
Tak lupa mengucapkan basmallah, akhirnya Lidya menekan tombol on/of. Dan muncullah tampilan layar desktop, kemudian ke langkah-langkah selanjutnya. Lidya melakukannya sangat profesional membuat kedua sahabatnya kagum.
Lalu ia menjalankan kursornya ke Microsoft Office word 2000.
Tak lupa ia menekan tombol capslock agar hasil yang ditampilkan menjadi huruf kapital secara keseluruhan, dan ia mengubah ukuran hurufnya agar menjadi lebih besar.
Ia pun mulai mengetik huruf satu persatu untuk menuliskan nama mereka. Saat mereka mulai mengetik, terjadi kekacauan karena mereka sibuk mencari tata letak huruf yang di susun secara acak di keyboard tersebut.
Dan... Keramaian pun menghiasi ruangan itu karena keseruan mereka.
"Ini Lidya"
"Di sebelah sana"
"Di tengah"
"Di sebelahnya"
"Di bawah"
"Paling sudut"
"Kiri"
"Atasnya lagi"
"Kanan"
Ya, begitulah interaksi mereka.
Raka hanya terkekeh kecil menahan rasa gelinya sambil memperhatikan mereka dari jauh. Dan pastinya, Lidyalah orang yang terutama ia perhatikan. Ketika ia melihat ekspresi Lidya yang sedang tertawa lepas bersama kedua sahabatnya itu ternyata mampu menyihir kedua matanya untuk tetap menatap si pemilik keceriaan tersebut.
Membuat hatinya melantunkan sebuah nyanyian.
Beginikah rasanya...
Bila sedang jatuh cinta...
Hatiku berbunga-bunga...
Setiap kita berjumpa...
Sekali saja tak bertemu...
__ADS_1
Seminggu rasanya bagiku...
Ingin segera bertemu...
Kaulah pengobat rinduku...
Sehingga memancarkan rona bahagia dari wajahnya. Seakan-akan ia bisa merasakan kebahagiaan dari orang yang sedang ia perhatikan sedari tadi itu.
Tanpa ia sadari ada seorang siswa yang sedari tadi mengucapkan salam sambil berdiri mematung di depan pintu Perpustakaan karena takut untuk masuk.
Bagaimana tidak, si penjaganya saja belum membalas salamnya.
Akhirnya siswa itu berdehem untuk menarik perhatian dari Raka.
"Ekhem," ucapnya sedikit meninggi.
Refleks, Raka mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
"Ada apa?" Ucapnya langsung merubah eksperesi wajahnya sedatar mungkin.
"Akh, akhirnya Dia menyadari keberadaanku." gumam orang tersebut sangat pelan agar yang bersangkutan tidak dapat mendengarnya.
"Ekh, wajahnya menjadi sadis lagi." bisiknya di dalam hati ketika menyadari perubahan ekspresi dari Raka yang secepat kilat itu.
"Maaf Pak, apakah saya bisa meminjam buku pelajaran Matematika untuk kelas sembilan?" ucapnya dengan hati-hati.
Bukannya langsung masuk, ia hanya larut dalam lamunannya sendiri karena terlalu penasaran dan bergumam di dalam hatinya.
"Sebenarnya apa yang membuatnya tersenyum seperti tadi?"
"A... Ha, mungkin saja orang-orang yang berada di sudut ruangan itu, karena sedari tadi Dia hanya menoleh ke arah tersebut."
Dengan langkah pelan orang itu menuju ke sebuah rak buku yang berada di tengah ruangan untuk mengintip orang-orang yang telah berhasil mencuri perhatian Raka.
Sementara itu di sisi lain, ketiga sahabat masih belum menyadari jika ada orang lain yang sudah masuk ke dalam Perpustakaan. Mereka tetap sibuk memencet tombol keyboard untuk menuliskan nama panjang mereka secara bergantian, dimana masing-masing akan mendapat giliran untuk mengetikkan namanya sendiri.
"Oh... Jadi mereka,"
"Apa yang mereka lakukan?"
Gumamnya setelah mengambil sebuah buku dari tempatnya agar terdapat celah untuk mengintip orang yang di seberang ruangan.
"Bukankah itu benda yang sering dibawa Pak Raka?"
__ADS_1
"Hah... Mungkinkah Pak Raka meminjamkan benda itu kepada mereka?"
"Ekh... Bagaimana mungkin?"
Gumamnya di dalam hati sambil mengintip dari rak buku tersebut.
Raka yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dari orang itu, akhirnya mengangkat suaranya.
"Apa bukunya sudah ketemu?"
"Ekh, belum Pak."
"Bagaimana bisa ketemu jika kamu tidak mencari buku itu di tempatnya."
Dorr
Bagaikan tersambar petir di siang bolong ketika ia tertangkap basah sedang mengintip.
"Ma... Maaf Pak saya akan mencari buku itu di tempat lain." jawabnya dengan gagap.
Setelah mendengar percakapan mereka, akhirnya ketiga sahabat menyadari bahwa ada orang lain di dalam Perpustakaan selain mereka.
"Siapa yang di sebelah?" Tanya Lidya dengan suara lantangnya sehingga membuat orang itu bergidik ngeri dan langsung menyambar buku Matematika yang berada di rak paling depan. Dengan langkah tergesa-gesa ia langsung meninggalkan ruangan itu.
"Permisi Pak." Ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
Raka hanya menganggukkan kepalanya samar.
Sementara itu, Lidya sempat berniat untuk menyusul orang tersebut karena ia menyadari jika sebelumnya ada orang yang sedang mengintip mereka, namun ia mengira jika hal itu hanya perasaannya saja. Ia baru menyadari kebenarannya setelah mendengar secara jelas bahwa ada seseorang yang sedang berbicara dengan Raka. Tapi ia memilih untuk mengabaikannya saja karena ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang terbatas ini untuk urusan yang tidak terlalu penting baginya.
.
.
.
.
.
Hmmm, siapakah orang itu?
Nantikan jawabannya di bab berikutnya ya...
__ADS_1
Happy Reading
Jangan lupa dukungan kalian Readers....