Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
L a r i


__ADS_3

Selama beberapa hari kemudian, Nurul dan kedua sahabatnya itu tidak berani ke perpustakaan lagi.


Mereka lebih memilih makan siang di dalam kelas dan beristirahat sejenak di bawah pohon ketapang yang sangat rindang dan terletak tidak jauh dari kelas mereka.


Raka awalnya sudah menduga hal ini akan terjadi, dan berusaha untuk mencari tahu di mana kelas mereka.


Sekitar 10 menit Raka berputar-putar mengelilingi ruang kelas yang ada.


"Itu mereka" gumam Raka ketika melihat Nurul dan kedua sahabatnya sedang duduk di bawah pohon sambil bercanda tawa.


"Jadi, si Gadis angkuh itu bernama Lidya." ucap Raka mengingat percakapannya dengan Rendi kemarin


Ting


Ting


Ting


Bel masuk pun berbunyi. Raka mencari tempat persembunyian agar Nurul dan kedua sahabatnya tidak mengetahui keberadaannya.


Mereka bertiga pun masuk ke ruang kelas, karena sebentar lagi pelajaran akan dilanjutkan.


"Oh... jadi ini ruang kelas kalian." gumam Raka


Setelah itu Raka kembali ke Perpustakaan dan melanjutkan pekerjaannya.


3 jam kemudian, bel tanda pelajaran sudah usai pun berbunyi.


Ting


Ting


Ting


Seluruh siswa berhamburan ke luar kelas, seperti biasa Nurul dan kedua sahabatnya memilih untuk tidak berdesakan dan pulang belakangan.


"Kalian bertiga tunggu sebentar!" terdengar suara seseorang yang mereka hindari beberapa hari ini.


"Apa kalian mendengarnya?" tanya Nurul sambil berbisik.


"Ya, ternyata kalian juga mendengarnya, aku pikir hanya halusinasiku saja." jawab Lidya sambil berbisik.

__ADS_1


"Mungkinkah Dia ada di belakang kita?" bisik Ani


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nurul


"L a r i ...." teriak Lidya sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya itu.


Mau tidak mau Nurul dan Ani pun mengikuti Lidya, berlari dengan sekencang-kencangnya.


"Hmmm.. Ternyata aku terlalu meremahkan keberanian mereka." gumam Raka setelah melihat Lidya menarik tangan kedua sahabatnya itu.


"Huft.. huft... huft.. Sudah aman Lid, berhenti di sini saja." usul Nurul


"Huft.. huft... huft... Lain kali jangan main tarik gitu aja, tanganku sakit nih." celoteh Ani.


"Huh ... Anak manja" ucap Lidya, "Untung saja aku nggak ninggalin kamu dengan si Killer itu." celoteh Lidya.


"Iya, iya"


"Sudah.. sudah... kira-kira kenapa ya si Killer itu nyamperin kita?" tanya Nurul sambil menengahi pertengkaran kedua sahabatnya.


"Iya ya.. bukankah hukuman kita nanti hari Minggu, ini kan hari Kamis." jawab Lidya.


"Mungkinkah Dia merindukan salah satu dari kita." sambung Ani.


"He he he.. Mungkin saja Lid."


"Sudah akh, dari pada mikirin si Killer yang nggak jelas itu mending kita pulang ke rumah dan makan yang banyak." sela Nurul agar perdebatan keduanya tidak berlanjut.


"Hmmm.... Aku juga sudah lapar nih." sambung Ani.


...****...


* Malam hari


Setelah sholat Isya mereka bertiga berjalan beriringan seperti biasa.


"Beberapa hari ini jamaah wanita semakin banyak ya.." ucap Nurul


"Hmmm" jawab Lidya singkat


"Aku juga merasa ada yang aneh sejak kemunculan seseorang yang di samping Rendi itu, jamaah wanita semakin banyak kan..." jawab Ani mengungkapkan kecurigaannya selama ini.

__ADS_1


"Bisa jadi, tapi siapa sebenarnya orang itu?" tanya Lidya


"Ehem... ehem..."


"Kak Rendi" gumam Ani di dalam hatinya. Jujur saja, suara ini adalah suara seseorang yang dirindukannya selama beberapa hari ini.


Refleks mereka melihat ke sumber suara yang berada di samping mereka.


"Si Killer" teriak ketiganya karena sangat terkejut.


"Kalian mau ke mana? ucap Raka sambil menghalangi jalan mereka.


"Ekh... nggak ke mana-mana Pak?" ucap Lidya sambil menahan tangan Nurul dan Ani agar mereka tidak lari dari tempat itu.


"Jadi selama ini yang jalan bersama kak Ari itu si Killer ini..." gumam Ani di dalam hatinya.


"Heehh" Raka pun menghembuskan nafasnya dengan pelan, "Mengapa kalian pergi begitu saja tadi siang?" tanya Raka kemudian.


"Maaf Pak, tadi siang itu kami sangat terkejut." ucap Lidya mencari alasan yang tepat.


"Hmm..." jawab Raka singkat, "Jangan diulangi lagi." sambungnya


"Iya Pak" jawab mereka serentak


"Mengapa Bapak mencari kami tadi siang?" tanya Lidya.


"Aku hanya ingin mengingatkan kalian tentang hukuman kalian."


"Oh... Kalau masalah itu kami sangat mengingatnya." jawab Nurul. "Bagaimana tidak, ini adalah hukuman pertama kami selama kami menjadi siswa di sekolah XXX." ucap Nurul di dalam hatinya.


"Baguslah kalau begitu."


.


.


.


.


Hay Readers...

__ADS_1


Jangan lupa untuk klik favoritnya ya.. Agar kalian langsung mengetahui update terbarunya.


Happy reading...


__ADS_2