
"Akh... Tikus." Pekik Lidya kemudian berlari hendak keluar dari ruangan, namun dihalangi Raka karena ia mengira hal itu hanyalah alasan Lidya untuk kabur lagi.
"Kamu mau ke mana Lidya?" tanya Raka sambil memegang bahu Lidya untuk menahannya meninggalkan ruangan itu.
Mau tidak mau Lidya hanya mempunyai satu pilihan lagi, yaitu bersembunyi di belakang Raka.
Ya, itu satu-satunya pilihan bagi Lidya disaat genting seperti ini.
Syuut...
Dengan cepat Lidya bersembunyi di balik punggung Raka.
Kini Lidya menarik baju Raka dan menyembunyikan wajahnya di punggung Raka.
Awalnya Raka sangat kaget dengan kelakuan Lidya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia merasakan tubuh Lidya yang sudah bergetar karena ketakutan.
"Apa yang membuatnya ketakutan seperti ini?" gumam Raka di dalam hati.
Sementara itu di sisi yang lain, Tikus kecil yang berhasil menakuti Lidya hanya mengamati keadaan sekitar tanpa berpindah sedikit pun dari tempatnya, seakan-akan ia sedang kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
Sama halnya dengan Nurul dan Ani yang hanya bisa terperanga melihat adegan yang sangat luar biasa, sampai membuat mereka melupakan niat mereka untuk memukul tikus tersebut dengan buku dan sampai saat ini buku itu masih berada di tangan mereka.
Nurul dan Ani hanya saling bertatapan satu sama lain.
"Cubit pipiku Nurul." pinta Ani
Ciiit
"Aawww... Ternyata aku tidak bermimpi."
Nurul pun hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ani.
Lidya yang masih ketakutan sesekali mencuri lihat untuk memastikan kebaradaan tikus tersebut, "Itu Pak, itu..." ucap Lidya sambil menunjuk ke arah tikus.
Melihat pergerakan dari tangan Lidya, tikus itu akhirnya menghampiri mereka.
"Akh.... Dia ke sini." teriak Lidya sambil memanjat punggung Raka, melingkarkan lengannya di leher Raka dan membenamkan wajahnya di bahu kanan Raka
Dapat dibayangkan, posisi mereka saat ini seperti seorang kakak yang sedang menggedong adiknya karena ketakutan.
Raka semakin kaget saja dengan kelakuan Lidya, ia semakin tidak bisa bergerak lagi.
Deg
Deg
Deg
Kini Raka dapat merasakan detakan jantung Lidya yang bergerak sangat cepat.
.
.
.
"Apakah adegan ini sudah berakhir?" mungkin itulah pertanyaan yang ada di dalam hati kalian kan Readers???
.
.
.
__ADS_1
.
Tenang saja Readers, ceritanya bakal berlanjut kok.
Author hanya mau menceritakan penyebab dari rasa trauma yang dialami Lidya sampai-sampai ia menjadi seseorang yang takut terhadap sosok kecil yang bernama tikus.
Flashback on
Awalnya Lidya adalah seorang Gadis yang sangat manis, saking manisnya membuat Ayah dan Ibunya sangat memanjakan dan over protektif terhadapnya.
Sehingga hal itu menjadikan ia menjadi Gadis sangat rapuh, bermental seperti kerupuk.
Saat itu usianya 9 tahun, ia baru saja duduk di bangku SD. Tepatnya kelas 3 SD di sebuah sekolah dasar yang berada di desa Makmur.
Anak mami, itulah julukan yang disematkan olah teman-teman sekelasnya.
Mereka menjulukinya seperti itu karena Lidya adalah satu-satunya siswi yang harus dijaga oleh Orang tua sampai di dalam kelas.
Namun, pada suatu hari Ibunya pingsan ketika sedang menjaganya di sekolah, saat itu seluruh siswa sedang istirahat.
Ketika Ibunya sedang menyuapi Lidya, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan...
Bruk
Tubuh Ibunya jatuh tepat di hadapan Lidya.
Lidya kecil hanya bisa menangis dan memanggil ibunya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Wanita paruh baya itu, dengan harapan agar Wanita itu membuka mata lalu tersenyum kepadanya.
Namun itu hanya sebuah harapan yang sia-sia.
Tak lama kemudian hal itu diketahui oleh Satpam sekolah yang kebetulan lewat dan mendengar isak tangis Lidya.
kemudian, Satpam tersebut mengangkat tubuh Ibunya untuk dibawa ke ruang UKS agar segera mendapatkan pertolongan pertama.
Mereka menyeretnya dengan paksa dan mendorongnya ke dalam gudang itu.
Karena posisi Perpustakaan dan ruang UKS hanya bersebelahan sehingga memudahkan mereka untuk menjahili Lidya.
Lidya kecil tidak dapat melawan mereka sedikit pun.
Saat di dalam gudang, Lidya sangat ketakutan. Dia berteriak memanggil Ibunya sampai suaranya semakin serak.
Tak lama kemudian muncullah sosok kecil itu, dan menatap ke arah Lidya.
Lidya kecil semakin panik dan berlari ke arah pintu sambil menggedor-gedornya. Berharap agar seseorang dapat mendengarnya, karena kini suaranya sudah parau dan tak mampu lagi untuk berteriak.
Door
Door
Door
Semakin lama, semakin kencang ia menggedor pintu tersebut. Ia bukanlah gadis yang lemah, hanya saja mentalnya kurang kuat saja.
Ia mewarisi tubuh kekar dari Ayahnya. Sebenarnya, dari seluruh siswa di kelas ialah yang memiliki tubuh yang paling tinggi.
Hanya saja mentalnya seperti kerupuk, sehingga sangat mudah untuk dibully oleh teman sekelasnya.
Door
Door
Door
__ADS_1
Kini, ia mengerahkan seluruh kekuatannya karena tikus itu sedang menuju ke arahnya.
"Apakah ada seseorang di dalam gudang itu?" gumam seorang Gadis yang kebetulan masuk untuk mengambil buku di Perpustakaan.
Door
Door
Door
Setelah mendengar suara gedoran pintu yang semakin kuat, akhirnya Gadis itu memberanikan diri untuk mendekati pintu gudang.
Ceklek
Untung saja kunci gudang masih terpasang di pintu tersebut. Sehingga Gadis itu dapat segera membuka pintunya.
Lidya kecil yang sudah sangat ketakutan akhirnya merasa lega dengan kehadiran sosok Gadis penyelamat yang kini berdiri di hadapannya.
Dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan, Lidya kecil mendekati Gadis itu dan memeluknya sangat erat.
Gadis itu membalas pelukan Lidya dengan hangat, seakan-akan ia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Lidya saat ini. Ia pun mengelus punggung Lidya untuk menenangkannya.
Wajahnya yang sudah basah dengan cairan bening itu, kini sudah mulai mengering dan tubuhnya yang penuh dengan keringat ketakutan akhirnya menjadi lebih tenang kembali.
Tak lama kemudian mereka melepas pelukan dan Gadis itu membantu Lidya untuk kembali menemani sang Ibu.
Kini Lidya sudah menjadi lebih tenang.
Gadis itu akhirnya meninggalkan Lidya dan kembali ke Perpustakaan untuk mengambil buku yang menjadi tujuan dari kedatangannya.
10 menit kemudian
Datanglah sosok Pria dengan tubuh yang tinggi dan otot-ototnya yang kekar, lengkap dengan setelan jasnya.
Ya, Pria itu adalah Ayah Lidya.
Datang bersama Wali kelas dan Kepala Sekolah, tak lama kemudian Ibunya sadar dan mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah, Lidya menceritakan semua yang terjadi padanya tanpa terkecuali.
Akhirnya Ayah dan Ibunya sepakat untuk mengajari seni bela diri kepada Lidya agar tidak muda untuk dibully lagi oleh teman sekelasnya.
Keesokan harinya, Lidya dan Ibunya langsung mencari keberadaan Gadis penyelamat itu.
"Di sana Bu, Dia ada di sana." ucap Lidya sambil menunjuk seorang Gadis manis dan berlesung pipi yang sedang tersenyum menatap mereka.
Ya, Gadis penyelamat Lidya kecil adalah Nurul.
Sejak saat itu mereka menjadi teman yang sangat akrab.
.
.
.
.
Happy reading Readers
Nantikan kelanjutan Adengan yang sangat luar biasa di bab berikutnya yach...
Jangan lupa dukungannya agar Author lebih semangat lagi.
__ADS_1
Happy reading Readers....