
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Nurul di dalam hatinya karena ia sangat terkejut dengan kalimat yang terlontar begitu saja dari mulut Raka.
"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Ani di dalam hatinya karena tidak percaya dengan hal yang sudah ditangkap oleh indra pendengarannya.
"Ternyata si Killer ini baik juga." gumam Lidya di dalam hatinya. Tanpa ia sadari perasaan hangat mulai menjalar di dalam tubuhnya.
Perlahan, Lidya pun mulai merasakan rileks di dalam tubuhnya dan melepaskan tangannya dari genggaman kedua sahabatnya itu.
"Kalian makan saja dulu, setelah itu kalian bisa melanjutkan pekerjaan kembali." sambung Raka karena melihat mereka hanya diam saja.
Ucapan Raka berhasil membuat mereka menyadari bahwa semua yang mereka lihat saat ini adalah sebuah kenyataan. Ya, kenyataan yang tidak pernah terlintas di dalam pikiran mereka.
Dengan perasaan enggan, mereka mengambil roti dan air mineral yang sudah diberikan Raka.
Setelah memastikan ketiganya telah mengambil roti dan air mineral itu, akhirnya Raka menyibukkan dirinya lagi dengan laptop miliknya.
Dengan ekspresi yang penuh tanya dan bingung, mereka pun makan dengan perlahan tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Kini mereka telah menghabiskan roti tersebut tanpa sisa.
Selain rasanya enak, yang terpenting saat ini adalah perut mereka harus segera diisi.
Sesekali Raka mencuri lihat ke arah mereka. Melihat kelakuan mereka, Raka hanya bisa tersenyum dengan samar dan menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi mereka lagi.
Ya, mereka sangat menggemaskan. Itulah yang berada di dalam pikiran Raka saat ini.
"Alhamdulillah..." ucapan itu keluar ketika mereka sudah merasa kekenyangan.
15 menit kemudian
"Apa tugas kalian sudah selesai?" Tanya Raka setelah berada di samping mereka.
Pertanyaan Raka berhasil membuat mereka kaget. "Ekh... Itu, sudah kok." jawab Nurul setengah kaget.
Bagaimana mereka tidak kaget, orang yang mereka kira masih setia dengan laptopnya kini berada di samping mereka tanpa menimbulkan suara sedikit pun sebelumnya.
Lebih tepatnya, muncul tanpa jejak.
"Bagaimana dengan tugasmu Lidya?" kini Raka telah beralih menatap ke arah Lidya. Tatapan tajam yang membuat orang merasa seperti sedang diinterogasi karena melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal.
Lidya hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Bukan karena tatapan dari Raka, tapi karena teringat sosok kecil yang membuatnya meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Kami akan membantumu Lidya." sela Nurul, ia sangat mengerti jika saat ini Lidya masih trauma dengan kemunculan sosok kecil itu.
Akhirnya Lidya hanya mengangguk setelah mendengarkan perkataan dari Nurul.
Kini ia merasa sedikit lega, setidaknya ada kedua sahabatnya yang akan menemani kali ini.
Sedangkan Raka tidak dapat menghalangi niat baik dari Nurul dan Ani, ia hanya ingin pekerjaan ini cepat selesai agar ia dapat mengutarakan keinginannya untuk meminta bantuan dari mereka.
"Kalau begitu, selesaikan sekarang juga!"
"Iya Pak," Jawab Lidya kemudian menarik tangan kedua sahabatnya itu dan berjalan menuju lemari kaca, di mana tempat sosok kecil yang ditakutinya itu bersembunyi.
Melihat kelakuan mereka, Raka memutuskan untuk mengawasi mereka dari belakang.
Kini mereka bertiga berada tepat di depan lemari kaca.
Dihadapan mereka terdapat buku-buku yang berserakan akibat dari ketakutan Lidya terhadap kemunculan sosok kecil yang sangat ditakutinya tadi.
Sambil melihat ke arah tumpukan tersebut, mereka hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati masing-masing.
"Mungkinkah tikus itu sudah keluar dari sini?"
"Ataukah ia masih tetap bersembunyi di dalam tumpukan buku ini?"
"Apakah akan terjadi hal yang sama seperti sebelumnya?"
"Akh.... Apa yang harus aku lakukan?"
Kompak, mereka menghembuskan nafas dengan kasar, seakan-akan ini adalah suatu tanda bahwa mereka sudah siap dengan segala resikonya.
"Kenapa mereka harus setegang ini?"
"Bukankah hanya merapikan tumpukan buku?"
"Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran mereka?"
Berbagai pertanyaan pun muncul di dalam pikirannya karena ia merasa bahwa mereka sangat aneh.
"Ya, sangat aneh." gumam Raka sambil tersenyum kecut.
Setelah berhasil mengumpulkan tekad, mereka akhirnya berjongkok dan mulai mengambil buku satu persatu.
__ADS_1
Sangat hati-hati, itulah sikap mereka ketika mengambil buku yang berserakan itu.
Sekilas terlihat bahwa semua buku itu nemiliki nilai estetika yang sangat tinggi dan harus diperlakukan dengan sangat hati-hati.
Raka semakin mengembangkan senyumnya ketika melihat mereka mengambil buku dengan sangat hati-hati.
Walaupun sebenarnya adalah....
Mereka sangat berhati-hati karena khawatir jika di dalam tumpukan buku itu masih terdapat sosok kecil yang sangat ditakuti Lidya.
Hening dan tenang itulah suasana di dalam Perpustakaan kali ini.
Namun di balik keheningan itu tersimpan rasa takut yang sangat dari seorang Gadis yang bernama Lidya.
Ia hanya terus berusaha untuk menutupi rasa takutnya karena ia tidak ingin hal itu diketahui oleh Raka.
Selain itu, ia tidak sendiri. Ada kedua sahabatnya yang tulus membantunya kali ini.
Sudah setengah dari tumpukan buku itu dirapikan dan ditata di dalam lemari kaca.
Mereka mulai merasa sedikit tenang, sudah sejauh ini tapi belum ada tanda-tanda kemunculan sosok kecil itu.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mempercepat tugas mereka, bagaimana pun mereka tidak ingin berlama-lama di sini. Berharap segera pulang setelah selesai menyusun tumpukan tersebut.
Melihat perubahan sikap mereka, Raka hanya mengernyitkan keningnya. Ia semakin dibuat bingung oleh kelakuan mereka.
Tanpa ia sadari ia telah mengabaikan laptop kesayangannya sedari tadi hanya untuk memperhatikan 3 orang Gadis yang berada dihadapannya.
Tak lama kemudian...
"Akh.... Tikus." pekik Lidya
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya Readers.
__ADS_1
Dukunganmu sangat berarti Readers
Happy reading