Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Hukuman dari Lidya


__ADS_3

"Ma... maaf Pak," ucap Friska tergagap sambil menundukkan pandangannya. Ia tidak mempunyai secuil keberanian pun untuk melirik Raka yang berada tepat di hadapannya itu.


Raka hanya tersenyum miring menanggapi permintaan maaf dari Friska. Ia pun menarik sebuah kursi dan duduk sambil memangku kaki kanannya dengan gayanya yang santai. Tak lupa ia memainkan flash disk di tangan kanannya.


Ia pun melanjutkan proses introgasi.


Kini, gantian Nurul dan Lidya yang menjadi penonton. Mereka masih tetap berdiri di tempat semula.


"Mengapa kamu melakukan hal itu Friska?" Tanya Raka dengan nada yang penuh penekanan.


"Aku... hanya ingin mengerjai Lidya saja Pak." jawabnya ragu-ragu dengan setengah berbisik, berharap Lidya tidak dapat mendengar pengakuannya.


Sayangnya harapan Friska hanyalah sebuah khayalan saja, karena Lidya sudah menduga hal itu sebelumnya. Kini kedua tangan Lidya terkepal menahan amarahnya. Ingin sekali ia menarik jilbab Friska dan menjambak rambutnya.


"Oh... jadi dia punya dendam sama Lidya?" Gumam Raka di dalam hatinya.


"Ada masalah apa diantara kalian?"


"Eumm... Sebenarnya kami tidak ada masalah apa-apa Pak." jawab Friska sambil mencuri lihat ke arah Lidya.


Raka hanya mengernyitkan keningnya mendengar jawaban dari Friska. Ia bingung dengan pernyataan tersebut. "Lalu?" tambahnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.


"Ma... maaf Pak. Jika Bapak ingin menghukum saya, saya siap menjalaninya." Ucapnya mengalihkan pertanyaan dari Raka karena tidak mungkin ia mengakui bahwa selama ini ia merasa iri dengan segala popularitas yang diperoleh Lidya selama ini.


Selain itu, sebaiknya ia mendapat hukuman dari pada harus menanggung malu atas pengakuan yang tidak sepatutnya ia akui di hadapan Lidya saat ini.


Raka merasa geli sendiri melihat kejujuran Friska, ia tidak habis fikir dengan jalan pikiran seorang gadis yang ia hadapi sekarang ini.


Baru saja ia ingin mengatakan hukuman untuk Friska, tiba-tiba Lidya mendekati Friska dan mencengkram kerah kemeja gadis itu dan sebuah tinjunya yang sudah siap di daratkan ke wajah yang sedang ketakutan itu. Ia berusaha untuk menahan amarahnya.


"Mengapa kamu berniat untuk mengerjaiku Friska?" Tanya Lidya dengan menggertakkan gigi gerahamnya menahan amarah.


"Apakah kamu tahu kamu sedang berhadapan dengan siapa, haah?!" tambahnya dengan suara yang lebih tinggi.

__ADS_1


Ia tidak terima jika Raka mengabaikan alasan yang menurutnya sangat penting tersebut dari pada sebuah hukuman yang belum tentu akan membuat Friska menjadi jera dan tidak ingin melakukan hal yang buruk lagi. Entah itu akan menimpanya atau menimpa orang lain seperti sebelum-sebelumnya.


Jujur saja, selama ini ia hanya bersikap acuh jika Friska menjahili teman-teman lain maupun adik kelas yang lain, karena ia berfikiran bahwa hal itu bukan urusannya.


Tapi kali ini, Friska sudah menyinggungnya secara sengaja dan ingin melemparkan kesalahannya kepada orang lain yang tidak bersalah sama sekali.


Tidak bisa di biarkan lagi. Jika terus didiamkan, akan semakin banyak saja korban-korban berikutnya.


Nurul yang sudah kecolongan dengan tugasnya untuk mencegah Lidya akhirnya hanya bisa berharap semoga saja ada keajaiban yang bisa mencegah terjadinya hal yang lebih buruk lagi.


Sementara Raka masih diam tak bereaksi di tempat duduknya, membuat Nurul gemes sendirian. "Harusnya pak Raka melerai mereka kan... Mengapa dia hanya diam saja?" gumam Nurul di dalam hatinya.


"A... aku..." jawabnya Friska terbata karena ketakutan. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Raka sambil memasang wajah yang memelas mengharapkan bantuan dari Raka "Tolong maafkan saya Pak, saya janji tidak akan mengulanginya lagi."


Bugh...


Sebuah tinju telah di daratkan oleh Lidya ke perut Friska. Ia terpaksa mengubah arah serangannya karena sedikit merasa iba dengan ekspresi Friska yang memohon pertolongan kepada Raka.


"Ssshhh" ringis Nurul seakan-akan ia turut merasakan sakit yang di derita Friska.


"Astaga, Gadis ini benar-benar nekat." gumam Raka karena sebelumnya ia mengira jika Lidya hanya menggertak untuk menakut-nakuti Friska saja.


Akhirnya ia berinisiatif untuk melerai pertengkaran dari keduanya, ia pun berdiri dari duduknya kemudian memegang pundak sebelah kanan Lidya. "Sebaiknya kita bicarakan baik-baik Lidya." ucapnya.


Jika dibiarkan begitu saja bisa-bisa hal yang lebih buruk lagi akan terjadi dan ia akan menjadi saksi kunci dari kejadian itu. Ia tidak ingin meninggalkan kesan buruk di tempat magangnya itu.


"Aku sudah membiarkan kelakuannya selama ini Pak, bagaimana mungkin aku harus melepaskannya."


"Biar aku saja yang menanganinya, apa pun alasan kamu, kekerasan bukanlah hal untuk menyelesaikan sebuah permasalahan."


"Tapi Pak."


"Sebaiknya kamu dan Nurul kembali ke Aula! Biarkan aku yang memberikan hukuman padanya."

__ADS_1


Sementara itu Nurul yang masih berada di belakang mereka dapat bernafas lega karena kali ini Raka bisa menghentikan pertengkaran dari keduanya.


Bagaimanapun, mereka masih harus kembali ke Aula untuk melanjutkan acara sampai selesai.


Lain halnya dengan Nurul, Lidya berteriak didalam hatinya karena kali ini ia terpaksa harus menekan amarahnya lagi. Ia pun menghembuskan nafasnya kasar kenudian berbalik arah untuk meninggalkan Friska yang masih membungkuk dengan deraian air mata penyesalannya sekaligus menahan rasa sakit di perutnya.


Puuukkk


Tak lupa ia menepuk bahu Raka dengan kencang untuk menyalurkan sedikit kekesalannya.


"Jangan lepaskan dia." ucapnya sambil menunjuk ke arah Friska.


Dengan berat hati Lidya mengayunkan langkahnya kemudian menggandeng tangan Nurul untuk keluar dari ruang kelas tersebut. Dalam perjalanan kembali ke Aula, tidak lama kemudian mereka bertemu dengan seorang pria. Pria itu adalah sosok yang tak diundang dalam kegiatan hari ini.


Pria itu berusaha menghalangi jalan mereka. Ketika mereka beralih ke arah kanan, pria itu pun melangkahkan kakinya ke kanan untuk menghalangi jalan mereka.


Jika mereka ke kiri, pria itu tetap melakukan hal yang sama, membuat hati Lidya semakin kesal saja. Nurul pun merasa kesal dengan sosok pria yang kini sedang mengerjai mereka.


Akhirnya Lidya mendorong bahu sebelah kiri pria tersebut.


"Hey... Apa yang kamu inginkan?" tanya Lidya sambil berkacak pinggang.


"Ini jalanan umum kan... Siapa saja boleh lewat sini." bentak pria itu berlagak acuh.


"Tapi bukan berarti kamu berhak menghalangi jalan kami." tambah Nurul memperingatkan pria tersebut.


"Ya, siapa kamu sebenarnya? Sepertinya kami tidak pernah melihatmu sebelumnya." sambung Lidya sambil memperhatikan sosok pria tersebut dari atas ke bawah dengan tatapan yang penuh telisik.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2