Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Mengukir kenangan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, seluruh orang tua siswa peserta ujian berkumpul di Aula sekolah untuk menerima surat hasil dari ujian yang dilaksanakan beberapa Minggu yang lalu. Ya, seperti yang kalian bayangkan, hari itu adalah hari penentuan kelulusan bagi Nurul dan teman-teman seangkatan dengannya.


Suasana yang sangat mendebarkan dan penuh ketegangan menyelimuti ruangan tersebut, tidak ada yang bisa menebak hasil kelulusan saat itu, karena penilaiannya berdasarkan hasil scan dari komputer. Seperti yang kita ketahui bersama, dimana salah satu syaratnya adalah tidak boleh robek atau pun basah karena tidak akan terbaca dan itu artinya peserta akan gugur dengan sendirinya.


Tak lama kemudian kepala sekolah memberikan sambutannya dengan raut wajah yang susah ditebak. Beliau menyampaikan harapan dan motifasi bagi siswa yang mungkin tidak mencapai hasil yang memuaskan nantinya.


Kalimat beliau membuat seluruh siswa menjadi semakin tegang, bahkan ada yang sudah menitikkan air mata karena ia tak sanggup lagi menahan air matanya yang sudah tergenang sedari tadi. Ada juga yang sudah berpelukan dan saling menggenggam tangan sahabatnya. Ada yang saling merangkul, ada pula yang berpura-pura santai meski jantungnya sudah mau copot.


Hmmm, membayangkannya membuat Author teringat masa-masa yang sangat menegangkan itu.


Acara pembagian amplop pun di mulai, yang akan membuka amplop tersebut adalah orang tua siswa sementara para siswa harus menunggu kabar dari orang tua masing-masing.


Sebelum membukanya, kepala sekolah mengumumkan lima orang siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dan hasilnya adalah


Peringkat kelima adalah Friska, ya Friska yang pernah bersinggungan dengan Lidya dan Raka. Semenjak ia memutuskan untuk berubah, ia lebih memfokuskan diri untuk belajar dan belajar, dan hasilnya cukup memuaskan. Ia tersenyum bahagia saat menerima piagam penghargaan dari bapak kepala sekolah.


Sementara yang keempat adalah Sidiq, dia adalah salah satu dari tiga peserta laki-laki yang ikut lomba bersama Nurul dan Lidya di kota B beberapa bulan yang lalu. Dia orangnya pendiam dan jarang terekspos. Banyak yang tidak percaya dengan hasil tersebut, tapi banyak juga yang mengatakan bahwa ia berhasil karena faktor keberuntungan.


Untuk peringkat ketiga adalah si A,

__ADS_1


Untuk peringkat kedua adalah si B,


Dan untuk peringkat pertama seperti yang kalian bayangkan, ya dia adalah Nurul.


Dengan begitu, acara dilanjutkan dengan proses pembukaan Amplop oleh orang tua/ wali siswa.


Bersamaan dengan itu, seluruh siswa berhamburan menemui orang tua masing-masing untuk melihat hasil dari kerja keras mereka selama tiga tahun ini.


Kini ruangan menjadi ramai dengan tangisan, peluk haru, canda tawa, bahkan ada yang sampai meloncat-loncat kegirangan, dan ada juga yang memilih untuk pulang ke rumah dengan wajah yang suram. Karena ada sekitar tujuh orang siswa yang dinyatakan gagal dalam ujian tersebut.


Bahkan dari ketujuh orang itu ada salah satu siswa yang tergolong siswa yang memiliki prestasi, meski hanya dalam kategori sepuluh besar. Tapi sangat disayangkan perjuangannya gagal kali ini, semoga saja ia tidak patah semangat karena memang seperti itulah yang namanya perjuangan.


Di tengah hiruk pikuk keramaian yang terjadi di dalam Aula, Nurul hanya mengamati setiap kejadian dari tempatnya berdiri. Dimana ia akan tersenyum saat melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah teman seperjuangannya dan akan merasa sedih saat ada yang hanya duduk diam membisu saat mendapati kegagalannya.


"Cie ... yang juara pertama kayaknya orang yang paling tenang nih."


"Ekh, bagaimana dengan hasil kalian?"


"Kayaknya aku ..."

__ADS_1


"Kenapa Lid?" Keduanya bertanya serentak.


"Lulus," pekiknya kegirangan, membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka.


Mereka pun berpelukan untuk merayakan keberhasilan mereka. Tak lupa mereka mengabadikan saat-saat bahagia mereka melalui sebuah handphone milik Lidya yang kala itu bermerek Nokia 6600. Karena sudah sekitar lima bulanan desa mereka sudah terjangkau jaringan seluler.


Dan itu artinya mereka akan saling bertukar kabar meski jarak harus memisahkan mereka.


Kebersamaan mereka yang masih beberapa Minggu lagi sebelum keberangkatan keduanya ke kota B untuk melanjutkan sekolah, diisi dengan berbagai wisata bersama seperti pergi ke kebun milik orang tua Nurul, dengan alasan membantu untuk memanen buah-buahan meski sebenarnya mereka bermaksud untuk mencari tempat-tempat indah sebagai latar belakang album foto terbaru mereka.


Sejak memiliki handphone, mereka seperti kecanduan untuk mengambil berbagai macam pose dengan latar belakang yang indah tentunya.


Tak hanya di daerah perkebunan, mereka juga berwisata ke daerah pantai yang hanya berjarak 1500 meter dari tempat tinggal mereka. Ada banyak kelucuan yang terjadi, karena Ani adalah orang yang tidak terbiasa dengan deburan ombak. Ia akan lari ketakutan ketika ombak datang mendekati mereka.


Lidya pun menggendong Ani dari belakang dan menjatuhkannya ke tengah ombak kemudian tertawa terbahak-bahak. Mereka pun saling tarik menarik dan saling dorong di tengah deburan ombak yang tidak terlalu kencang, karena saat itu keadaan air sedang pasang.


Nurul yang hanya bertugas mengabadikan moment tersebut hanya menertawakan mereka dari kejauhan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2