
"Kami akan menyusul Nurul." jawab Lidya dengan lantang.
"Tidak usah!" cegah Raka dengan nada yang tegas.
"Kenapa?"
"Dia sudah pulang."
"Bagaimana mungkin?" bantah Lidya karena tidak mempercayai ucapan Raka.
Ia sangat mengenal sosok sahabatnya itu. Memang kepribadian Nurul sedikit tertutup tapi Nurul bukanlah orang yang setega itu.
"Ya, tidak mungkin kan kalau Nurul pergi begitu saja tanpa memberitahu kami?"
"Nurul bukan orang yang seperti itu."
"Aku sangat mengenalnya."
Bantah Lidya di dalam hatinya.
"Aku melihatnya tadi." Ucapan Raka berhasil mencuri perhatiannya lagi.
Sebenarnya Raka telah melihat bayangan Nurul di lantai ketika Nurul hendak berpindah ke kursi panjang yang terdapat di depan Perpustakaan.
Namun ia merasa enggan untuk memeriksa lebih lanjut, ia lebih memilih untuk bersikap acuh. Karena memang seperti itulah sifat Raka yang sebenarnya.
Lain halnya jika berhubungan dengan Lidya, hanya Lidyalah yang mampu mencuri perhatiannya.
"Ya, namanya juga jatuh cinta." gumam Author.
"Kami tidak percaya."
"Terserah kalian saja." ucapnya dengan santai sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Lidya tetap bersikeras dengan ucapannya. "Kami akan mencarinya." ucap Lidya kemudian menggandeng tangan Ani dan segera meninggalkan Perpustakaan.
"Dasar Gadis yang keras kepala." rutuknya kepada Lidya ketika mereka sudah cukup jauh dari pandangannya.
Rendi yang sedang melihat interaksi mereka dari kejauhan, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam.
"Mereka seperti Tom dan Jerry saja."
"Keduanya sama-sama keras kepala dan angkuh."
"Hmmm, bukankah ini yang dinamakan lawan yang seimbang?
"Akh... Aku sangat menantikan akhir dari kisah mereka."
Kemudian ia tertawa jahat. "He... he... he..." sambil berkacak pinggang.
Sementara itu di sisi yang lainnya.
Setelah sampai di ujung koridor, mereka memeriksa seluruh toilet namun tidak menemukan keberadaan sahabatnya itu.
"Sepertinya memang benar yang dikatakan si Killer itu."
"Sebaiknya kita kembali ke Perpus saja." usul Ani
"Hmmm."
Dari kejauhan, mereka melihat Rendi dan Raka sedang menunggu mereka di bangku panjang yang terdapat di depan Perpustakaan.
Melihat hal itu, Ani dan Lidya hanya saling menatap dan mengangkat kedua bahu mereka dengan kompak.
"Apa kalian menemukannya?" tanya Rendi setelah jarak mereka cukup dekat.
Mereka hanya menggelengkan kepala.
"Sebaiknya kita pulang saja." ucap Raka
__ADS_1
"Hmmm"
Selama dalam perjalanan pulang, tak ada percakapan lagi. Sama seperti ketika mereka berangkat. Bedanya hanya ketidakhadiran Nurul di antara mereka.
Sambil menunggu mereka sampai di rumah masing-masing, sebaiknya Author menceritakan sejarah tentang pertemuan Ani dan Lidya hingga mereka menjadi sahabat yang sangat akrab sampai sekarang.
Flashback on.
Sekitar 2 tahun lalu, Ani adalah Murid baru pindahan dari kota C. Tepatnya kelas 7.
Sebagai murid baru, ia tidak mempunyai teman akrab, ia adalah Gadis yang sedikit sombong. Maklum pindahan dari kota.
Tak ada yang mau menjadi temannya.
Waktu itu ia sekelas dengan Lidya dan Nurul. Namun mereka baru sebatas kenalan saja. Kebetulan waktu itu tempat duduknya berada di samping Lidya.
Setelah seminggu menjadi Murid baru, tiba-tiba Ani dibully oleh Kakak tingkat kelas 9.
Saat itu ia sangat ketakutan, mereka mengelilinginya dan memalaknya di depan toilet.
Tak ada satu pun siswi yang berani menolongnya.
Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya untuk minta tolong kepada siapa saja yang melewati mereka, tapi mereka sudah mengancamnya untuk tetap tutup mulut.
Jika ia berani berteriak, maka mereka akan menjambak rambutnya.
Ia tidak berdaya dan memberikan separuh uang jajannya, dan dengan harapan setelah itu mereka akan melepaskannya.
Namun yang terjadi hanyalah sebaliknya.
"Berikan semua uang jajanmu!" ucap seorang Gadis yang menjadi kepala geng mereka sambil menarik kemejanya.
"Ta... Tapi...."
"Cepat berikan, kalau ti_"
Sebuah lemparan dari bola voly mengenai kepala Gadis yang sedang menarik kemejanya.
"Lidya." ucap Ani dengan sinar mata yang berbinar dan sebuah senyum kebahagiaan.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini!" ucap Lidya sambil menggulung lengan kemejanya.
Kini rasa takutnya berubah menjadi sebuah keberanian dan ia langsung menepis tangan Gadis yang menjadi kepala geng itu dan berlari ke arah Lidya, kemudian memeluk Lidya dengan erat.
Tangis yang sedari tadi tertahan pecah begitu saja. "Terima kasih Lidya hiks.. hiks.." ucapannya di tengah tangisannya.
"Jika sekali lagi aku melihat kalian mengganggunya lagi, maka jangan salahkan aku jika_"
"Ka.. Kami tidak akan menggangunya lagi."
"Hmmm."
Sejak kejadian itu, Ani selalu mengikuti Lidya dan Nurul.
Dan mereka menjadi sangat akrab sampai sekarang.
Kejadian itu segera dilaporkan Lidya ke pihak sekolah agar tidak akan ada lagi korban berikutnya.
Hal itu juga mempertemukan mereka dengan sosok Rendi.
Kebetulan waktu itu Rendi adalah salah satu PO (Pengurus Osis) yang bertugas di bagian keamanan.
Mulai keesokan harinya, Rendi ditugaskan untuk mengawasi Ani agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Dengan sifat Rendi yang mudah akrab dengan siapa saja, dan seringnya mereka bertemu, telah berhasil menumbuhkan perasaan kagum di hati Ani.
Dari perasaan kagum inilah sampai akhirnya berbuah menjadi Cinta diam-diam.
Hmm... Ani sangat beruntung ya, selain bisa menemukan sahabat yang siap membelanya, juga berhasil menemukan Cinta pertamanya.
__ADS_1
Ya, walaupun hanya menjadi Cinta diam-diam, tapi dapat merasakan indahnya jatuh cinta itu sesuatu yang takkan terlupakan.
BECAUSE FIRST LOVE IS A SWEET MEMORY OF LIVE.
Selama beberapa minggu kebersamaan mereka, juga berhasil menumbuhkan benih-benih cinta di hati Rendi.
Rendi yang sedari awal telah mungagumi Nurul, ditambah dengan kedekatan mereka menjadikan perasaannya berkembang menjadi cinta.
Hal yang sama juga dirasakan Nurul, ia sempat mengagumi sosok Rendi, bagaimana pun dengan sifat Rendi mampu menghadirkan perasaan nyaman di hatinya.
Tapi bukan berarti cinta kan... Hanya sebatas kagum saja kok.
Setiap istirahat, mereka berempat berjalan bersama. Mereka berpisah di depan Perpustakaan karena kaum Hawa akan mengunjungi Basecamp dan kaum Adam dilarang bergabung.
Akhirnya Rendi memutuskan akan menemui mereka setelah makan di kantin.
Jika mereka berempat berkumpul kembali, yang sering terlibat dalam percakapan hanyalah Ani dan Rendi karena Nurul dan Lidya mempunyai kesamaan sifat tertutup jika berhadapan dengan Pria.
Ani yang sudah terbiasa dengan pergaulan di kota C, membuatnya mudah bergaul dengan Rendi. Apalagi Rendi termasuk dalam kriteria Cowok Idamannya.
"Ekh... Kenapa berlanjut ke sejarah cinta segitiga?" Gumam Author
"Akh.. Gara-gara kelamaan ngelantur, jadi ceritanya berlanjut di malam hari deh."
Flash back off.
Malam hari
Setelah melaksanakan sholat Isya di mesjid bersama-sama, mereka pulang sambil bercengkrama seperti biasanya.
"Mengapa kamu pergi begitu saja Nurul? " tanya Lidya dengan tatapan mengintrogasi.
"Ekh... Itu maaf, aku_"
"Assalamualaikum Nurul..." sela Rendi yang sudah berada di belakang mereka.
"Waalaikumussalam." Jawab Nurul sambil menunduk.
"Kok hanya Nurul aja yang disapa, ada kita juga di sini Kak Rendi..." protes Lidya.
Mendengar ocehan Lidya membuat Raka tersenyum samar.
"Oh iya, assalamu'alaikum Lidya, Ani."
"Waalaikumussalam." jawab Ani
"Nah gitu dong."
.
.
.
.
Hmmm ada maksud apa lagi Rendi dan Raka mendekati mereka?
Nantikan jawabannya di bab selanjutnya ya...
Dukung aku dengan memberikan
Vote
Like
Koment dan
Hadiahnya ya...
__ADS_1