil makan bakso tadi pagi.


Masih terasa segar diingatan Nurul bagaimana kemesraan dari keduanya, membuat Nurul menunduk menahan deraian air matanya lagi.


"Sudahlah! setelah ini kamu harus melupakan kejadian sebelumnya, karena aku akan merubah kesedihanmu menjadi senyum kemenangan. Kita akan balas dendam!" ucap Lidya dengan semangat yang membara.

__ADS_1


Nurul mencoba tersenyum walau hanya terlihat samar, "Sebaiknya kita batalkan saja Lidya, aku_"


"Jadi hanya sampai di sini keberanianmu Nurul?" sela seorang Gadis cantik yang berjalan ke arah mereka. Dia datang ditemani tiga orang lainnya, mereka berpakaian c u k u p s e k s i.


Refleks, mereka menengok ke sumber suara.


"Kalian pasti takut kan?" sambung Chika yang bertindak seperti ketua geng.


"Hmmm, akhirnya datang juga," gumam Lidya dengan seringai liciknya. "Sebenarnya kalianlah yang penakut! Buktinya kalian datang berempat sementara kami hanya berdua." tantang Lidya setelah berdiri dari tempat duduknya.


"Ekh cewek kampung, berani sekali kamu menantang kami." teriak salah satu teman Chika yang berambut pirang.


"Ya, bagaimana kalau kalian maju satu persatu!" ucapnya sambil memasang kuda-kuda.


"Dasar gadis aneh!" umpat gadis yang lainnya.


Lidya menunjuk mereka satu persatu, "Salah satu dari kalian, ayo maju!"


"Maaf dek, kami tidak ingin mengotori tangan kami." cetus gadis yang terakhir dengan tatapan jijik.


"Cih, bilang saja kalau takut."


"Sudah Lidya, sebaiknya kita pergi dari sini!" cegah Nurul sambil merangkul lengan Lidya.


"Sebentar Nurul!"


Chika maju beberapa langkah mendekati Nurul, "Aku rasa semuanya sudah jelas, mulai saat ini jauhi Ari karena bulan depan kami akan bertunangan."


Jdaarrr


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2