
"Nurul, Ani. Bukankah kalian mendapat tugas dari pak Hari?" ucap Raka mengingatkan mereka. Lebih tepatnya sih mengusir secara halus, he he he...
"Ekh itu, nanti saja Pak."
"Sekarang Nurul." Desak Raka
"Ta... tapi Pak."
"Tenang saja, Lidya nggak bakal di apa-apain kok." bisik Ani menengahi perdebatan mereka. "Di sini kan banyak orang." sambungnya untuk meyakinkan Nurul.
Semenjak kejadian kemarin di rumah Rendi, Nurul menjadi lebih over pretektif dengan kedekatan antara Lidya dan Raka.
Kemarin saja sepulang dari rumah Lidya, ingin sekali ia menemui Ani untuk mengatakan kecemasannya terhadap Lidya. Hanya saja ia khawatir jika pulang terlalu lama ke rumahnya. Bisa-bisa kedua orang tuanya akan khawatir mencari keberadaannya.
Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan pergi menemui Ani setelah sholat Ashar.
"Hmmm, iya deh." jawabnya ragu-ragu, karena ia yakin sebentar nanti teman-teman yang lain pasti akan diusir juga oleh pak Raka.
Mau tidak mau ia menuruti keinginan dari pak Raka dahulu, setelah itu baru kembali lagi mengajak Lidya untuk melanjutkan pekerjaan di Aula.
"Maaf ya Lid, kami tinggal dulu."
"Iya, kalian tenang saja." jawab Lidya santai sambil mengacungkan jari jempolnya.
Setelah itu mereka keluar dari ruangan tersebut dan mencari Rahmat untuk memberikan naskah puisi yang dititipkan pak Hari tadi.
Tak lama kemudian mereka bertemu dengan Rahmat yang baru saja kembali dari kantin sekolah. kemudian Nurul memberikan naskah puisi tersebut kepadanya.
Sebenarnya puisi itu adalah hasil coretan tangan Raka. Sedari tadi pagi ia sibuk membuatkan puisi tersebut untuk mereka.
Ada pun puisi Nurul seperti di bawah ini 👇👇👇
Wahai sahabatku...
Tiba saatnya daun hijau itu menjadi kering dan gugur di terpa angin
Hari ini mereka bersedih,
Perjuangannya...
Kisahnya...
Seakan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka
Ingatkah kalian sahabatku,
Hari itu kita berjuang bersama untuk tujuan yang sama?
Ingatkah kalian wahai sahabatku,
Hari itu kita tersenyum bersama
Saat kita telah mempersembahkan segala yang terbaik untuk sekolah kita?
Tapi kini...
Semua kenangan itu
__ADS_1
Semua kebersamaan itu
Takkan terulang lagi...
Kita akan berjalan sendiri
Membuka lembaran yang baru
Tetapi satu yang kutau
kita akan bertemu lagi dilain waktu
Hanya satu harapanku *un*tukmu wahai sahabat
Kita yang telah bersama tak boleh jadi asing
Beribu keringat dan kenangan kan ku simpan dengan rapi di dalam ingatan
dan berharap engkau takkan pernah melupakan kenangan indah itu
_____________________________________
Sedangkan puisi Rahmat seperti di bawah ini 👇👇👇
Daun….
Seiring berjalannya waktu engkau memudarkan warnamu
Engkau yang dulunya berwarna hijau dengan indahnya harus berganti warna termakan oleh waktu
Andai aku menjadi angin yang dapat menerbangkanmu bersama dengan pohon terkasih
Tapi aku hanyalah hembusan angin yang tak berdaya yang hanya bisa menerbangkan dan tidak akan bisa membuatmu hidup dan menyatu utuh seperti semula
Satu hal yang perlu diingat bahwa kami tidak akan melupakan jasa dan pengorbananmu selama ini seperti Sang pohon yang tak akan melupakan jasa daunnya
_____________________________________
Sama halnya seperti Nurul, Rahmat menerima secarik kertas pemberian Nurul dengan kebingungan yang sangat jelas di wajahnya.
"Hafalkan saja, itu perintah dari pak Hari." ucap Nurul ketika melihat kebingungan di wajahnya.
Tanpa banyak bertanya lagi, akhirnya Rahmat mengiyakan ucapan Nurul dengan sebuah anggukan samarnya sambil tersenyum kaku.
Ia tidak berani membantah atau pun banyak bertanya karena ini merupakan tugas pertama yang diberikan oleh pak Hari kepadanya, apalagi yang memberikan naskah tersebut adalah kakak seniornya.
Setelah tugas mereka selesai, Nurul dan Ani langsung pamit untuk menemui Lidya kembali. "Kami pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam."
Tak lama kemudian mereka sampai di depan ruang OSIS. "Apa yang kalian lakukan di sini Nurul?" tanya pak Hari yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Ekh, Bapak kok di sini?" Cerocos Ani karena kaget dengan kemunculan pak Hari yang tiba-tiba berada di hadapan mereka.
"Lah, Bapak nanya bukannya dijawab, malah balik nanya." protes pak Hari.
Nurul tak ingin memperpanjang masalah dengan pak Hari. "Maaf Pak, kami hanya ingin mengajak Lidya ke Aula."
__ADS_1
"Lidyanya biar di sini saja untuk bantuin pak Raka," jawab pak Raka dengan santainya. "Kalian berdua ikut Bapak ke Aula." perintahnya dengan nada yang tegas.
"Sekarang Pak?"
"Iya sekarang!!!"
"I... iya Pak."
Dengan terpaksa, mereka mengekori pak Hari ke ruang Aula.
Tak lama semenjak kepergian mereka, masuklah tiga orang siswi dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Mereka berjalan sambil berjinjit-jinjit dan mengawasi keadaan sekitar.
Syuut
Mereka berhasil memasuki ruangan tersebut tanpa diketahui oleh siapa pun, termasuk Lidya dan Raka yang sedang sibuk memilih foto-foto kegiatan yang akan ditampilkan esok hari.
Mereka terlalu fokus dengan proyek tersebut.
Sementara itu, di sisi yang lain. Nurul yang sedang mengkoordinir teman-temannya untuk menata berbagai kelengkapan peralatan untuk kegiatan besok, merasa sangat khawatir. Sampai-sampai menjadikannya kurang fokus dalam tugasnya.
Pak Hari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksi Nurul yang sedang kebingungan ketika menjawab pertanyaan siswa yang tidak mengetahui tata letak ruang kegiatan.
Pak Hari pun mendekati Nurul. "Sebaiknya kamu pulang saja Nurul," ucapnya ketika berada di samping Nurul.
Nurul yang tidak menyadari keberadaan pak Hari sebelumnya tersentak kaget kemudian mendekapkan kedua tangannya di dada. "Astagfirullah haladzim..."
Pak Hari pun tersenyum melihat reaksi Nurul. "Apa kamu sedang sakit Nurul?"
"Ekh... Tidak Pak. saya baik-baik saja kok." jawabnya dengan jujur
"Hanya khawatir dengan nasib Lidya saja Pak." sambungnya di dalam hati.
"Apa pun alasan kamu, sebaiknya kamu pulang saja dulu," ucap pak Hari dengan nada yang lembut membuat hati Nurul cukup tersentuh dengan kebaikan hati pak Hari. Namun... tak lama kemudian perasaan itu terkikis oleh ucapan pak Hari "Dan jangan lupa hafalkan puisi yang Bapak berikan tadi." sambungnya dengan nada yang sangat tegas dan tatapan yang begitu tajam. Membuat Nurul kehilangan nyalinya.
"Iya Pak." ucapnya tanpa bisa membantah lagi. Ia tidak putus asa sampai di situ. "Bolehkah saya mengajak Ani dan Lidya untuk pulang bersama?" Tanyanya hati-hati dan wajah yang sedikit memelas, berharap si Bapak mau berbelas kasih untuk menyetujui permohonannya.
"Tidak boleh." Tolak pak Hari dengan tegas.
Harapannya pun pupus begitu saja. Dengan terpaksa Nurul berpamitan dengan Ani untuk pulang ke rumahnya.
"Baik-baik di jalan Nurul, nggak usah khawatir tentang Lidya." ucap Ani menasehati sahabatnya itu. "Bagaimana pun Dia jago bela diri, pak Raka pasti bisa dikalahkannya." sambung Ani sambil berbisik.
Tak ingin berlama-lama lagi karena si Bapak sedang berdehem untuk memberikan kode kepada mereka bahwa waktu mereka sudah habis. He he he....
Dengan berat hati Nurul mengucapkan salam perpisahan dengan Ani.
Selama dalam perjalanan menuju ke kelasnya untuk mengambil tas sekolah, ia memutar otaknya untuk berfikir keras.
"Aaha..." ucapnya dengan penuh semangat karena sebuah ide telah muncul di dalam fikirannya.
Dengan penuh semangat ia mengayunkan langkahnya menuju ke kelas.
.
.
.
__ADS_1