
"Apa ada sesuatu yang membuat Kakak bahagia?" tanya Rendi setelah menyadari Raka yang sedang menahan tawanya sendiri.
Raka yang awalnya masih ingin tenggelam dalam lamunannya, terpaksa harus menghentikan aksinya. "Hmmm, sepertinya... Aku sudah jatuh cinta Ren." ucapnya sedikit enggan untuk mengakui perasaannya kepada Lidya.
Bukannya terkejut, Rendi justru sudah bisa menebak orang yang dimaksud Raka."Dengan Lidya?"
"Ekh, bagaimana kamu tahu Ren?" tanyanya dengan sedikit terkejut dan menoleh ke arah Rendi.
Rendi hanya duduk santai tanpa menoleh sedikit pun ke arah Raka, ia berusaha menahan rasa laparnya yang sudah di tingkat waspada. Namun ia tidak bisa meninggalkan Raka begitu saja hanya untuk mengisi lambung sendirian.
Akhirnya ia terpaksa menjawab pertanyaan dari Raka agar secepatnya mereka turun bersama untuk makan siang.
"Heehh...," Rendi menghembuskan nafasnya dengan pelan, kemudian bersandar di dinding balkon rumahnya. "Awalnya aku mengira kalau Kakak juga menyukai Nurul, ketika beberapa malam yang lalu Kakak mengajaknya berbicara 4 mata saja. Ta_"
Namun ucapannya langsung disela Raka. "Oh... Pantas saja waktu itu aku merasa ada hal yang aneh dengan kalian."
"Ya, itu wajar saja kan... Yang nggak wajar itu Kakak, bukan kita."
"Iya, iya... Terus kamu tahu dari mana kalau aku suka sama Lidya?" desak Raka karena sudah penasaran.
"Makanya kalau orang ngomong jangan dipotong dulu dong." protes Rendi sambil memajukan bibirnya kesal.
"Hmmm."
Mengabaikan rasa kesalnya, akhirnya Rendi melanjutkan ceritanya. "Aku tahu sejak aku keluar dari dalam mesjid setelah sholat Maghrib kemarin. Awalnya sih hanya ingin menjauh dari mereka." ucapnya kemudian ia mendekat ke samping Raka sambil berbisik. "Tapi di balik itu aku dapat mengetahui sebuah rahasia, he he he..." ucapnya sambil tertawa kecil.
Raka masih belum merespon ucapan Rendi. "Memangnya sejelas itu ya, perasaan aku hanya mencuri lihat kok, nggak mungkin kan Rendi bisa seteliti itu." bisiknya di dalam hati.
Flash back on
Setelah Rendi memutuskan untuk menjauhi Nurul dan Ani agar tidak akan ada lagi hati yang tersakiti, ia sengaja memilih untuk menemani Raka di teras Mesjid sambil menunggu waktu Isya tiba.
Ya, seperti yang Readers ketahui, saat itu kedatangannya disambut sebuah senyuman oleh Raka.
Tak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya ketika itu, karena masing-masing sibuk melihat gadis pujaan hati dari kaca jendela mesjid.
Awalnya Rendi tidak menyadari jika Raka melakukan hal yang sama dengannya. Ia hanya terhanyut dalam rasa rindunya yang sulit dilepaskan begitu saja.
Saat ia hendak berdiri untuk pergi ke toilet, tanpa disengaja ia melihat Raka sedang mencuri lihat ke arah yang sama dengannya dan bergumam.
"Apa aku tidak salah lihat?"
__ADS_1
"Akh, mungkin hanya perasaanku saja."
Tak lama kemudian ia pergi ke toilet.
5 menit kemudian
Saat ia kembali dari toilet, ia bersembunyi di balik dinding Mesjid sambil mengintip ke arah Raka, karena ia ingin memastikan kecurigaannya.
Dan...
Benar saja, Raka bukan hanya sekedar mencuri lihat tapi Raka memandang dengan tatapan yang sangat dimengerti oleh Rendi.
Ya, TATAPAN PENUH CINTAH.
Sambil tersenyum-senyum sendiri, membuat Rendi semakin yakin dengan dugaannya.
"Hmmm, jadi ini alasannya ya..." gumam Rendi setelah puas mengintip Raka.
Flashback off
"Cie... Aku kira hanya aku saja yang mencuri lihat dari jendela mesjid, pantas saja selama ini Kakak betah bangat duduk di teras, ternyata itu toh..." sambung Rendi sambil menyenggol tangan Raka dengan sikunya.
Raka semakin merasa malu. "Akh... Kamu pasti ngarang cerita." ucapnya membantah.
Akhirnya Raka tidak dapat mengelak lagi. "Emangnya sejelas itu ya?" tanyanya kemudian.
"Iyalah, Kakak aja yang belum nyadar." jawab Rendi sambil menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. Lalu ia mendekat lagi, semakin dekat jarak di antara mereka. "Apa Dia sudah bisa mengalihkan dunia Kakak?" ucap Rendi semakin menggoda Kakaknya.
Akhirnya Raka mengakui perasaanya kepada Lidya. "Ya, sepertinya Dia berhasil." ucap Raka sambil mengalihkan pandangannya dari Rendi yang sedari tadi memaksanya untuk segera mengakui tentang perasaan terdalamnya.
"Yeey Rendi berhasil, selamat ya..." ucap Author.
Mendengar pengakuan Raka, membuat Rendi merasa sangat puas dan bangga. Kemudiqn ia melanjutkan ocehannya, "Pantas saja dari tadi Kakak nggak merasa lapar."
"Maksudnya?" bingung Raka
"Orang yang lagi jatuh cinta itu dapat meningkatkan hormon bahagianya, sehingga rasa lapar dapat teratasi ketika orang tersebut sedang mengenang sang calon kekasih." jelas Rendi panjang lebar seperti seorang profesor.
"Apaan sih, teori dari mana Ren," ucap Raka merasa geli dengan ocehan Rendi.
"Itu pengalaman Kak,"
__ADS_1
"Dasar bocah, kayak orang yang sudah pernah makan garam saja."
"Emang udah." bantah Rendi dengan entengnya.
"Terserah," ucap Raka sambil berdiri dari duduknya.
"Ekh, Kakak mau ke mana?"
"Makan."
"Lah, bukannya tadi bilangnya masih kenyang?" protes Rendi karena yang sebenarnya menahan rasa lapar sedari tadi itu ia bukan Raka kan...
"Siapa suruh gangguin orang yang sedang dalam mode bahagia, membuat rasa laparku kambuh saja."
"Kok aku yang disalahin." protes Rendi
"Pikir aja sendiri." jawab Raka dan melangkah pergi meninggalkan Rendi.
"Ekh, tungguin dong."
.
.
.
.
.
Makasih Readers yang udah nungguin dengan sabar kelanjutan ceritanya.
Jangan lupa.
Vote
Like
Koment
Dan hadiahnya ya...
__ADS_1
Happy reading....