
Sementara itu di sisi yang lain, ada seorang Pria tampan yang sedang duduk termenung di balkon kamarnya sambil memegang sebuah buku Diary yang berwarna pink.
Ya, Dia adalah Rendi.
Saat ini ia sedang merenungi segala kesalahannya kepada Ani, ia bingung harus bagaimana lagi?
Apakah ia harus memilih untuk tetap dengan keegoisannya, atau ia harus mencoba untuk membuka hatinya untuk Ani?
"Akh... sungguh pilihan yang sangat sulit." pekiknya sambil mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar.
Hal itu menarik perhatian Raka. Akhirnya Raka mengurungkan niatnya yang ingin turun ke bawah untuk makan malam.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Ren?" tanyanya setelah berada di samping Rendi
Rendi hanya menghela nafasnya dengan kasar. Mencoba untuk mengeluarkan kegundahan hatinya saat ini.
"Aku bingung Kak?" ucapnya pasrah
"Katakanlah."
"Apa yang akan Kakak pilih jika di dihadapkan antara 2 pilihan, mencintai atau dicintai?" ucapnya sambil menoleh ke arah Raka yang sudah duduk di sampingnya.
Mendengar pertanyaan Rendi, Raka hanya tersenyum samar kerena ia sangat mengetahui maksud dari Rendi yang sebenarnya. Ya, siapa lagi kalau bukan memilih antara Nurul atau Ani.
Tidak bisa di pungkiri, saat ini Rendi sedang berada dalam kumbangan lumpur yang siap menghisapnya kapan saja jika ia salah mengambil keputusan sedikit saja.
Dengan segala kebijaksanaan yang dimiliki Raka, akhirnya ia memberikaan sebuah nasehat untuk Rendi.
__ADS_1
"Mencintai itu suatu yang tidak mudah, dibutuhkan pengorbanan, kesabaran dan kegigihan. Apalagi orang yang kita cintai tidak memiliki perasaan yang sama seperti kita."
"Tapi dicintai adalah suatu keistimewaan yang tidak bisa di dapatkan oleh semua orang, namun hal itu terkadang di anggap sepele oleh sebagian orang yang kurang memahaminya. Bahkan ada yang dengan sengaja bersikap pura-pura tidak tahu dan memilih untuk tetap acuh tak acuh."
Perlahan, Rendi mulai mengerti dengan maksud dari Raka. Ya, kalimat itu sangat sesuai dengan keadaannya saat ini yang sedang terjebak dalam lingkaran cinta segitiga. Yang entah siapa yang akan menjadi milik siapa. Tak lama kemudian ia melanjutkan pertanyaannya lagi.
"Ketika seseorang menolak jika ada orang yang mencintainya, apa itu bisa dikatakan egois?"
"Bukan berarti seperti itu Ren, memang yang dinamakan cinta itu terkadang membingungkan."
"Mungkin saja orang itu mempunyai sebuah alasan yang kuat sehingga ia harus menolaknya. Bahkan ada yang harus berpisah meskipun mereka saling mencintai." sambung Raka lagi.
"Intihnya cinta itu ibarat magnet, mereka akan saling tarik menarik, bukan tolak menolak. Sama-sama saling membutuhkan, bukan saling menyakiti."
Rendi berusaha keras untuk mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Raka kepadanya.
Keheningan menyerang mereka beberapa saat ke depan. Tapi, berhasil di usir Rendi dengan sebuah pertanyaan lagi.
Raka terlonjak kaget dengan pertanyaan Rendi, karena pertanyaan ini sudah berada di luar tema pembicaraan dari keduanya. Sebagai Paman yang baik, tidak mungkin ia mengabaikan Rendi yang begitu serius dengan rasa ingin tahunya. Takutnya hal itu memberikan kesan yang tidak baik untuk Rendi. "Bukan seperti itu Ren, belum ketemu seseorang yang bisa mangalihkan duniaku saja." ucapnya santai sambil menatap gugusan bintang yang saling menyapa di kegelapan malam.
"Maksud Kakak?" bingung Rendi karena masih merasa asing dengan arti ungkapan yang dikatakan Raka saat ini.
"Kamu masih sangat muda Ren, suatu saat nanti kamu akan mengerti." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang tersebut.
"Lalu Lidya?"
"Lidya?" tanyanya sedikit kaget. "Akh... Kenapa jantungku berdetak sangat cepat di saat seperti ini?" pekiknya di dalam hati.
__ADS_1
Tanpa ia sadari bahwa hanya dengan sebuah nama saja sudah berhasil mengalihkan dunianya.
"Nah... Gejala seperti ini yang dinamakan lagi kasmaran Kak," ucap Rendi dengan nada seperti sedang menggurui.
"Dasar bocah, sok tahu kamu Ren," ucap Raka sambil menjewer telinga Rendi.
Tok tok tok
"Rendi, Raka kalian sudah makan?" suara Bunda Hani berhasil melerai pertengkaran mereka.
*****
Sementara itu di sisi yang lain, tampaklah seorang gadis yang sedang tidur dengan lelapnya di atas bantal yang sudah basah dengan air matanya.
Tanpa ia sadari ada seorang Wanita yang sedang merasa sedih ketika melihat sisa-sisa air mata yang sudah kering di pipi anak semata wayangnya itu.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan dari Bunda Nak?" ucapnya sambil mengelus lembut rambut anaknya yang sedang terurai itu.
Layaknya seorang ibu, ia bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh anaknya sendiri, karena itulah yang di namakan ikatan batin antara ibu dan Anak.
Ia tidak tega membangunkan anaknya yang sedang tertidur pulas dan membatalkan niatnya untuk mengajak anak semata wayangnya agar segera makan malam bersama Ayah mereka.
.
.
.
__ADS_1
.
Akh... Author ikutan sedih An, sabar ya...