Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kedatangan Nurul dan Lidya


__ADS_3

Raka yang sudah menunggu kedatangan Lidya sedari tadi hanya mondar-mandir di dalam ruangan OSIS sambil berkacak pinggang dan sesekali ia mengacak-ngacak rambutnya.


Sebenarnya sedari tadi ia ingin menyusul Lidya ke toilet, tapi ia mengurungkan niatnya karena rasa gengsinya yang terlalu tinggi.


Setelah menunggu cukup lama, ternyata Lidya belum datang juga. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Lidya, ia khawatir jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak baik kepada Lidya.


Dengan langkah yang tergesa-gesa ia menuju ke toilet. Saat ia sampai di depan toilet, ia berusaha untuk memanggil Lidya. Namun usahanya hanya sia-sia saja karena tidak ada respon sama sekali dari dalam toilet.


Ragu-ragu ia mengetuk setiap pintu yang berada di dalam toilet khusus wanita tersebut, ia terpaksa memasukinya karena tidak ada pilihan lain lagi.


Tok... Tok... Tok...


Tetap tidak ada sahutan sampai di pintu yang terakhir.


"Sssttt" Akhirnya ia mendengus kesal setelah menyadari bahwa kekhawatirannya hanyalah sesuatu yang sia-sia saja.


Ia pun keluar dari tempat tersebut, dengan penuh amarah ia mengayunkan langkahnya untuk kembali ke ruangan OSIS. Ia sangat marah dan kesal dengan kelakuan Lidya.


Ketika berada di ujung koridor, ia duduk sejenak di tempat duduk yang sebelumnya diduduki oleh Lidya, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman sekolah.


Tanpa sengaja ia menangkap dua sosok yang sangat dikenalnya. Ya, mereka adalah Nurul dan Lidya yang baru saja keluar dari gerbang sekolah.


"Itu pasti mereka." gumamnya kemudian.


"Mereka pasti sudah bersekongkol untuk pulang lebih cepat dari pada teman-teman yang lain." hal itulah yang sedang terlintas di dalam fikirannya. Ia tidak bisa berfikir jernih lagi.


"Jangan pikir kalian bisa lolos begitu saja Lidya." gumamnya sambil menggertakkan giginya menahan amarah.


Setelah itu ia pun kembali ke ruangan OSIS untuk merapikan segala peralatan yang masih berada di atas meja.


Sementara itu di sisi yang lainnya. Dalam perjalanan pulang, Lidya dan Nurul sedang mendiskusikan sebuah rencana yang harus mereka persiapkan untuk kegiatan besok.

__ADS_1


Lidya tidak menceritakan kepada Nurul tentang kejadian yang terjadi antara dirinya dan pak Raka. Ia hanya fokus memikirkan bagaimana caranya agar mereka dapat menyelesaikan permasalahan tentang flashdisk tersebut.


Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya mereka sepakat untuk mengatakan hal tersebut kepada Pak Raka karena mereka tidak bisa membuat tampilan untuk kegiatan besok karena semua file-file yang mereka butuhkan ada di dalam laptop miliknya. Rencananya mereka akan menemui pak Raka setelah sholat Isya nanti.


Ketika Raka ingin pulang untuk menyusul Lidya dan Nurul, tiba-tiba ia di kejutkan oleh kemunculan pak Hari yang baru saja masuk ke ruangan OSIS.


"Bagaimana pekerjaanmu Raka?" tanya pak Hari ketika melihat Raka sedang mengunci res tas laptopnya


"Sudah selesai Pak."


"Kenapa kamu hanya sendirian di ruangan ini?" sambil mengedarkan pandangan mencari sosok Lidya di sekitar ruangan itu.


"Oh... itu, Lidyanya sudah pulang, barusan." jawab Raka setengah benar dan setengah bohong. Iya, karena lebih tepatnya Lidya melarikan diri untuk pulang bersama Nurul.


"Dengan siapa?"


"Dengan Nurul Pak." jawabnya santai karena hal itu memang benar tapi masalahnya ia belum tahu kejelasan dari kepergian keduanya.


Ada perasaan janggal di dalam hati ketika Raka mendengar perkataan pak Hari tersebut. Ia pun mengajukan sebuah pertanyaan untuk mencari tahu alasan pak Hari mengatakan hal tersebut. "Memangnya Nurul kenapa Pak?"


"Sepertinya Nurul sedang sakit."


"Oh... pantas saja." gumam Raka sangat pelan, ia pun berfikiran mungkin itulah sebabnya Lidya tidak menemuinya kembali di ruangan OSIS. Seketika amarahnya kepada Lidya menguap dengan cepat.


"Apa yang kamu katakan Raka?" tanya pak Hari karena tidak dapat mendengar dengan jelas gumaman dari Raka.


"Ekh bukan apa-apa Pak. Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Sepertinya di belakang kita masih kekurangan tenaga."


*****

__ADS_1


Malam harinya, setelah sholat Isya di rumah. Lidya menemui Nurul di rumahnya untuk menemaninya pergi ke rumah Rendi.


Mereka sengaja melaksanakan sholat di rumah agar rencana mereka tidak diketahui Ani. Bagaimanapun Ani tidak boleh tahu apalagi mereka harus pergi ke rumah Rendi malam ini.


Mereka hanya tidak ingin melihat kesedihan dan wajah pura-pura Ani yang tersenyum menahan rasa sedih di dalam hatinya lagi.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumussalam, siapa?" tanya seorang wanita yang berada di dalam rumah tersebut.


"Ini kami Bunda,"


Pintu rumah pun terbuka lebar, menampilkan sosok wanita yang sudah berusia paruh baya namun masih masih tetap terlihat cantik dan bersahaja di usianya yang sudah kepala empat tersebut. "Nurul, Lidya kok tumben malam-malam datang ke sini?"


"Maaf Bunda, kami hanya ingin menemui pak Raka saja."


"Oh... Raka belum pulang dari mesjid, sebaiknya kalian duduk dulu." ucap bunda Hani dan mengajak mereka masuk ke dalam rumah.


Setelah mereka bertiga duduk di kursi sofa yang berada di ruang tamu, bunda Hani menanyakan maksud kedatangan mereka. Ia merasa ada hal yang sangat penting sampai-sampai mereka berdua nekat keluar malam-malam seperti saat ini. "Memangnya ada urusan apa?"


Tanpa menutup-nutupi mereka mengatakan masalah mereka kepada bunda Hani. Agar bunda Hani tidak akan salah paham dengan maksud kedatangan mereka kali ini.


Tak lama kemudian terdengar suara Rendi dan Raka yang sedang mengucapkan salam dari balik pintu.


Tadaaa


Sebuah kejutan pun menyambut kedatangan mereka.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2