
Keesokan harinya...
Ting
Ting
Ting
Bel istirahat pun berbunyi, Lidya bergegas mengemasi buku pelajarannya dan memasukkannya di dalam tas.
"Mau kemana Lidya?" tanya Nurul ketika melihat tingkah Lidya yang sedang terburu-buru.
"Ke Perpus, memangnya ke mana lagi?!!" jawabnya santai
"Hari ini kita nggak bisa ke sana Lid," cegah Ani
"Kenapa?"
"Hari ini kita harus menyiapkan segala keperluan untuk kegiatan besok."
"Tapi pak Raka, Dia pasti sedang menunggu kita." bantah Lidya dengan penuh kekhawatiran.
"Tenang saja, pak Raka sudah tahu kok." jawab Ani santai.
"Aku tahu, kamu pasti sudah kangen sama si Dia," ucap Nurul mendekati Lidya. "Tapi... Urusan kita jauh lebih penting Lidya." sambungnya sambil merangkul lengan Lidya.
"Iya, lagi pula bakal ada kejutan untuk kegiatan besok." cerocos Ani, karena ia sudah tidak sabar untuk memberitahukan kejutan itu.
"Waah kejutan apa?" tanya Lidya penasaran. Saking penasarannya, ia langsung mendesak Ani untuk memberitahukan kejutan itu.
Nurul segera memicingkan matanya ke arah Ani untuk mencegahnya membeberkan sebuah rahasia. "Bukan kejutan lagi kalau dikatakan sekarang. He he he..." kemudian terkekeh kecil.
__ADS_1
"He he he iya ya... Jadi nggak sabar nunggu besok."
"Mending kita makan dulu, setelah itu baru ke ruang OSIS." usul Nurul karena sedari tadi ia menahan lapar.
Setelah selesai makan, mereka bergegas ke ruangan OSIS. Di sana sudah berkumpul beberapa orang lainnya. Dan tentu saja keberadaan Raka di tempat tersebut sudah menjadi pusat perhatian.
Bagaimana tidak, Raka kan hanya sebagai penjaga perpustakaan. Bagaimana mungkin ada hubungannya dengan kegiatan perpisahan sekaligus pelantikan Pengurus OSIS yang baru.
Eit jangan salah, ternyata kegiatan besok disusun dengan menghadirkan sebuah kejutan untuk seluruh siswa, bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui ide tersebut. Yang pastinya si pelopor dari kegiatan itu adalah si killer Raka. Yang disponsori oleh pak Hari selaku pembina OSIS di sekolah mereka.
"Syukurlah kalian sudah datang." ucap pak Hari menyambut kedatangan mereka.
"Ada apa Pak?" tanya Nurul.
"Ini ada naskah puisi yang harus kamu hafalkan untuk kegiatan besok." ucap pak Hari sambil memberikan secarik kertas kepada Nurul.
Dengan penuh tanya di dalam benaknya, Nurul pun mengambil secarik kertas tersebut.
"Untuk kegiatan besok Nurul," jawab pak Hari dengan santainya. "Oh iya, tolong berikan ini juga kepada Rahmat Ali (Ketua OSIS yang baru)." sambungnya
"Lebih lengkapnya kalian tanyakan saja kepada pak Raka."
"Iya Pak, terima kasih."
"Hmmm." jawab pak Hari singkat kemudian pergi meninggalkan mereka yang sedang kebingungan.
Niatnya ingin memberikan kejutan untuk Lidya bahwa pak Raka turut berpartisipasi dalam kegiatan esok hari. Selain sebagai MC, pak Raka juga akan menampilkan layar tancap dalam kegiatan besok.
Namun kenyataaannya, mereka juga terkejut karena ada hal lainnya yang belum mereka ketahui.
Sekilas info ya Readers, menonton layar tancap di desa mereka adalah hal yang sangat luar biasa karena saat itu belum ada sama sekali yang namanya Hand Phone, apalagi internet. bahkan tv pun sangat jarang keberadaannya.
__ADS_1
Mereka pun mendekati Raka yang sedang mengedit beberapa foto dari handicam yang diberikan pak Hari kepadanya untuk disalin kedalam laptopnya.
"Maaf Pak, bolehkah kami menggangu sebentar?" Tanya Nurul dengan hati-hati.
"Hmmm."
"Puisi ini untuk apa ya Pak?"
"Untuk dihafal." jawabnya cuek tanpa menoleh sedikit pun.
"Hanya itu saja Pak?" tanya Nurul dengan kecewa.
"Hmmm."
"Kalau begitu kami permisi dulu Pak, teri_"
"Sebentar Lidya" sela Raka kemudian melihat ke arah Lidya dwngan tatapan yang akrab. "Ada yang harus kamu lakukan," sambungnya sebelum mereka beranjak dari hadapannya.
"Memang sepasang calon kekasih yang sulit untuk di pisahkan." cerocos Ani sambil berbisik di telinga Nurul.
"Husst. Biarkan saja, tugas kita hanya mengawasi mereka." balas Nurul sambil berbisik juga.
"Hmmm."
Sementara itu orang yang sedang mereka bicarakan sedang asyik membahas sebuah proyek. Hi hi hi...
.
.
.
__ADS_1
Kira-kira proyek apa ya....