Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kesalahpahaman


__ADS_3

Tak ada percakapan diantara mereka, mami Elfi tidak ingin membahas hal tersebut karena keberadaan Raka yang ikut serta bersama keduanya.


"Apakah kamu pergi bersama seorang gadis yang berpenampilan kampu _" tanyanya setelah mereka sampai di rumah kemudian membahas hal tersebut di kamar Ari yang baru saja merentangkan tubuhnya di tas kasur. Saat itu ia lupa mengunci pintu kamarnya, sehingga maminya menerobos masuk begitu saja dan menyerangnya dengan pertanyaan yang sudah ditahannya sedari tadi.


Ari pun langsung bangun dan duduk di samping kasurnya. "Jangan mengejeknya Mami," sela Ari karena ia tidak suka jika Nurul dikatakan sebagai gadis kampungan. Meskipun ia berasal dari kampung, tapi ia justru memiliki sifat dan karakter yang lebih baik daripada gadis-gadis yang berada di perkotaan.


Melihat Ari yang tidak senang dengan kata-katanya tersebut, membuat ia semakin yakin bahwa kejadian yang dikatakan Chika bukanlah karangannya semata. Ia semakin geram, kemudian berkacak pinggang, "Oh ... jadi benar yang dikatakan Chika."


Ari mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti arah pembicaraan mereka, karena yang menjadi korban adalah Nurul bukan Chika. "Apa yang dia katakan sama Mami?"


Ia hanya tersenyum kecut, melihat kebingungan di wajah Ari yang menurutnya hanyalah akting saja untuk membela gadis itu. "Gadis itu sengaja memuntahkan makanannya ke gaun Chika kan?!" Dengan suara yang sangat jelas dan menekankan kata 'gadis itu', seakan ada nada kebencian di dalamnya.


Ari pun berdiri dari duduknya, ada kesalah pahaman yang harus ia luruskan. "Itu tidak benar Mami, Chikalah yang mencari masalah duluan," ucapnya membela Nurul.


Ia tidak langsung mempercayai perkataan Ari begitu saja, "Jangan membela gadis itu Ar, dan satu hal lagi yang harus kamu ingat baik-baik, pertunangan kalian akan di percepat bulan depan."


"Apa?!"


Setelah itu mami Elfi melangkah keluar dari kamar Ari dan meninggalkan anaknya yang tidak habis pikir dengan keputusan yang dibuat oleh maminya sendiri.


Ia yang baru saja melewati malam yang indah bersama Nurul kini harus merasa tertekan dengan keputusan maminya.

__ADS_1


Ia pun menghempaskan tubuh lelahnya di atas kasurnya yang berukuran king size itu.


Tanpa ia sadari ada seseorang yang menguping pembicaraan dari keduanya. Ya, orang itu adalah Raka. Kebetulan waktu itu Raka sedang berada di dalam kamar mandi.


Sementara itu di sisi yang lainnya, Nurul dan Lidya merebahkan tubuh lelah mereka setelah membagikan sisa makanan mereka kepada ketiga teman sekolah yang berada di kamar yang tidak jauh dari kamar mereka.


"Bagaimana perasaanmu Lidya?"


"Sangat bahagia, tapi ada sesuatu yang membuatku bingung sendiri."


"Maksudnya?"


"Sikap pak Raka, sering kali berubah tanpa alasan yang jelas."


Lidya pun memiringkan tubuhnya ke arah Nurul dan menopang kepalanya dengan tangan kanannya, "Iya, tapi aku sendiri juga bingung, waktu di mobil saja dia langsung berubah sedingin es. Ekh, ketika waktunya makan ia langsung berubah menjadi sangat perhatian. Bukankah itu sangat membingungkan ..."


Nurul pun berusaha melihat ke arah Lidya dengan memiringkan kepalanya, "Itu artinya ada satu hal yang membuatnya marah, tapi amarahnya langsung menghilang di saat melihat kamu sudah seperti orang kelaparan, wk-wk-wk." tawa Nurul pecah ketika teringat pertanyaan Lidya yang sudah tidak sabar lagi ingin mencicipi makanan tersebut.


Membuat Lidya menjadi sebel dengan jawaban Nurul yang terlihat hanya sebuah candaan saja dengan maksud untuk menggodanya. Padahal candaannya itu adalah sebuah kenyataan. Lidya pun menjatuhkan kepalanya ke atas kasur, "Tau akh! Cinta itu benar- benar membingungkan, tadi saja ia terus membalikkan semua perkataanku." celetuknya dengan nada yang terdengar merajuk.


Nurul pun berusaha untuk berbicara dengan serius, "Mungkin itulah caranya menciptakan sesuatu yang berkesan sebagai kenangan kalian."

__ADS_1


Akhirnya Lidya berfikir sejenak untuk merenungkan perkataan dari sahabatnya itu. "Mungkin," gumamnya pelan. Keduanya pun terlarut dalam lamunan tentang kebersamaan mereka dengan masing-masing pasangan.


Tiba-tiba tawa Lidya pecah teringat kesialan Chika, dan hal itu berhasil menyita perhatian Nurul. "Apa yang kamu tertawakan?"


"Kak Chika Nur, dia sial bangat malam ini, ha-ha-ha."


Bukannya ikut tertawa, justru Nurul merasa bersalah. Ia benar-benar tidak sengaja saat itu, jika saja Chika tidak menarik dagunya, hal itu tidak mungkin terjadi.


"Hei, kamu kenapa Nurul?"


"Aku merasa sedikit bersalah sama kak Chika."


"Ala ... Biarin aja orang kayak dia sudah sepantasnya menerima hal itu, lagi pula besok kita sudah tidak berada di sini."


"Iya juga sih, tapi ..."


"Sudah akh, sebaiknya kita bebersih dan tidur lebih awal agar besok tidak kesiangan."


Nurul pun melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.10, dengan langkah yang berat ia menuju ke kamar mandi untuk bebersih.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2