Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kasmaran


__ADS_3

Sesampainya di rumah, ada dua sosok yang sedang menunggunya di teras.


Ya, mereka adalah adik dan Ayahnya Lidya yang bersiap-siap ke Mesjid untuk melaksanakan sholat Jum'at.


Mereka hanya saling memandang ketika melihat ekspresi Lidya yang sedang tersenyum sumringah dari kejauhan.


"Sepertinya ada yang aneh." gumamnya ketika melihat Lidya yang sedang berjalan sambil meloncat-loncat kecil dengan senyum sumringah yang terlukis dengan sangat jelas di wajahnya.


"Buah dari siapa?" tanyanya ketika mengalihkan pandangannya ke kantong yang sedang dibawa Lidya. Kebetulan kantong kresek tersebut berwarna putih sehingga sangat memungkinkan untuk siapa saja dapat menebak isi di dalamnya.


"Apakah orang yang memberikan buah adalah orang yang membuatnya terus tersenyum seperti ini?"


"Jangan-jangan Lidya sedang kasmaran." tebaknya kemudian.


"Ya, ekspresi ini sangat memungkinkan."


"Apakah orang itu adalah si Killer?"


"Hmmm, sepertinya aku harus turun tangan untuk memastikannya."


"Bagaimana pun ini menyangkut masa depan putriku satu-satunya." gumamnya dengan penuh tekad di dalam hatinya.


Ya, orang itu adalah Ayah Lidya.


Sementara itu di sisi yang lainnya.


"Kenapa hari ini Kakak bartingkah sedikit aneh?"


"Sangat aneh melihatnya tersenyum seperti ini."


"Akh... Buahan-buahan itu sangat menggoda."


"Aku akan mencoba untuk merampasnya, he he he...."


Gumam Adit sambil tersenyum licik ketika memikirkan rencananya.


Syuut


Secepat kilat ia berlari dan menyambar kantong kresek tersebut.

__ADS_1


"Adit..." Teriak Lidya sambil mengejar adiknya itu.


Ayah Lidya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena memang seperti inilah kelakuan dari kedua anaknya ketika mereka bertemu.


Mereka akan bertengkar seperti Tom dan Jerry. Namun... jika mereka sudah bekerja sama, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah sebuah kekacauan yang akan melanda rumah mereka.


Seperti itulah gambaran dari keharmonisan keluarganya. Karena Ayah Lidya memberikan kebebasan kepada mereka selama hal itu tidak mencelakai orang lain. Apalagi mereka sudah kehilangan sosok Ibu sedari kecil.


"Cepat berikan buah itu Dit." ucap Lidya ketika berhasil menarik kaos Adit dari belakang.


Adit hanya menggelengkan kepalanya sambil menjauhkan kantong kresek tersebut dari jangkauan Lidya.


Ayah Lidya segera menghampiri mereka dan langsung mengambil kantong kresek tersebut dari tangan Adit agar pertengkaran keduanya tidak berlanjut karena mereka harus bergegas ke Mesjid.


"Akh... Ayah curang." Rengek Adit.


Lidya hanya menarik ke bawah kelopak matanya untuk mengejek adiknya itu karena merasa puas kali ini ia adalah pemenangnya.


"Siapa yang memberikan buah ini Lidya?" tanya Ayahnya sambil menyerahkan kantong buah kepadanya.


"Dari si_" jawabnya santai setelah mengambil kantong kresek tersebut.


"Si Killer." sela Adit.


"Bukankah selama ini yang mengetahui tentang si Killer hanya aku dan Papa saja?"


"Hmmm, anak ini sepertinya sedang mencari masalah lagi denganku."


Gumamnya sambil melihat ke arah Adiknya yang sudah bersembunyi di belakang Ayahnya.


"Si Killer?" gumam Ayah Lidya sangat pelan."Sepertinya mereka sudah semakin akrab." bisiknya di dalam hati.


Ingin rasanya Ayah Lidya mengorek informasi lebih dalam lagi agar ia mengetahui sudah sejauh mana kedekatan antara Lidya dan orang yang dijuluki si Killer itu.


Tapi, saat ini ia harus mengurungkan niatnya karena sebentar lagi Adzan akan berkumandang.


"Kalau begitu Papa ke Mesjid dulu." ucap Ayahnya sambil menyodorkan tangan kanannya.


"Iya Pa." jawab Lidya kemudian menciumi tangan Ayahnya tersebut dengan lembut.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah menatap punggung Ayahnya yang sudah menjauh, akhirnya ia segara masuk ke dalam rumah untuk merenggangkan seluruh tubuhnya yang terasa sangat lelah.


Bruuk


Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruang keluarga kemudian tersipu sendirian ala orang yang sedang kasmaran sambil memeluk kantong kresek yang berisi buah-buahan.


Seketika rasa penatnya menghilang tergantikan dengan perasaan yang sangat damai seakan-akan berada di tepi sungai yang sangat sejuk dan dikelilingi oleh taman bunga yang beraneka ragam.


Hatchi...


Tiba-tiba ia bersin ketika menghayalkan dikelilingi oleh taman bunga karena ia adalah orang yang alergi terhadap serbuk sari.


"Hmmm.... Kalau gitu Author ganti deh Lid, Gimana kalau taman bunganya diganti dengan taman buah-buahan."


"Setuju." jawab Lidya penuh semangat.


Kini ia kembali ke tempat semula, namun kali ini ia berada di tepi sungai yang sangat sejuk dan dikelilingi oleh taman buah-buahan.


Tanpa sadar saat ini ia sedang mengambil sebuah jeruk yang berada di dalam kantong kresek dan menghirup aromanya dengan sangat dalam.


Mbok Ina yang sedari tadi berada di sampingnyaa hanya tersenyum-senyum sendiri ketika melihat tingkah Lidya.


Ingin rasanya mbok Ina mengagetkan Lidya, tapi tiba-tiba terdengar suara teko siul yang sedang berteriak memanggilnya.


Akhirnya mbok Ina segera ke dapur untuk mematikan kompor. Dan membiarkan Lidya larut dalam lamunannya.


Sebenarnya mbok Ina kaget ketika mendengar suara bersin Lidya tadi, tapi setelah ia mencari sumber suara tersebut, yang ada hanyalah Lidya yang sedang melamun sambil mencium buah jeruk.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian Readers...


Happy reading....


__ADS_2