Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kita harus menghadapinya


__ADS_3

Malam harinya, Nurul dan kedua sahabatnya hanya melaksanakan sholat di dalam rumah masing-masing.


Awalnya Orang tua mereka merasa sedikit aneh dengan kelakuan mereka, mereka hapal betul kebiasaan dari Anak-anak mereka itu.


Namun sebagai Orang tua, mereka tidak ingin berfikiran yang macam-macam terhadap Anak mereka.


Sementara itu di sisi yang lain, Raka mengajak Rendi untuk menemaninya di Gerbang Mesjid untuk menunggu kedatangan Nurul dan kedua sahabatnya itu.


10 menit kemudian, seluruh Jamaah telah keluar dari halaman Mesjid.


"Mereka masih terus menghindariku." bisik Raka di dalam hatinya.


"Apa kita harus mencari mereka di dalam Mesjid?" tanya Rendi


"Tidak perlu, mungkin mereka tidak datang hari ini."


"Hmmm" jawab Rendi singkat.


"Sebaiknya kita pulang saja."


Raka dan Rendi akhirnya pulang dengan rasa penasaran.


"Ren, apa aku sangat menakutkan? tanya Raka setelah mereka sampai di rumah dan menikmati suasana malam di balkon kamar.


"Ya, sangat menakutkan." jawab Rendi dengan jujur.


"Benarkah?" tanya Raka memastikan


"Tentu saja," ucap Rendi santai tanpa memperhatikan ekspresi Raka yang sudah berubah. "Wajah Kakak memang tidak kalah tampan dariku hanya saja kakak jarang tersenyum." sambung Rendi dengan sangat jujur.


"Dasar bocah, beraninya meledekku." ucap Raka hendak menjewer telinga Rendi.


"Aku hanya manjawab pertanyaan Kakak dengan jujur kan." jawab Rendi sambil mundur beberapa langkah ke belakang.


Mendengar penjelasan Rendi, akhirnya Raka menghentikan niatnya. "Kali ini aku akan memaafkanmu."


Mendengar perkataan Raka, Rendi pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. "Dan 1 hal lagi," ucap Rendi kemudian.


"Apa itu?" tanya Raka dengan tatapan mengintrogasi.

__ADS_1


"Kakak adalah orang yang sering memberi hukuman sehingga membuat orang-orang menjadi sangat waspada."


"Ya, mungkin itu alasan mereka menghindar dariku." gumam Raka di dalam hatinya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mendekati mereka?" tanya Raka karena pikirannya saat ini sedang buntu.


"Mendekati mereka?" ucap Rendi sambil mengerutkan keningnya.


"Hmmm"


"Maksud Kakak mendekati Lidya? tanya Rendi karena ia masih sedikit bingung dengan maksud Raka yang sebenarnya.


"Bukan begitu Ren, aku hanya ingin meminta bantuan mereka agar skripsiku dapat diselesaikan tepat waktu." ucap Raka menjelaskan.


"Apa hubungan dengan mereka?" Rendi pun semakin bingung dengan pernyataan Raka.


Akhirnya Raka hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jujur saja, saat ini ingin rasanya ia menjewer telinga Rendi sampai kemerah-merahan. Namun ia harus menahan keinginannya itu agar Rendi bersedia membantunya kali ini. Ya, selain Rendi, siapa lagi yang bisa diandalkan saat ini.


Dengan sabar Raka menjelaskan maksud dan tujuannya kepada Rendi. "Sudah selama seminggu ini Perpustakaan sangat sunyi, bagaimana aku bisa mengumpulkan meteri untuk skripsi jika hal ini terus berlanjut."


"Oh... Jadi maksud Kakak ingin meminta bantuan Nurul dan sahabatnya untuk mengumpulkan bahan skripsi?" ucap Rendi mulai mengerti arah pembicaraan Pamannya itu.


Dengan perasaan lega Rendi mendengar penjelasan dari Pamannya dan bersedia membantu Pamannya itu.


Awalnya ia berpikir jika saingannya akan bertambah 1 orang lagi, maka peluangnya untuk mendapatkan Nurul semakin berkurang.


"Ya, aku mengerti sekarang." jawab Rendi, "Aku akan membantu Kakak." ucapnya dengan mantap.


"Terima kasih sebelumnya Ren." ucap Raka sambil menepuk punggung Rendi.


"Hmmm"


"Apakah kakak bisa menemui mereka besok?" tanya Rendi


"Kakak tidak bisa memastikannya Ren," ucap Raka, "Terakhir kali Kakak ingin menemui mereka, tapi mereka kabur begitu saja." jawab Raka sambil mengingat kejadian tadi siang.


"Jika sudah seperti itu, hanya ada 1 cara lagi."


"Cara apa Ren?" tanya Raka penuh harap.

__ADS_1


"Kita berdua harus menemui Lidya di rumahnya."


"Baiklah, kapan?


"Besok sore." jawab Rendi.


Kini Raka kembali bersemangat, "Akhirnya ada kesempatan untuk mendekati mereka." gumam Raka di dalam hatinya.


...******...


*Keesokan harinya


Hari ini, tepatnya hari Sabtu, mereka beraktifitas seperti biasa dan pastinya menghindar dari si Killer yang tampan itu.


Setelah makan siang di dalam kelas, mereka pun mulai berdiskusi.


"Lid, apa kamu mempunyai rencana untuk menghindar dari hukuman besok?" tanya Nurul memulai diskusi kali ini.


"Bagaimana kalau kita pura - pura sakit saja?" usul Lidya


"Kayaknya ide kamu kurang bagus Lid," sela Ani. "Nggak mungkin kan kita bertiga sakit berjamaah?" celoteh Ani.


"Iya juga sih, tapi sepertinya tidak ada cara lain lagi," ucap Lidya dengan pasrah.


"Ya udah, kita tidak bisa lari lagi," ucap Nurul, kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Kita harus menghadapinya kali ini." sambung Nurul dengan semangat 45, dan mengangkat tangan kanannya seakan-akan ingin memperlihatkan kekuatan dari otot-otot kecilnya itu.


"Waaw.... Kamu sangat keren Nurul." celoteh Ani karena baru kali ini ia melihat Nurul begitu bersemangat.


"Hmmm" jawab Lidya singkat.


Melihat reaksi Lidya semangat Nurul menurun drastis, "Semangat dong Lid, bagaimana pun kamu adalah orang yang paling berani dari kami." ucap Nurul menyemangati Lidya.


"Baiklah, aku akan berlatih tinju sore nanti," ucap Lidya sambil berdiri dari tempat duduknya. "Buat persiapan menghadapi si Killer itu." sambungnya dengan semangat yang membara.


"Ya, kita pasti bisa menghadapinya." ucap Ani sambil menutupi rasa takutnya itu.


Kini mereka bertiga telah sepakat untuk menghadapi si Killer yang tampan itu secara jantan, ekh.. Salah secara betina. He.. he.. he..


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka dari belakang pintu kelas mereka.

__ADS_1


__ADS_2