Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Akhirnya...


__ADS_3

Bus yang ditumpangi Nurul berhenti di tempat tujuannya, Nurul pun mengikuti teman sebangkunya untuk turun di stasiun kereta api tersebut.


Ia sangat bingung harus bagaimana lagi. Tak lama kemudian rasa lapar mulai menyerangnya, ia pun mendekati seorang anak perempuan yang sedang menjajakan gorengan yang dijunjung di atas kepalanya sambil menggandeng adiknya laki-laki yang berusia sekitar empat tahun.


Ia membeli lima buah gorengan dari gadis tersebut dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.


Awalnya gadis tersebut menolak pemberian dari Nurul, namun Nurul mendesak gadis tersebut. Mau tak mau gadis itu menerima pemberiannya dengan sebuah ucapan syukur dan linangan air mata di wajah lelahnya.


Sementara itu di sisi yang lainnya, Lidya dan Bapak itu, masih belum bisa menemukan jejak dari Nurul.


Mereka sangat cemas, bagaimana reaksi publik jika hal itu tersebar luas, mereka berusaha semaksimal mungkin. Berulang kali mereka memutar rekaman di sekitar tempat kejadian. Namun belum ada petunjuk sama sekali.


Lidya merasa putus asa, kemudian ia teringat dengan mimpi buruknya beberapa malam yang lalu dimana ia melihat Nurul yang hampir di tabrak oleh Kereta Api.


"Kereta api," gumamnya sambil berfikir. "Ya, apakah ada Bus yang tujuannya ke Stasiun Kereta Api?"


"Ada, Bus yang ini." Jawab seorang Bapak yang bertugas menjaga ruang kontrol CCTV sambil menunjuk sebuah Bus.


Merekapun kembali memutar rekaman dan memusatkan perhatian terhadap Bus tersebut.


"Itu sahabatku!" pekik Lidya sambil menunjuk gambar Nurul yang berada di dalam layar.


Merekapun memperbesar gambar untuk melihat gadis cantik yang menggandeng Nurul dan mengarahkannya untuk memasuki Bus tersebut.

__ADS_1


"Apakah dia panitia lomba?" Tanya Lidya kepada Bapak itu.


"Sepertinya bukan!"


"Kalau memang seperti itu, sahabat saya dijebak Pak!" ucapnya dengan penuh amarah.


"Ya, kami akan mengatasi masalah ini, sebaiknya adik menunggu kami di sini!"


"Saya harus ikut dengan Bapak." tolaknya dengan tegas.


"Baiklah."


Merekapun mengendarai dua buah motor untuk menjemput Nurul.


Nurul yang sudah selesai mengisi lambungnya tersebut, akhirnya memutuskan untuk menunggu sejenak sambil berfikir langka apa yang harus ia putuskan selanjutnya.


Tak lama kemudian Lidya dan dua orang Bapak lainnya sampai ke stasiun kereta. Mereka bertiga berpencar untuk mempersingkat waktu.


Setelah tiga puluh menit lamanya mereka melakukan pencarian, akhirnya Lidya menemukan keberadaan dari sahabatnya itu.


Bahagia...


Terharu...

__ADS_1


Dan


Bersyukur.


Itulah perasaan mereka ketika mereka saling pandang dari kejauhan. Lidya pun berlari mendekatinya dan keduanya berpelukan seerat-eratnya.


Tangisan haru pun tak bisa dihindari, cukup lama mereka baru melepaskan pelukan. Setelah itu mereka meminta bantuan kepada Bapak panitia untuk mengantarkan mereka ke hotel B. Dimana guru pembimbing dan ketiga teman yang lainnya sudah menunggu mereka di sana.


Dan terpaksa, rencana Lidya harus ditunda untuk sementara, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.


Setelah sampai di hotel B, mereka meminta agar kejadian yang baru saja terjadi dirahasiakan untuk keamanan bersama.


Ya, mereka tidak ingin diintrogasi lebih lanjut dan memilih untuk mencari tahu identitas dan alasan yang terselubung dari kejadian tersebut.


Di sisi yang lain, pihak panitia merasa sangat bersyukur karena masalah itu tidak berlanjut. Bagaimanapun mereka tidak menginginkan reputasi mereka menjadi buruk di mata publik. Sementara Nurul dan Lidya tidak ingin menjadi 'artis dadakan'.


He-he-he...


Setelah memasuki hotel B, mereka menanyakan nomor kamar yang telah dipesan oleh guru mereka sebelumnya.


Mereka pun menuju ke kamar mereka. Meski hanya kelas ekonomi, namun fasilitas di dalamnya terlihat mewah jika bandingkan dengan penginapan kelas elite di pedesaan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2