
Setelah mendapatkan hukuman yang ketiga, Rendi langsung menyerah. Ia tidak ingin di hukum lagi.
"I.. Iya Bunda, kami ngaku salah."
"Hmmm." jawab bunda Hani sambil melepaskan jewerannya dari telinga mereka. Kemudian duduk di hadapan mereka.
"Ekh... Sepertinya belum selesai ya..."
"Apa yang akan bunda lakukan?"
Tanya mereka di dalam hati masing-masing ketika melihat bunda Hani yang sudah siap untuk mengadili mereka.
Tak lama kemudian bunda Hani mengangkat suaranya. "Katakan apa yang terjadi?!!!" ucapnya dengan tatapan penuh telisik.
"Eummm..." ucap Rendi ragu-ragu sambil melihat ke arah Raka dan mengangkat kedua keningnya.
Ia merasa ragu apakah ia harus menceritakan yang sebenarnya atau membohongi bunda Hani?
Sungguh, pilihan yang sangat sulit baginya, jika ia berbohong, ia pasti berdosa tapi... Jika ia mengatakan yang sesungguhnya, bukan hanya rahasia Raka yang akan terbongkar melainkan rahasianya juga.
Aarrgghh, Rendi sangat frustasi.
Sementara itu, Raka tersenyum samar melihat keraguan Rendi, pasalnya tadi Rendi matian-matian mencoba untuk tidak mengalah dan terus melawanannya. Siapa sangka kini Rendi mengirimkan sinyal untuk membantunya.
"Tadi hanya salah paham saja Kak, sepertinya anak Kakak ini sudah mengaku salah." ucap Raka dengan santai sambil mengacak-ngacak rambut Rendi.
Hal itu sengaja ia lakukan untuk memancing amarah Rendi, apakah Rendi akan menahan amarahnya kali ini atau tidak.
__ADS_1
Sementara Rendi tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti drama yang di atur oleh Raka saat ini.
Ia berusaha tersenyum dan mengangguk-ngangguk untuk meyakinkan Bundanya. Meski pun ia harus terpaksa untuk melakukannya, tapi hal itu lebih baik dari pada rahasia mereka terungkap.
"Ok, sekarang kalian harus berjabat tangan." perintah bunda Hani.
Refleks, mereka saling bertatapan. Raka langsung membulatkan kedua matanya untuk meminta Rendi agar duluan minta maaf kepadanya, bagaimana pun usia Raka lebih tua dari pada Rendi.
Rendi hanya bisa pasrah, ia langsung memeluk Raka dengan sangat erat sambil menepuk-nepuk punggung Raka untuk menumpahkan kekesalannya. Tak lupa ia mengucapkan permintaan maafnya walaupun terpaksa. Raka pun bersikap demikian, berharap semuanya segera berakhir.
Bunda Hani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sudah sangat lelah saat ini, apalagi harus mengadili dua Pria dewasa yang masih bersikap seperti anak-anak dibalik tubuh dewasa mereka.
"Sangat merepotkan." Gumam bunda Hani.
"Kalian jangan senang dulu, kalian masih harus dihukum."
"Rendi, rapikan kursi dan meja yang di teras." ucap bunda Hani sambil melihat ke arah Rendi.
"Dan kamu Raka," sambung bunda Hani kemudian berfikir sejenak. "Raka, sore nanti kamu harus menyiapkan makan malam." ya, keputusan yang tepat karena bunda Hani merasa sangat capek dan harus istirahat untuk memulihkan tenaganya kembali.
Dengan pasrah mereka menerima hukuman dari bunda Hani.
Sementara itu di sisi yang lain, Nurul dan Lidya telah sampai di depan teras rumah Lidya.
"Ekh kak Nurul kok tumben nganterin Kakak sampai ke rumah?" tanya Adit yang baru saja membuka pintu untuk mereka, karena saat itu mbok Ina lagi di dapur.
Nurul mendekati Adit kemudian membungkukkan tubuhnya. "Kak Lidyanya lagi sakit?" bisik Nurul
__ADS_1
"Sakit?" tanya Adit ragu
"Iya, lagi terkena virus cinta." bisiknya lagi
"Owh... Kalau masalah itu mah serahin aja sama Adit." jawab Adit dengan penuh percaya diri sambil menepuk pelan dadanya.
Nurul hanya mengulas senyumnya melihat tingkah Adit. "Hmmm, jaga baik-baik Kakakmu." ucapnya sambil menepuk bahu Adit.
"Hmmm."
"Kakak pamit ya.. Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam..."
Tak lama kemudian Nurul pulang ke rumahnya. Sebenarnya, rumah Nurul hanya berjarak sekitar 7 rumah dari rumah Lidya. Jika sepulang sekolah, rumah Nurullah yang seharusnya lebih dahulu di temukan dari pada rumah Lidya. Ia sengaja mengantar Lidya sampai ke rumahnya untuk memastikan keselamatan Lidya. Takutnya Lidya salah masuk rumah orang. He he he...
.
.
.
Hmmm, kira-kira apa yang akan dilakukan Adit ya...
Jangan lupa dukungan kalian Readers, agar Author lebih semangat lagi.
Happy reading...
__ADS_1