
Flash back on
Setelah menghabiskan camilannya, pria yang tak diundang tersebut mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Nurul. Namun sayangnya setelah kurang lebih 10 menit ia mengelilingi ruangan tersebut, upayanya belum membuahkan hasil. Ia hanya menemukan si gadis cantik dan imut yang bernama Ani.
Ia ingin mendekati Ani untuk menanyakan keberadaan Nurul, ketika ia duduk di bangku yang berjarak 3 bangku dari tempat duduk Ani, ia merasa bahwa gadis itu sangat menggemaskan.
Bagaimana tidak, saat ini gadis itu sedang fokus menonton film 'Harry Potter' sambil menyuapi camilan ke mulutnya sendiri, seakan-akan gadis itu telah berada di suatu tempat yang hanya dirinya seorang. Gadis itu tidak memperdulikan kehadiran orang-orang yang berada di sekitarnya. Bahkan gadis itu tidak menyadari bahwa saat ini di sekitar mulut dan bibirnya terdapat sisa-sisa makanan.
Tak hanya itu, gadis itu menampilkan berbagai ekspresi seperti ketakutan, tegang, tersenyum dan lainnya.
Ingin rasanya pria itu mendekati Ani dan mencubit pipinya seperti iniπππ
Tanpa sadar pria itu telah menghabiskan 10 menit lagi hanya untuk memandangi Ani sambil tersenyum- senyum sendiri.
Tak lama kemudian datanglah si pemilik kursi yang sebelumnya, kemudian melihat ke arah Ani dan pria itu secara bergantian.
"Kalau sedang jatuh cinta terasa dunia ini hanya milik berdua." gumam si pemilik kursi tersebut, dengan tujuan untuk mengingatkan pria itu bahwa ada orang lain yang sedang memperhatikan mereka.
Tapi sayangnya si pemilik kursi harus menelan kekecewaannya. Ia pun menepuk pelan bahu pria tersebut.
Refleks, pria itu menoleh ke arah si pemilik kursi.
"Kenapa?"
"Maaf Kakak, bolehkah saya duduk kembali di kursi ini?" ucap si pemilik sambil tersenyum ramah.
Pria itu akhirnya berdiri dan mengucapkan, "Oh... maaf, saya permisi."
Setelah pria itu berdiri di samping pemilik kursi, tiba-tiba si pemilik kursi membisikkan sesuatu di telinga pria itu. "Jika memang sudah ketemu yang cocok, langsung di ikat saja, biar nggak di ambil orang. he he he..."
"Ekh... Itu, sepertinya kamu salah sangka." bantah pria itu.
Si pemilik kursi pun lwbih mendekat kepada pria itu, "Jangan mengelak lagi, banyak saksi yang melihatmu sedari tadi memandangi gadis cantik itu." gumamnya sambil melirik ke arah Ani.
"He he he... Kamu bisa saja." balas pria itu sambil terkekeh kecil dan memukul pelan lengan si pemilik kursi.
__ADS_1
"Jangan kelamaan nanti di ambil orang." tambah si pemilik kursi lagi.
Pria itu tidak ingin memperpanjang permasalahan dengan si pemilik kursi. "Iya... iya, makasih sudah dipinjami tempat duduknya." ucapnya untuk menyudahi perbincangan mereka, karena ia ingin segera melanjutkan pencariannya.
"Sama-sama Kak. Apa Kakak siswa pindahan di sekolah ini?"
"Ekh bukan kok." bantah pria itu sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.
"Terus kenapa Kakak bisa berada di sini?"
"Itu karena... Saya adalah adik dari pak Raka." jawab pria itu secara asal agar si pemilik kursi tidak mencurigainya lagi.
"Owh..."
"Ok. Saya permisi dulu."
"Hmmm, ingat pesanku!"
Pria itu hanya mengacungkan jari jempol kanannya untuk mengakhiri perbincangan mereka. Kemudian ia berlalu meninggalkan si pemilik kursi dan memilih untuk keluar dari Aula tersebut.
"Adik pak Raka kok penampilannya culun gitu?" gumam si pemilik kursi setelah kepergian pria tersebut.
Ok. Kita lanjut ya Readers...
"Ya, siapa kamu sebenarnya? Sepertinya kami tidak pernah melihatmu sebelumnya." sambung Lidya sambil memperhatikan sosok pria tersebut dari atas ke bawah dengan tatapan yang penuh telisik.
Nurul pun mempunyai pemikiran yang sama, ia baru pertama kali melihat pria tersebut.
Penampilan pria yang berada di hadapan mereka terlihat culun, pria itu memakai sebuah kemeja yang di masukkan ke dalam celana jeans birunya kemudian mengancingkan seluruh kancing kemejanya sampai ke bagian leher.
Tak lupa pria itu memakai sebuah kacamata baca yang ukurannya lumayan besar. Tatanan rambutnya juga terlihat aneh. Menambah kesan culunnya.
Sebenarnya pria itu ingin menemui Nurul untuk memberikan sebuah kado sebagai ucapan selamat karena telah berhasil menjalankan visi misinya selama menjabat sebagai ketua OSIS.
Jika di pikir-pikir lagi, pria itu bukan siswa yang berada di sekolah yang sama, ia hanya menyamar saja untuk memberikan kado tersebut.
Jika ia memakai identitas aslinya, sudah pasti kado pemberiannya akan di tolak oleh Nurul.
__ADS_1
"Maaf, saya hanya ingin memberikan kado ini kepada Nurul."
"Untuk apa?"
"Sebagai ucapan terima kasih dari adik perempuanku." bohong pria itu.
"Adik perempuan, kenapa ia tidak memberikannya sendiri?"
"Itu karena ia sangat pemalu."
"Terus dimana adik perempuanmu?"
"Ia belum bisa datang hari ini, ia sedang demam."
"Oh... Ya udah sini." ucap Lidya kemudian merampas kado tersebut.
"Tapi itu untuk Nurul,"
"Iya, pergi sana!" usir Lidya dengan ketus.
Nurul hanya tersenyum masam mengiringi kepergian pria tersebut. Ia masih ragu-ragu apakah ia harus menerima kado itu atau tidak.
Di tengah kebingungan, datanglah Ani dan langsung merampas kado di tangan Lidya.
Sebenarnya, sedari tadi Ani mengintip mereka dari balik tembok ketika pria itu hendak memberikan kado kepada Nurul.
Dengan penuh rasa penasaran Ani segera membukanya.
"Wah... Jilbab pink." pekiknya sambil tersenyum sumringah, kemudian ia memeluk jilbab tersebut karena bahannya benar-benar halus. "Jika kamu tidak menginginkannya, aku akan menerima pemberian ini dengan senang hati." ucapnya penuh suka cita dan pandangan mata yang sudah berbinar.
Nurul dan Lidya tak bisa berbuat apa-apa, kemudian meninggalkan Ani yang sedang memeluk dan menciumi jilbab itu, karena jilbab itu benar-benar wangi. Wangi bunga Lily dan itu adalah bunga kesukaannya.
"Aduh salah sasaran." gumam pria itu dari balik tembok.
.
.
__ADS_1
.