
Kita kembali ke perpustakaan Readers.
Lidya hanya mampu mengepalkan kedua tangannya mengiringi kepergian kedua sahabatnya itu, ingin sekali ia langsung menyusul mereka tapi kakinya terasa berat meninggalkan ruangan itu. Ia merasa seperti sedang memakai sepatu besi dengan berat 100 kilogram, wkwkwk.
Maaf Lid, Author bercanda kok. He he he.
"Apa kamu ingin mengejar mereka Lidya?" tanya Raka setelah puas menyalurkan rasa gelinya.
Lidya menoleh sekilas ke arah Raka, wajahnya sudah bersemu merah karena terlalu lama menahan amarah. "Eumm... Maaf Pak aku pamit dulu." ucap Lidya dengan enggan karena ia merasa bersalah jika langsung pergi begitu saja. Bagaimana pun Raka sudah mengajarkannya cara untuk menggunakan laptop secara gratis. Hmmm, sebenarnya tidak gratis tapi hal itu sudah berlebihan jika dibandingkan dengan bantuan mereka selama ini.
Sungguh di dalam benaknya, Raka ingin sekali mencubit pipi Lidya yang merah seperti tomat itu. "Sangat menggemaskan." gumam Raka di dalam hatinya.
"Jangan terlalu galak sama mereka Lidya." ucapnya kemudian
Lidya sedikit kaget dengan ucapan Raka dan bergumam di dalam hatinya. "Mengapa Dia bisa bersikap selembut ini?"
"Gadis ini pasti sedang memikirkan sesuatu." gumam Raka ketika melihat Lidya hanya diam saja. "Apa yang kamu pikirkan Lidya?" tanyanya kemudian dengan sedikit menaikkan volume suaranya.
"I... Iya Pak, aku tidak akan terlalu galak." jawab Lidya setelah sadar dari lamunannya dengan memasang senyuman paksa. Siapa sangka di balik senyuman itu ada amarah yang di sembunyikannya. "Awas saja kalian berdua." Geram Lidya di dalam hatinya.
"Hmmm, kalau galak ntar cantiknya ilang." gumam Raka sangat pelan sehingga tidak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.
"Permisi Pak." ucap Lidya
"Hmmm." jawabnya singkat sambil tersenyum samar.
Baru saja Lidya melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba bel tanda masuk pun berbunyi.
Raka semakin melebarkan senyumnya ketika melihat kekecewaan di wajah Lidya karena tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghukum kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
Sementara itu di sisi yang lain.
Ting
Ting
Ting
Bel tanda masuk pun berbunyi bersamaan dengan keberadaan Nurul dan Ani di depan kelas setelah melarikan diri dari Lidya dan Raka.
"Huft... Huft... Untung saja sudah bel masuk," cerocos Ani setelah berada di dalam kelas.
"Iya, untuk sementara kita aman. Huft... Huft..." sambung Nurul yang masih ngos-ngosan karena berlari terlalu kencang.
Tak lama kemudian ruangan kelas menjadi ramai dengan kedatangan siswa-siswi yang lainnya.
Deg
"Bagaimana ini?"
Nurul hanya mengangkat kedua bahunya, karena ia juga bingung bagaimana cara mereka untuk menjelaskan tentang kesalahan yang sudah mereka lakukan kepada sahabat sendiri.
Ya, meskipun hal itu menguntungkan Lidya, tapi caranya saja yang kurang pas.
Dengan wajah yang sadis serta tatapan yang menakutkan terus menghiasi rona wajah Lidya saat itu. Dengan sesekali ia mendengus kesal sambil terus menatap ke arah Nurul dan Ani secara bergantian. Perlahan ia menggulung lengan kemeja panjangnya sampai kesiku. Kemudian melangkah ke depan, langkah yang sangat berat.
Tak...
Tak...
__ADS_1
Tak...
Langkah sepatu Lidya menggema di dalam kelas itu, membuat Nurul dan Ani semakin ketakutan. Bukan hanya mereka saja yang merasakan hal itu. Sepertinya seluruh siswa yang berada di dalam kelas saat itu dapat merasakan kegugupan yang kini melanda kedua sahabatnya itu. Hal itu dapat dipastikan karena seluruh pandangan tertuju padanya dengan sekejap mata.
Semakin lama...
Semakin dekat...
Dan...
Semakin menakutkan.
Aura balas dendam muncul perlahan dan memenuhi ruangan itu. Ani dan Nurul hanya menunduk karena ketakutan akan serangan dari Aura balas dendam tersebut.
Seluruh siswa pun penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka semakin serius mengamati langkah Lidya yang semakin dekat dengan kedua sahabatnya itu.
.
.
.
.
Teng... teng... teng...
Dapatkah kalian menebak kelanjutannya Readers?
Tulis saja jawaban kalian di kolom komentar ya...
__ADS_1
Happy reading....