Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Usaha Nurul


__ADS_3

Berbagai pertanyaan yang diucapkan Nurul terasa begitu menusuk di hatinya. Ia hanya terdiam beberapa saat, tak terasa matanya sudah berkaca-kaca menandakan bahwa jauh di lubuk hatinya ia juga merasakan sakit.


Ya, sakit teramat perih jika ia teringat dengan perkataan yang diucapkan Lidya tadi siang, bahkan segala kenangan indah yang mereka lalui tidak mampu menepis rasa sakit yang dideritanya saat ini.


Memang ia bukanlah siapa-siapa, tapi bukan berarti ia rela ditindas oleh orang lain, terlebih lagi orang itu adalah orang yang mengisi relung hatinya.


Sakit, sangat sakit melebihi semua rasa sakit yang pernah ia rasakan sebelumnya. Sebagai seorang pria, ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak.


Rendi, Nurul dan Ani turut merasakan sakit yang diderita Raka. Sangat tampak jelas di penglihatan mereka ada butiran-butiran bening yang sudah menumpuk di pelupuk matanya, namun mereka masih menunggu reaksi darinya.


Ia tidak ingin larut dalam kepedihan yang ia rasakan saat ini, ia mencoba tetap kuat dan berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.


"Ya, aku sangat mencintainya...," Ucapnya setelah menggerakkan pelupuk matanya dengan cepat agar butiran bening itu tidak semakin menumpuk.


Mereka belum bereaksi apa-apa, mereka masih setia menunggu kalimat selanjutnya.


"Memang benar, dia adalah cinta pertama bagiku, dan orang pertama yang telah menyadarkanku bahwa aku bukan siapa-siapa." sambungnya dengan nada yang menekankan kata 'bukan siapa-siapa'.


"Dan mungkin, bukan siapa-siapa juga di hatinya." Tambahnya dengan bergumam di dalam hatinya.


Ia pun berbalik arah untuk meninggalkan mereka, tapi Nurul langsung menarik ujung baju kokonya. "Maaf Pak, sebelum Bapak pergi, Bapak juga harus mengetahui satu hal." ucap Nurul ketika Raka menghentikan langkahnya.


"Katakan!" Dengan posisi yang masih membelakangi Nurul, ia malu untuk berbalik arah karena ia yakin saat ini bola matanya sudah memerah. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka.


Nurul mengambil nafas dalam-dalam dan berucap. "Bapak juga adalah cinta pertama Lidya."


Jdaarr..


Bagai tersambar petir di malam gelap gulita tiada cahaya hanya gelap di tambah kelam, ku terbangun di dalam tidurku. (Copas dari sebuah lagu yang Author lupa judulnya apa, he-he-he... santai Readers maafkan Author jika telah menguras air mata kalian, karena Author juga hampir meneteskan air mata ketika mengetik naskahnya.)

__ADS_1


Tapi sayangnya keputusannya sudah bulat, ia tidak ingin membatalkan segala rencana yang sudah disiapkannya dengan matang tersebut.


Tidak hanya Raka yang terkejut mendengar pernyataan dari Nurul, Rendi bahkan lebih terkejut lagi. Ia tidak menyangka bahwa gadis setomboy Lidya bisa juga jatuh cinta.


Ia masih terdiam mematung, sementara Raka sudah melangkahkan kakinya menuju ke area parkiran untuk mengendarai motornya.


Nurul dan Ani tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Kemudian mereka berbalik arah dan meninggalkan Rendi sendirian.


Piip


Piip


Piip


Suara klakson terdengar di telinga Rendi, sehingga menyadarkannya kembali.


"Sampai kapan kamu akan terus di situ Rendi?"


"Hmmm, mau ikut nggak?" tanya Raka dengan nada yang cuek.


"Iya, iya."


Mereka pun kembali ke rumah dan melewati Nurul dan Ani yang sedang berjalan pulang ke rumah mereka.


Berat rasanya harus meninggalkan semua kenangan indah yang telah mereka lalui selama dua bulan ini. Namun ia harus tetap tegar menjalani hari untuk mengukir masa depan yang lebih indah.


Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah Rendi. Seperti yang telah diduga sebelumnya, berbagai pertanyaan pun dilontarkan Rendi kepadanya.


Raka hanya memilih untuk mendiamkan berbagai celotehan yang tidak jelas dari Rendi, Karena ia tidak suka mengungkit permasalahan yang terjadi tadi siang di Perpustakaan.

__ADS_1


Rendi sangat kesal dicueki Raka dan memilih untuk melaporkan Raka kepada bundanya. Setelah mendengar penjelasan dari Rendi, binda Hani turut merasa sedih karena baru kali ini, Raka menyukai seorang Gadis. Namun sangat disayangkan semuanya harus berakhir bahkan sebelum ia mengutarakan perasaannya kepada orang yang dicintainya.


Bunda Hani berniat menemui Raka untuk melihat keadaannya, ia sedikit khawatir karena sejak tadi siang Raka belum mengisi lambungnya.


Bunda Hani berusaha untuk membangunkan Raka yang telah menelungkupkan tubuhnya di atas kasur dan menindih kepalanya dengan sebuah bantal. Ya, itu sengaja ia lakukan untuk menghindari berbagai celotehan Rendi.


Bunda Hani berusaha untuk membangunkan Raka dengan menggoyang-goyangkan tubuh Raka pelan, namun tak ada reaksi dari Raka. Ia terus berpura- pura tidur karena ia mengira orang tersebut adalah Rendi.


"Dasar Anak Muda, baru disenggol dikit aja sudah menyerah." Celoteh bunda Hani dengan nada yang mengejek karena bunda Hani sangat mengetahui bahwa saat ini Raka hanya berpura-pura.


Bagaimana mungkin baru jam setengah delapan malam orang yang gila main laptop seperti Raka tertidur, wk-wk-wk. Maaf Raka, Author keceplosan, he-he-he.


Raka langsung tersinggung dengan celotehan Kakaknya itu, ia tidak terima, ia adalah seorang pria yang tegar. "Ekh..., jangan salah Kak, siapa bilang aku menyerah?"


"Nih buktinya, ngurung diri di kamar, nggak makan seharian, kayak anak gadis saja." tambah bunda Hani sambil menyilangkan kedua tangannya untuk memojokkan Raka.


Raka kehabisan akal untuk membela dirinya, karena semua yang diucapkan bunda Hani memang benar, tapi ia tidak terima jika disamakan dengan anak gadis.


"Ini semua karena anak Kakak yang cerewet itu, kalau bukan karena dia pasti aku sudah_"


"Lah, kenapa Paman melemparkan kesalahan kepadaku yang masih polos ini," sela Rendi yang keluar dari tempat persembunyiannya.


Iya, ketika bundanya masuk ke kamar, ia mengintip di balik pintu. Ia sangat penasaran dengan adegan dimana bundanya akan memaksa Raka untuk mengatakan yang sebenarnya.


Ia juga sangat penasaran dengan alasan Raka, karena dengan mudahnya Raka memutuskan untuk kembali ke kota B.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2