Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kesialan Chika


__ADS_3

Ia pun terus melangkah dengan penuh tanda tanya di wajahnya, tak lama kemudian ia sampai di tempat mereka dimana saat itu semua pesanan mereka sudah selesai disajikan dan hanya menunggu kehadirannya saja untuk memulai acara makan malam mereka yang sangat spesial tersebut.


"Kenapa kamu lama sekali Nurul?" tanya Lidya setelah Nurul menduduki tempat duduknya.


"Ekh itu tadi aku ketemu dengan seseorang." jawabnya sambil menunjuk ke arah belakang.


"Seseorang siapa?" tanya Ari dengan nada yang menandakan bahwa ia merasa cemburu.


"Bukan siapa-siapa kok, hanya seorang ibu-ibu." jawab Nurul sambil tersenyum garing, ia merasa lucu dengan ekspresi Ari yang sedang cemburu dengan pertemuannya dan ibu-ibu tadi.


"Owh...," sambungnya dengan nada yang terdengar berat.


Lidya pun mengangkat suaranya, "Apa makanannya sudah bisa dimakan?" jujur ia sudah kesusahan menahan ilernya saat makanan itu disajikan dihadapan mereka. Benar-benar sangat menggoda.


Apalagi baru kali ini ia melihat makanan yang ukurannya jumbo itu di taburi dengan berbagai toping dan penataan yang sangat menggiurkan. Hmmm, membayangkannya saja membuat Author menelan ludah sendiri. Dan itulah sebabnya Author ngeUp cerita ini dimalam hari agar kalian tidak tergoda disaat sedang menjalankan puasa di siang hari.


Tanpa aba-aba, Raka langsung mengambil sepotong pizza tersebut dan memberikannya kepada Lidya. Ari pun tak mau kalah, ia pun melakukan hal yang sama kepada Nurul. Kini Nurul dan Lidya terdiam kaku melihat spontanitas dari keduanya. Dengan malu-malu mereka pun mengambil makanan tersebut, tak lupa mereka berdoa di dalam hati masing-masing.


Setelah keduanya memasukkan makanan mereka ke dalam mulut, Ari dan Raka hanya memandangi keduanya tanpa menyentuh makanan yang berada di hadapan mereka. Rasanya mereka sudah kenyang melihat keduanya makan dengan serius.


Setelah habis, mereka pun akan mengambilkannya lagi dan akan memberikan minuman ketika mereka membutuhkannya. Begitu seterusnya sampai keduanya bersendawa karena kekenyangan.


Selama mengunyah makanan, mereka hanya bingung dan merasa lucu dengan sikap keduanya. Mereka tak mampu menolak kebaikan dari keduanya karena makanan itu benar-benar lezat.


Tak mampu menghabiskan makanan tersebut, Lidya pun bertanya, "Apa boleh sisa makanan ini dibawa pulang ke hotel B?"

__ADS_1


"Boleh kok," jawab Raka kemudian meminta bantuan pelayan untuk membungkus makanan mereka yang masih tersisa separuh itu untuk di bawa pulang.


Sementara Raka dan Ari hanya menghabiskan minuman mereka saja tanpa menyentuh makanan tersebut walau hanya sedikit pun.


Sementara itu di sisi yang lainnya, mami Elfi yang sudah berada di tempat duduknya bersama kedua orang tua Chika terlihat banyak melamun saat sedang membicarakan rencana pertunangan dari kedua anak mereka.


Chika yang sedang berseri-seri saat itu, mulai curiga dengan perubahan sikap dari mami Elfi. Ia pun pergi ke toilet untuk menyusun sebuah rencana untuk mencari mengawasi mami Elfi agar tidak berbalik arah dari rencana sebelumnya.


Saat ia menuju ke toilet untuk menelpon seseorang yang akan ditugaskan untuk memata-matai mami Elfi, tiba-tiba ia menangkap keberadaan dari pasangan couple yang sedang menyuapi kedua pujaan hati mereka.


Senyuman licik pun terukir di wajahnya. Ia pun menunda rencananya dan memutar arah untuk mengacaukan acara double date tersebut.


Dengan langkah yang terburu-buru namun elegant itu ia pun mendekati mereka, semakin lama jarak mereka semakin dekat.


Lidya yang kebetulan saat itu menangkap sosok Chika yang sedang berjalan ke arah mereka, tiba-tiba tersedak dengan makanannya.


Dan hal itu berhasil membuat ketiganya menengok ke arah yang dimaksud, "Chika?!" ucap ketiganya bersamaan dengan keterkejutan mereka.


Sementara Chika hanya terus melangkah dengan senyum yang sudah merekah di wajah liciknya tersebut.


"Apa mereka sudah pernah bertemu sebelumnya?" gumam Raka di dalam hatinya sambil melihat ke arah Lidya dan Chika secara bergantian.


"Apa yang akan dia lakukan kali ini?" gumam Ari yang sudah bersiap-siap membela Nurul.


"Memangnya dia pikir kami takut kepadanya, kita lihat saja nanti siapa yang akan kalah." geram Lidya di dalam hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya yang tersembunyi di balik meja bundar tersebut.

__ADS_1


Sementara itu Nurul yang sedikit kaget dengan kehadiran Chika di depan matanya itu kesusahan menelan makanan yang berada di dalam mulutnya. Ia berusaha setenang mungkin agar tidak memuntahkan makanan tersebut.


Dengan gaya elegantnya, Chika mendekati Nurul dan memegangi dagunya kasar dan menarik Nurul untuk berdiri.


Lidya, Raka dan Ari menatap Chika dengan tatapan yang penuh amarah sambil menggerakkan gigi mereka.


Baru saja mereka ingin mendekati Chika untuk melerai keduanya, namun tiba-tiba ...


Uwwekk


Nurul pun memuntahkan makanannya ke gaun berwarna pastel bermerek itu, seketika wajah Chika berubah drastis. "Akh ...," pekiknya mendramatisir keadaan, sehingga membuat pengunjung yang berada di sekitar mereka ikut menertawakan kesialannya.


Dan ketiganya tersenyum miring menanggapi kesialan Chika.


Membuat Chika semakin geram saja, ia merasa sudah dipermalukan di tempat umum tersebut.


Syuut, plaak


Ia pun hendak menampar Nurul, namun sayangnya langsung di cegah oleh Ari. Dengan penuh amarah Ari menatapnya dan berkata, "Jaga sikapmu Chika!"


Membuatnya semakin jengkel saja. Ia pun mengedarkan tatapan sadisnya kepada orang-orang yang sedang menertawakannya, namun tatapannya itu tidak berhasil menghentikan tawa mereka.


Ia merasa semakin tersudutkan, dengan enggan ia memutar badannya dan melangkah merajuk ke toilet untuk mencuci pakaiannya tersebut.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2