Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kecelakaan di Perpustakaan bag. 2


__ADS_3

Rendi yang masih mendapat tatapan dari Raka segera mencari alasan untuk membantu Nurul dan Ani.


Akhirnya ia mengabaikan tatapan tersebut kemudian mendekati Nurul yang sedang berjongkok merapikan buku-buku yang berserakan di atas lantai.


"Biar aku saja yang menaruhnya di rak buku." ucap Rendi setelah berjongkok di samping Nurul.


"Ekh... Iya Kak." jawab Nurul sedikit kaget dengan kedatangan Rendi. Kemudian bergeser sedikit untuk menjaga jarak dan melihat ke arah Ani.


"Kamu tidak apa-apa kan?"


Itulah arti dari tatapan Nurul.


Ani hanya menggelengkan kepalanya samar-samar dan bergumam


"Kak Rendi, akhirnya bisa melihatmu dengan jarak yang sedekat ini."


Kerjasama yang terjalin dari hubungan cinta segitiga itu berhasil mencuri perhatian Lidya dan Raka.


Deg


Netra mereka bertemu dan mereka kompak sambil mengernyitkan kening.


"Mereka bekerja sama?"


Itulah arti dari tatapan mereka.


Awalnya Nurul merasa enggan dengan bantuan Rendi, tapi ia tidak bisa menolaknya. Ia tidak punya alasan untuk menolak kebaikan Rendi, hanya saja...


Ia merasa jika kehadirannya menjadi penghalang untuk sahabatnya, ia merasa seperti penghalang di antara keduanya saja.


"Sebaiknya aku mencari alasan untuk keluar dari kecanggungan ini." gumamnya di dalam hati.


"Maaf Ren, An, aku ke toilet dulu ya..." ucap Nurul mencari alasan agar tidak mengganggu kebersamaan mereka.


Ya, lebih tepatnya menggunakan kesempatan yang ada untuk lebih mendekatkan keduanya.


"Dia pasti sengaja." gumam lidya pelan.


"Sepertinya Nurul menjaga jarak dari Rendi." gumam Raka sangat pelan dan tidak mungkin terdengar oleh orang lain karena jaraknya lumayan jauh.


Ani sangat setuju dengan ide Nurul, tapi dia ragu, apakah Rendi akan membantunya sampai selesai tanpa kehadiran Nurul?


Ia hanya mengangguk samar sambil menatap ke arah Nurul.


Setelah mendapat kode dari Ani, Nurul pun keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi?"


Itulah maksud dari tatapan yang kedua kalinya dari Lidya dan Raka.


Tanpa mereka sadari bahwa ini sudah kedua kalinya mereka saling berkomunikasi melalui tatapan.


Di sisi lain, Rendi tak punya alasan untuk menghentikan pekerjaan. Ia hanya bisa merelakan kepergian Nurul dan bekerja sama dengan Ani.


Ani tidak tahu harus bagaimana lagi,


"Apakah aku harus bahagia?"


"Ataukah aku harus mencari alasan untuk tidak melanjutkan pekerjaan?"


"Atau..."


"Aku harus mengunakan kesempatan ini?"


"Ya, itu pasti maksud dari kepergian Nurul. Dia sudah memberikan kesempatan ini dan aku tidak akan menyia-nyiakannya." Gumam Ani dengan penuh keyakinan.


"Berikan buku-buku itu Ani." ucap Rendi yang sudah berdiri di atas kursi plastik.


Ucapan Rendi berhasil menyadarkannya.


Sambil tersenyum manis, Ani memberikan buku-buku tersebut. Namun tak ada respon dari Rendi.


Selama 5 menit mereka bekerja sama. Tak ada perbincangan di antara keduanya.


Rendi hanya fokus dengan pekerjaan tanpa menoleh ke arah Ani walau hanya sekali saja. Ia hanya menyodorkan tangannya dan tetap menatap ke atas rak buku.


Melihat hal itu, Raka dan Lidya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka dengan kompak.


Ani sangat sedih, ia merasa diabaikan begitu saja.


Ketika Rendi akan meletakkan buku yang terakhir, tiba-tiba....


Syuut


Sebuah buku tergelincir dari tangan Rendi dan menimpa kepala Ani.


"Aduh" rintihnya sambil memegang pucuk kepalanya yang sakit.


Rendi pun segera turun dari kursi.


"Kamu tidak apa-apa kan..." tanya Rendi setelah berada di hadapan Ani.

__ADS_1


Ani sangat terkejut tanpa bisa berkata-kata lagi karena ini pertama kalinya ia berhadapan dengan Rendi dengan jarak yang sedekat ini.


Melihat Ani hanya diam membisu, akhirnya Rendi segera meniup dengan pelan pucuk kepalanya.


Blush


Rasa sakit yang ia rasakan saat ini menguap entah ke mana, digantikan dengan gerakan jantungnya yang sedang menari-nari kegirangan di dalam sana.


Ia bisa merasakan kehangatan nafas Rendi itu meski terhalang dengan kain kerudungnya.


"Apa masih sakit? tanya Rendi dengan perasaan enggan. Ia merasa sangat bersalah dengan kecerobohannya.


Ani yang mendapat perlakuan lembut dari Rendi hanya bisa tersipu malu dan menundukkan kepalanya lebih dalam lagi untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah seperti tomat.


Sungguh, ingin rasanya Ani lari dari tempat itu dan mencari lubang semut untuk menjadikan tempat persembunyiannya.


"Maafkan aku Ani?" Ucap Rendi dengan tulus.


Mendengar permintaan maaf dari Rendi, Ani hanya mengangguk karena ia tak mampu lagi untuk sekedar mengangkat kepalanya saja.


Sementara itu disisi yang lain, Raka dan Lidya hanya bisa mengukir sebuah senyuman di wajah mereka masing-masing.


Dari dua pasangan yang berada di dalam perpustakaan itu, tak ada satu pun yang menyadari kehadiran seorang Gadis yang sedang mengamati mereka dari kejauhan sambil tersenyum hangat.


.


.


.


.


.


Hay readers, sebelum lanjut, Author mau nanya nih...


Kalian pilih yang mana


Kecelakaan yang berujung keromantisan ala Raka dan Lidya?


Atau


Kecelakaan yang berujung keromantisan ala Rendi dan Ani?


Tulis aja pilihan kalian di kolom komentar ya...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya Readers...


__ADS_2