Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Rencana


__ADS_3

*Di dalam kelas


Setelah selesai Upacara, seluruh siswa masuk ke kelas masing-masing. Semuanya sibuk dengan urusan masing masing. Ada yang sekedar berbincang bincang dengan teman-temannya, ada juga yang sedang menyalin tugas temannya karena tidak membuat PR. Namun lain halnya dengan mereka bertiga.


"Aku harus bagaimana nih, kalau ketahuan gimana?" tanya Nurul sambil berjalan mondar-mandir di depan kelas.


"Jangan panik Nurul!" ucap Lidya


"Iya iya tapi aku harus gimana?"


"Sebaiknya kamu tenang saja dulu, kalau panik seperti ini, yang ada hanya akan menimbulkan kecurigaan."


Nurul pun duduk di samping lidya "Maksud kamu?" tanya Nurul sambil menatap kepada lidya dan mengangkat kedua keningnya.


"Sebaiknya kamu berusaha setenang mungkin, anggap saja tidak pernah terjadi apa apa."


"Hmmm" jawab Nurul singkat kemudian menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan dan mengulanginya sampai beberapa kali.


"Baiklah aku sudah siap." ucap Nurul dengan penuh keyakinan.


*****


* Ruang Guru


Di ruangan khusus tamu duduklah seorang pria yang begitu tampan dengan wajah datarnya yang nyaris tanpa ekspresi sama sekali, bahkan sebuah senyum pun tak pernah terlukis di wajah itu.


"Assalamu'alaikum Pak" sapa Nurul dan berusaha setenang mungkin.


"Waalaikumussalam, apa kamu ketua OSIS itu?"


"Iya Pak" jawab Nurul dan berusaha untuk tersenyum.


"Kenapa lama sekali?"


"Maaf Pak, saya..."


Belum sempat Nurul menyelesaikan kalimatnya namun Raka segera berdiri dari tempat duduknya kemudian meninggalkan Nurul begitu saja.


"Apa kamu ingin terus berdiri di situ?"


"Ekh... Tidak Pak, maaf" Nurul pun Berjalan mendekati Raka.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nurul


"Hmmm... Di mana ruang Perpustakaan?"


"Apa? Bukankah Dia sudah tahu?"


"Apa mungkin itu hanya orang lain?"


"Akh.... Sebaiknya jangan berpikiran macam macam" gumam Nurul di dalam hatinya.


"Mari Pak, saya antar."


Mereka pun meninggalkan ruang guru dan menuju ke Perpustakaan.


5 menit kemudian mereka sampai di Perpustakaan.


"Silahkan Pak" ucap Nurul sambil membuka pintu Perpustakaan, tak lupa ia menyunggingkan senyum kakunya.


"Hmmm... " ucap Raka singkat kemudian berjalan masuk ke Perpustakaan.


"Kalau tidak ada apa-apa lagi saya permisi dulu, assalamu'alaikum" pamit Nurul agar ia bisa terbebas dari Raka.


Namun baru saja ia membalikkan badannya, suara Raka pun terdengar


"Tunggu sebentar!"


Nurul pun membalikkan badannya "Ada apa Pak?" tanya Nurul mulai merasa gugup.


"Siapa namamu?"


"Ekh... itu.. nama saya Nurul Hidayah."


"Hmmm"


"Sebaiknya aku pergi dari sini, aku tak tahan lagi" bisik Nurul dalam hatinya.


"Permisi Pak" ucap Nurul kemudian berlari kecil agar cepat menjauh dari ruangan itu.


Tak


Tak


Tak

__ADS_1


Tak


Bunyi suara sepatunya yang tidak beraturan karena berjalan dengan tergesa gesa.


"Tenang Nurul, tenang" bisiknya dalam hati kemudian mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya pelan.


"Huft.... Sebaiknya aku langsung masuk ke kelas saja." gumamnya


Disisi lain, ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.


"Hmmm, Sepertinya Dia salah satu dari mereka." kemudian tersenyum smirk.


"Kita lihat saja sampai kapan kalian bisa bersembunyi dariku." batinnya.


* Di kelas


"Bagaimana Nurul?" tanya Lidya


"Aman, untuk sementara."


"Apa ada sesuatu yang mencurigakan."


"Sepertinya tidak ada, hanya saja Dia menanyakan namaku."


"Lalu..."


"Awalnya aku ingin membohonginya tapi jika Dia melihat Pin name yang ada disakuku bisa-bisa Dia mencurigaiku."


"Bagus"


"Tapi.. aku sempat berpikir mengapa harus aku yang menemaninya ke Perpustakaan? dan Dia meminta bantuanku untuk menunjukkan letak Perpustakaan." sambung Nurul


"Bukankah Dia sudah tahu?" ucap lidya


"Iya, awalnya aku sempat heran juga, apa mungkin orang tersebut bukan Dia?"


"Walau bagaimana pun kita harus tetap hati hati." ucap Lidya


"Iya juga sih."


"Sebaiknya kita mendiskusikannya lagi setelah jam istirahat."


"Apa kamu melihat buku Diaryku?" tanya Ani


"Iya... iya..."


****


Flashback Raka


Sebagai hari pertamanya bertugas di sekolah Nurul, Raka sengaja datang lebih cepat agar dapat mengamati keadaan sekitar sekolah.


Ketika ia memasuki Ruang OSIS, ia melihat sebuah nama yang cukup familiar, "Nurul Hidayah". Ya, nama itulah yang menarik perhatiannya.


Kemudian dengan sengaja meminta bantuan kepala sekolah mempertemukan mereka dengan alasan untuk wawancara seputar program OSIS yang berkaitan dengan Perpustakaan.


Dan kecurigaannya terhadap Nurul semakin besar karena melihat Nurul yang sedikit gugup berhadapan dengannya.


Flashback off


*Di Perpustakaan


"Jika memang Dia, kedua sahabatnya pasti akan berjalan bersama-sama ketika istirahat nanti." gumamnya


"Aku pasti akan menemukan kalian dan memberikan hukuman yang pantas untuk kalian. " bisiknya dalam hati.


3 jam kemudian


Bel istirahat pun berbunyi, siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas masing masing dan segera ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah berteriak ingin untuk diisi sesegera mungkin.


Lain halnya deng mereka bertiga. Ya siapa lagi kalau bukan Nurul dan kedua sahabatnya.


"Sebaiknya kita makan di sini saja" usul Nurul


"Benar juga"


"Baiklah"


Satu persatu mengeluarkan tempat makanan mereka dan menyantapnya sampai habis.


"Alhamdulillah, ternyata makan di dalam kelas lumayan juga"


"Iya, hanya saja aku tetap merindukan suasana Perpustakaan yang tenang dan nyaman"


"Aku juga"

__ADS_1


"Mumpung istirahat bagaimana kalau kita masuk ke Perpus aja" usul Nurul


"Sekalian mengambil buku Diarynya Ani" sambung Lidya


"Lets go" ucap keduanya penuh semangat


"Ekh... Tunggu dulu!"


"Ada apa?" tanya Nurul sambil mengernyitkan keningnya.


"Kita bertiga harus masuk satu persatu" usul Lidya


"Oh iya, aku lupa."


"Kalau begitu siapa yang duluan?" tanya Nurul


"Aku saja, setelah 5 menit kemudian kalian berdua menyusul." ucap Lidya


"Ok" sahut keduanya.


Rencana pun berjalan dengan mulus, ketika Lidya memasuki ruang Perpustakaan, tidak ada 1 orang pun di sana, termasuk Pak Raka. Dia berjalan mengendap-ngendap sambil mencari buku Diary Ani.


"Apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba sebuah suara yang sangat familiar itu terdengar ditelinganya.


"Suara ini, bukankah... astaga apa yang harus aku lakukan?" gumamnya pelan.


"Berpikir Lidya, ayo cepat cari ide yang cemerlang untuk lari dari sini lagi." batin Lidya.


"Ekh .. Itu aku sedang mencari bolpointku yang terjatuh tadi." ucapnya asal dan terus membungkuk.


"Tadi?" tanya Raka sambil mengernyitkan keningnya.


"Iya"


"Apa kamu yakin" tanya Raka kemudian berjalan mendekat.


"Sebaiknya aku pergi dari sini sebelum Dia mengenaliku." gumam Lidya pelan. "Jika tidak ada di sini, mungkin saja bolpointku jatuh di tempat lain aku pergi dulu." kemudian melangkahkan kakinya hendak meninggalkan ruangan


"Tunggu sebentar!"


"Ada apa Pak?"


"Kamu cari saja bolpointmu di tempat ini, sekalian bantu aku untuk menjaga ruangan ini sebentar. Aku akan ke kantin"


"Baik Pak, dengan senang hati."


Raka pun meninggalkan ruangan itu.


"Akhirnya. ..... aku akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya." gumamnya di dalam hati.


"Nurul sama Ani kenapa belum datang?"


"Akh... Aku ada ide."


Setelah kepergian Raka, tak lama kemudian Nurul dan Ani memasuki ruangan.


Dorr


"Astagfirullah haladzim" teriak keduanya.


"Lidya kamu jahil bangat sih." celoteh Ani


"He he he, Siapa suruh kalian lama sekali"


"Tadinya kami mau masuk, tapi kami mendengar kalau kamu sedang berbicara deng Pak Raka, jadi kami bersembunyi dan menunggunya keluar dulu."


"Oh...."


"Apa buku Diaryku sudah ketemu?" tanya Ani


.


.


.


Hay Readers


Jangan lupa like dan favoritnya ya...


kasih vote dan koment juga boleh


Karena dukunganmu sangat berarti untukku.


Happy reading Readers

__ADS_1


__ADS_2