Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Kerinduan Lidya


__ADS_3

Keesokan harinya


Matahari bersinar dengan sangat cerah. Secerah dan seindah perasaan Lidya, karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan sang pelayan virtualnya.


Senyuman aneh pun terus menghiasi perjalanannya, membuat orang-orang yang melihatnya merasa ngeri. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya mereka melihat senyuman aneh itu.


Tak lama kemudian sampailah ia di halaman sekolahnya.


Nurul dan Ani yang sudah sampai beberapa menit yang lalu, hanya menatap ke arah Lidya sambil tersenyum kikuk. ya, mereka tidak ingin membuat Lidya kehilangan keceriaannya. Karena mereka memegang prinsip di bawah ini 👇👇👇✌✌✌



Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi.


Selama dalam proses belajar di kelas kali ini, Lidya kurang fokus karena kebanyakan menghayal tentang laptop.


"Ia seperti orang yang sedang dilanda asmara saja." gumam teman sekelas (Namanya Friska ya...) yang berada di samping Lidya yang sedari tadi merasa aneh dengan tingkahnya hari ini.


Nurul dan Ani yang mendengarkan ocehan teman sekelas itu hanya saling melirik dan memilih untuk mengabaikan mereka dan kembali fokus pada pelajaran. Toh yang bersangkutan tidak keberatan kan.. Lagipula apa yang mereka pikirkan itu tidak benar.


Karena yang mengetahui kebenarannya adalah Author, Readers dan mereka bertiga saja kok.


Kalau saja hari ini suasana hati Lidya tidak sebahagia seperti saat ini, sangat memungkinkan bahwa keadaan kelas yang tadinya terasa tenang akan langsung berubah menjadi seperti sebuah pasar yang sangat ramai.


Namun di balik itu semua siapa sangka rumor tentang Lidya yang sedang jatuh cinta langsung beredar di lingkungan sekolah.


Hanya saja hal itu belum sampai kepada mereka bertiga.


*****


Waktu yang telah dinantikan Lidya akhirnya tiba. Mereka langsung bergegas ke Perpustakaan karena tangan Nurul dan Ani langsung ditarik Lidya untuk menuju ke Perpustakaan.


Awalnya Nurul berusaha menolak karena mereka belum makan bekal makanan yang mereka bawa dari rumah, dan masih tersimpan rapi di dalam tas mereka. Hanya saja Lidya tidak menghiraukan alasan Nurul dan terus menyeret kedua sahabatnya itu karena ia tidak ingin menunda lebih lama lagi. Rasa laparnya tidak bisa menandingi rasa rindunya kepada laptop.


Dengan terpaksa mereka mengikuti Lidya. Setelah sampai di depan Perpustakaan,


Shiiit


Lidya mengaktifkan rem cakramnya dengan tiba-tiba karena melihat sosok tampan yang sedang melahap makanannya dengan sangat serius.

__ADS_1


Untung saja sosok itu belum menyadari kehadiran mereka, Nurul dan Ani merasa bingung dengan sikap Lidya yang tiba-tiba saja langsung berbalik arah.


Iya, Lidya menyeret mereka kembali ke kelas lagi.


Setelah sampai di kelas, Lidya langsung patah semangat karena menyadari kesalahannya yang terlalu terburu-buru. Kemudian melepaskan genggaman kedua sahabatnya dan ia duduk di tempat duduknya.


Nurul pun mendekatinya, "Ada apa Lid?" tanyanya setelah duduk di samping Lidya.


Ia merasa bahwa Lidya yang tadi penuh dengan semangat kini telah menjadi seperti bunga layu yang sudah lama tidak disirami air.


"Nggak apa-apa, maaf ya..." jawab Lidya dengan tulus sambil meraih tangan Nurul.


"Maaf kenapa?"


"Aku terlalu terburu-buru dan langsung menyeret kalian kesana-kemari."


"Oh... Santai saja. Sebaiknya kita makan dulu." jawab Nurul mengalihkan pembicaraan.


Ani yang tadinya tidak berani mendekat, karena masih bingung dengan situasi yang ada, akhirnya ia langsung merangkul kedua sahabatnya dari belakang. "Oh iya, kenapa tiba-tiba kita balik ke sini lagi?" tanyanya sambil mengangkat keningnya ke arah Lidya.


"Iya, bukannya tadi_" sambungnya lagi ketika Lidya masih belum menjawab pertanyaannya sambil duduk di sebelah Nurul.


"Oh... Ya udah kalau gitu kita juga makannya sekarang aja. Biar nggak telat kayak kemarin." sela Ani karena ia juga sudah sangat lapar.


"Hmmm."


Mereka pun mengambil bekal makanan masing-masing dan segera mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.


Tak lama kemudian, mereka pergi ke Perpustakaan.


Tadaa...


Si guru les sudah siap menyambut mereka dengan sebuah senyuman yang samar sudah terlukis di wajah tampannya itu.


Lidya terpesona seketika, namun tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari si laptop.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumussalam, masuk saja." sapanya ramah.

__ADS_1


Sapaan itu terdengar sangat aneh di telinga mereka, karena ini pertama kalinya Raka mengucapkan kata-kata tersebut.


Tanpa menunda-nunda lagi mereka langsung mengambil posisi seperti biasanya.


"Apa yang akan kita pelajari hari ini?" tanya Lidya dengan sangat antusias sambil sesekali melirik ke arah laptop.


"Hari ini kamu harus menuntun kedua sahabatmu seperti yang kamu pelajari kemarin."


"Syukurlah kalau begitu." gumam Nurul di dalam hatinya karena ia merasa akan sedikit canggung jika Raka yang langsung menuntunnya seperti yang Raka lakukan kepada Lidya kemarin.


"Yes." sorak Ani di dalam hatinya.


"Ok. Tidak masalah." Jawab Lidya dengan penuh percaya diri karena ia masih mengingat dengan jalas semua yang ia praktekkan kemarin.


Setelah sepakat, Raka langsung menyerahkan laptop tersebut kepada Lidya. Lengkap dengan tas dan segala perlengkapannya seperti mouse, carger dan flash disk.


Dan disambut dengan hangat oleh si penerima. "Ya, inilah yang sudah aku rindukan sedari tadi." gumamnya di dalam hati sambil mengelus laptop tersebut.


Raka, Nurul dan Ani merasa lucu melihat perlakuan Lidya terhadap laptop. Namun mereka berusaha untuk menahan tawa agar Lidya tidak tersinggung.


"Terima kasih Pak." ucapnya kemudian.


Akhirnya mereka bertiga menuju ke tempat favorit yang berada di sudut ruangan.


.


.


.


.


.


.


Tinggalkan jejak kalian Readers...


Happy reading...

__ADS_1


__ADS_2