Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kue brownies


__ADS_3

Keesokan harinya...


Seperti hari-hari biasa, semua orang melakukan aktifitas masing - masing, lain halnya dengan Ari yang hanya menghabiskan waktu dengan berbaring sambil menikmati secangkir teh di balkon kamar. Hari itu cuaca sedang mendung seakan-akan melukiskan suasana hatinya saat ini yang penuh dengan kebingungan.



"Ar, aku tinggal dulu ya, assalamu'alaikum" ucap Rendi


"Iya, wa'alaikumussalam"


"Jangan kebanyakan ngelamun, nanti kesambet lho. Ha ha ha... " goda Rendi sebelum keluar dari kamar kemudian menutup pintu kamarnya.


*Sebelum lanjut, Author mau ngenalin dulu siapa sosok Rendi ya..


Rendi adalah siswa SMA kelas 11, ia adalah putra bungsu dari 3 bersaudara. kedua kakaknya sudah menikah dan tinggal di desa tetangga. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Ayah sudah meninggal sejak usia Rendi 10 tahun. Ia adalah sosok anak yang cerdas. Mudah bergaul dan suka bercanda. Ibunya adalah seorang guru sekolah dasar.


****


*Perpustakaan sekolah


"An, jadi kapan kita mau kasih kejutan buat kak Ari ???" tanya Lidya


"Setelah sholat Ashar saja, gimana?"


"Setuju...." ucap Lidya dan Nurul secara bersamaan.


Mereka pun melanjutkan makan siang tanpa berbicara lagi.


*Di rumah Ari


Ari yang sedari tadi hanya duduk berdiam diri di balkon, tanpa ia sadari ada yang mendekat ke arahnya...


"Apa sebaiknya aku ungkapin saja perasaan ini?" gumam Ari.


"Perasaan apa?" tanya Rendi tiba-tiba sehingga niat untuk mengagetkan Ari gagal karena rasa penasarannya.


"Maksud kamu?" tanya Ari kembali untuk mengelabuhi Rendi.


"Ngaku aja deh, jadi seharian kamu mikirin Nurul?"


"Ummm.... Itu_"


"Gini Ar", Rendi pun mulai berbicara serius kemudian duduk di depan Ari. "Kalau kamu sudah yakin dengan perasaan kamu, lebih cepat lebih baik. Tapi apa kamu siap untuk semua resikonya?? Karena akan ada 2 kemungkinan. Yang pertama kamu dan Nurul harus melalui hubungan jarak jauh di mana sebuah kepercayaan sangat dibutuhkan dari kedua belah pihak. Dan yang kedua apa kamu sudah siap kalau kamu ditolak olehnya?"


"Jujur saja Ar, dari dulu sejak kenal dengan Nurul aku langsung jatuh cinta sama dia aku pengen bangat ngungkapin perasaan aku, hanya saja aku belum siap ditolak. Sampai sekarang pun aku belum bisa memberanikan diri untuk jujur sama Dia. Aku takut kalau setelahnya Dia semakin menjaga jarak. Karena setahuku Dia nggak bakalan dekat dengan laki-laki mana pun jika memang tidak ada kepentingan yang mendesak. Di sisi lain aku nggak mau ada yang lebih dulu menjadi pacarnya. Apalagi di zaman sekarang, gadis seperti Nurul susah dicari." kemudian menarik napas perlahan.


"Tapi sebagai sahabat dan saudara yang baik, aku rela kalau kalian jadian. Bisa jadi temannya saja aku sangat bersyukur." sambungnya lagi.


"Makasih Ren, ternyata kamu bisa berpikir secara dewasa juga." ucap Ari sambil menepuk pundak Rendi.


"Hmmm..."


"Setelah mendengar ocehanmu aku jadi lapar Ren, makan yuk." ajak Ari untuk mengalihkan pembicaraan.


Rendi pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


*****


*Sore hari


Nurul, Lidya dan Ani sedang sibuk menghias kue brownies yang akan diberikan kepada Ari. Setelah selesai mereka berpamitan dengan Bunda Anita dan pergi ke rumah Rendi.


5 menit kemudian mereka sampai dirumah Rendi, sebelum masuk tak lupa mereka mengucapkan salam.


"Waalaikumussalam" suara Bunda Hani terdengar dari dalam rumah. "Ekh... Kalian rupanya ayo masuk." ucap Bunda Hani setelah membuka pintu.


"Iya Bun, kak Rendi sama kak Ari nya ada???" tanya Ani


"Ada, kalian duduk saja dulu nanti Bunda panggilin mereka."


"Iya Bunda"

__ADS_1


Dan mereka pun duduk dengan posisi Nurul di tengah.


Tak lama kemudian Rendi dan Ari serta Bunda Hani datang.


"Wah... wah... ada yang lagi kangen nih." canda Rendi setelah jarak mereka cukup dekat.


Bunda Hani langsung mencubit pinggang Rendi. "Kalian jangan dengarin omongannya, Dia orangnya suka jahil apalagi sama cewek."


"Aawww.... Bunda jahat bangat, anak sendiri lho Bunda." sambil mengelus pinggangnya.


Mereka bertiga hanya menahan tawa melihat interaksi antara Rendi dan bunda Hani. Ari pun hanya mengulas sebuah senyuman samar kepada Rendi.


"Ada apa Nurul?" tanya Ari kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Nurul dan kini keduanya hanya berbatasan dengan sebuah meja yang terbuat dari kayu jati.


"Kami bertiga bermaksud memberikan kue ini sebagai rasa terima kasih karena kakak sama kak Rendi udah bantuin kita." jawab Nurul sambil memberikan sekotak kue.


"Waah... jadi ngerepotin nih.." ucap Ari kemudian mengambil kotak kue tersebut.


"Nggak kok. Justru kita senang banget." jawab Nurul sambil tersenyum.


"Bisa dibuka sekarang nggak?" tanya Ari


"Iya, silahkan Kak."


Setelah membuka kotak kue tersebut, Ari menyunggingkan senyumnya. kue itu terlihat sangat sederhana tidak ada yang spesial namun sangat bermakna untuknya.


"Kayaknya enak nih", cerocos Rendi sambil mengambil sepotong kue dengan tangannya.


"Ih.. jorok Ren" gemes Bunda Hani sambil memukul pelan punggung tangan Rendi. "Tunggu sebentar, Bunda ambil piringnya dulu."


"Ok Bunda sayang.... jadi ini nih, rahasia kemarin malam?" tebak Rendi


"Ya... gitu deh" jawab Ani


"Emangnya kalian bisa bikin kue sendiri??" ledek Rendi


"Bisa dong.... kita jamin deh, rasanya pasti lezatoss." ucap Lidya sambil memperlihatkan jari jempol.


Rendi pun mengalah jika sudah berhadapan dengan Lidya. Tak lama kemudian Bunda Hani datang dengan membawa beberapa piring khusus yang digunakan untuk memakan kue.


"Tapi ini kan buat_" tolak Ani dengan enggan


"Udah makan aja, biar lebih lezatos.. He he he..." sela Rendi


"Nggak baik nolak rejeki Nak." sambung Bunda Hani


"Iya bun," Nurul pun mengiyakan walaupun masih merasa enggan, kemudian mengambil piring yang masih berada di tangan Ari dan diikuti Lidya dan Ani


Akhirnya Bunda Hani membagi-bagikan kue kepada mereka.


Sore itu suasana rumah Rendi menjadi ramai dan penuh canda.


"Ekh... iya, kak Ari pulangnya besok lho..." ucap Rendi tiba-tiba.


"Besok ?" tanya Nurul dengan ekspresi sedikit terkejut.


"Kenapa cepat bangat Kak, baru aja seminggu?" tanya Lidya sedikit kecewa.


"Iya, sebenarnya izinnya cuma 3 hari, tapi uum...."


"Oh... iya, maafin kami ya Kak, gara-gara kami Kakak izinnya jadi seminggu." sela Nurul karena merasa bersalah.


"Nggak apa-apa Nurul, kalian nggak salah justru aku yang harus berterima kasih, karena kalian aku bisa_"


"Sudahlah Ar, kalau jodoh pasti akan bertemu lagi," sela Rendi sambil berbisik di telinga Ari.


"Kak Rendi, nggak baik lho, bisik-bisik gitu" sewot Ani


"Eh.. eh... eh... bukannya kemarin mlm kalian rahasia-rahasiaan?" balas Rendi sambil menunjuk ke arah Ani.


"Jadi ceritanya balas dendam nih" sambung Lidya

__ADS_1


"Ha ha ha " seluruh ruangan pun penuh dengan suara tawa mereka....


"Udah mau Maghrib, kami pamit dulu ya.... Bunda ada di mana?" tanya Nurul setelah melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 17.20


"Kayaknya Bunda lagi di dapur, nanti aku bilangin deh."


"Oh... Iya Kak, assalamu'alaikum...."


"Waalaikummussalam"


****


*Keesokan harinya


Pagi itu, Rendi dan Ari masih saja setia dengan berada di kasur empuknya karena hari ini Rendi tidak akan berangkat ke sekolah dan berencana untuk tetap di tempat tidurnya.


Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya.


Tok tok tok


"Rendi, Ari sarapan dulu Nak", teriak Bunda Hani sambil mengetuk pintu.


"Iya Bun, sebentar lagi Arinya belum bangun nih."


"Bangunin aja Ren, tepat jam 08.00 Bisnya akan berangkat."


Refleks kedua netranya melihat ke arah jam weker yang berada di atas meja samping tempat tidurnya.


"Astaga... Sudah jam 07.00" pekiknya pelan


"Iya, iya Bun" kemudian beranjak dari tempat tidurnya


"Ri , Ri, bangun Ri. udah jam 07.00, satu 1 jam lagi Bis akan berangkat" sambil menggoyang - goyangkan tubuh Ari.


"Astagfirullah haladzim.... kenapa baru dibangunin sekarang Ren ???" celotehnya kemudian bergegas ke luar.


"Ekh... Tungguin aku dong..." teriak Rendi sambil menyusul Ari.


"Kalian sudah bangun, sarapan dulu Ar, Ren" ucap bunda Hani sambil mengambil piring.


"Iya Bun, ke belakang dulu ya.." jawab Ari


Setelah mandi mereka sarapan nasi goreng spesial yang sudah disiapkan Bunda Hani.


"Kenapa kalian bangunnya kesiangan?katanya mau jogging." tanya Bunda Hani dengan tatapan menyelidik.


"Ari nih Bun, ngajakin Rendi begadang semalaman di balkon." cerocos Ari sambil menyendok nasi gorengnya.


"Maaf Bun, curhat-curhat gitu, kan malam perpisahan."


"Curhat tentang Cewek ya?"


"Iya Bun, kak Ari naksir sama_" cerocos Ari


"Nggak Bun," bohong Ari sambil menginjak kaki Rendi. "jangan dengarin Dia." sambungnya


"Bunda tau kok, sama Nurul kan?"


Ari pun tersedak karena kaget "Uhuk ... uhuk... uhuk..."


"Tuh kan," sambil menepuk-nepuk punggung Ari. "Bunda itu serba tahu Kak, nggak bisa nyembunyiin sesuatu dari Bunda." ucap Rendi menasehati


.


.


.


.


Jangan lupa like, favorit dan votenya ya....

__ADS_1


Dukunganmu sangat berarti.


Happy reading Readers..


__ADS_2