
"Apa aku semenakutkan itu?"
"Sampai-sampai mereka harus membuat persiapan untuk besok, Gadis-gadis yang aneh "
"Baiklah, aku tunggu kedatangan kalian."
*****
*Di rumah Rendi
"Apa sore ini kita akan menemui Lidya?" tanya Rendi
"Tentu saja" jawab Raka. "Aku penasaran, apa Dia benar-benar akan latihan tinju?" gumamnya di dalam hati.
"Ok." jawab Rendi
Setelah sholat Ashar mereka pun langsung menuju ke rumah Lidya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam" jawab mbok Ina.
Ceklek
Pintu rumah pun terbuka. "Ekh... Nak Rendi, cari siapa ya?" tanya mbok Ina.
"Lidyanya ada Mbok?"
"Oh... Non Lidya lagi di taman belakang, kalian tunggu di teras saja, nanti Mbok panggilin dulu non Lidyanya."
"Iya Mbok"
Rendi dan Raka duduk di kursi yang sudah tersedia di teras rumah Lidya.
Sementara itu di taman belakang, Lidya sedang asyik dengan latihannya. Saat ini tangannya masih terbungkus dengan sarung tinju dan lengkap dengan samsak tinju dihadapannya serta tubuhnya yang penuh dengan keringat.
"Maaf Non, ada tamu di depan yang ingin bertemu dengan Non." ucap mbok Ina.
Mendengar ucapan mbok Ina, Lidya pun menghentikan aktifitasnya. "Siapa yang bertamu sore-sore begini?" gumam Lidya.
"Iya Mbok, tolong bikinin tehnya 2 ya..." pinta Lidya.
"Baik Non."
Akhirnya Lidya segera menuju ke teras rumahnya tanpa melepaskan sarung tinjunya terlebih dahulu.
Iya hanya menyambar handuk kecil untuk mengeringkan keringatnya.
Ceklek
"Rendi, Bapak? Pekik Lidya karena kaget melihat 2 orang yang sedang duduk di teras rumahnya itu.
"Lidya." gumam Rendi sambil menelan salivanya dengan kasar saat melihat penampilan Gadis yang ada dihadapannya.
"Ehem." Raka hanya tersenyum geli melihat penampilan Lidya. "Ternyata Dia benar-benar melakukannya." bisik Raka di dalam hati.
Dengan terpaksa Lidya duduk bersama mereka dan membuka sarung tinjunya terlebih dahulu.
"Ada keperluan apa kalian datang ke rumahku?" tanya Lidya dengan sorot mata yang tajam.
"Ekh ... Itu_" jawab Rendi setengah kaget.
"Kami hanya ingin menemuimu saja." sela Raka dengan santai.
"Untuk apa?" tanya Lidya sambil mengernyitkan dahinya.
"Hanya ingin mengingatkan hukuman kalian."
"Bukankah kami sudah sepakat akan melakukannya besok?!"
__ADS_1
"Dan kunjungan ini bukankah terlalu berlebihan?"
"Apa Bapak sudah lupa dengan sopan santun?"
Raka hanya bisa tersenyum tipis mendengar ocehan Lidya.
"Ternyata Dia sangat berhati-hati." bisik Raka di dalam hatinya.
"Baiklah kami pergi dulu" ucap Raka
"Hmmm" jawab Lidya singkat.
Setelah kepulangan mereka, mbok Ina datang membawa nampan yang berisi 2 cangkir teh.
"Tamunya udah pulang Mbok," ucap Lidya
"Lah ini tehnya gimana Non?"
"Bawa ke dapur aja Mbok!"
"Iya Non."
Sore itu Lidya meneruskan latihannya lagi. Kini amarahnya semakin meningkat karena kedatangan Raka di rumahnya.
Bug
Bug
Bug
Bug
"Emangnya Dia pikir aku takut apa, berani-beraninya datang ke rumahku hanya untuk mengingatkan soal hukuman."
Bug
Bug
Bug
"Huft.. huft... huft..." nafasnya kini mulai tersengal - sengal setelah melampiaskan amarahnya.
Duk
Akhirnya Lidya menjatuhkan tubuhnya di kursi sofa yang berada di taman tersebut.
"Mbok..." panggil Lidya
"Iya Non" jawab mbok Ina setelah berada di samping Lidya.
"Tolong buatin jus ya Mbok."
"Baik Non."
*****
*Di rumah Rendi
*Apa kakak sengaja mencari masalah lagi dengan Lidya?"
"Hmm"
"Akh... Lain kali jangan libatin aku dong,"
"Apa kamu takut dengan Lidya."
"Tentu saja, bagaimana dengan Kakak?"
"Biasa saja." jawab Raka santai.
__ADS_1
"Karena aku sudah mengetahui kelemahannya," gumam Raka di dalam hatinya.
"Terserah Kakak saja, aku nggak akan membantu Kakak lagi." ucap Rendi kemudian meninggalkan Raka sendirian di balkon kamarnya.
"Aku sangat menantikan pertemuan kita selanjutnya Lidya." gumam Raka sambil tersenyum tipis.
Sementara itu di rumah Lidya,
"Assalamu'alaikum.." suara Ayah Lidya terdengar dari luar.
"Waalaikumussalam." jawab mbok Ina.
"Dimana Lidyanya Mbok?"
"Non Lidya ada di taman belakang Tuan."
"Taman belakang?" tanya Ayah Lidya sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya Tuan."
"Hmmm." Ayah Lidya pun langsung menemui Lidya.
"Papa." teriak Lidya setelah melihat Ayahnya berjalan ke arahnya, kemudian mencium punggung tangan ayahnya.
"Apa Papa melewatkan sesuatu?"
"Uummm... Itu, cuma iseng aja Pa.." jawab Lidya sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Anak Papa masih tidak pandai berbohong seperti biasanya." ucap Ayah Lidya sambil mengacak-ngacak rambut Lidya.
"Akh... Papa."
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." ucap ayahnya sambil duduk di kursi kayu yang tersedia di sudut taman.
"Sebenarnya Lidya hanya ingin berlatih untuk menghadapi si Killer Pa." jawab Lidya yang sudah duduk di samping Ayahnya
"Si Killer?"
"Iya Pa, masa cuma mau ngingatin soal hukuman pake datang ke rumah segala.. Anehkan Pa."
"Hmm... Sedikit aneh," jawab Ayahnya, "Mungkinkah si Killer ini adalah orang yang sedang digosipkan warga?" bisik Ayah Lidya di dalam hatinya.
"Memangnya Anak Papa akan dihukum seperti apa sampai-sampai harus berlatih sekeras ini?"
"Hanya merapikan buku di Perpus saja Pa,"
"Lalu apa hubungannya dengan latihan tinju Nak?" tanya Pak Tomo sambil tersenyum tipis.
"Akh... Papa tidak akan mengerti." rajuk Lidya.
"Baiklah, sebaiknya kamu beres-beres, sebentar lagi magrib lho."
"Iya Pa."
.
.
.
Jangan lupa
Like
Vote
Favoritnya Readers
Happy reading...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti.