Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Si culun itu ternyata ...


__ADS_3

Puuukkk


Tiba-tiba Raka menepuk punggung pria itu.


"Astagfirullah..." ucapnya sambil mengelus dada bidangnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


"Hanya... Memastikan sesuatu saja Kak,"


"Memastikan apa?" kemudian Raka ingin mengintip sesuatu yang dimaksud pria tersebut.


"Ekh... Bukan apa-apa," cegah pria itu sambil menghalangi Raka yang akan mengintip. "Aku mau pulang saja Kak."


"Hmmm."


"Assalamualaikum Kak."


"Waalaikumussalam."


Raka melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke Aula karena sebentar lagi acara akan ditutup.


Untung saja Ani sudah berbalik arah dan kembali lagi ke Aula untuk menyusul Nurul dan Lidya. Sehingga Raka tidak mengetahui apa yang sudah terjadi sebelumnya.


Sementara itu di Aula, Nurul dan Lidya bersikap biasa-biasa saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka kembali ke tempat masing-masing karena sebentar lagi acara akan di lanjutkan.


Tak lama kemudian Ani mendekati Nurul dan duduk di sampingnya. Pak Raka pun tiba tidak lama sejak kedatangan Ani, dan kembali ke tempatnya semula.


Tak lama kemudian, pemutaran film 'Harry Potter' selesai. Seluruh tirai jendela, jendela dan pintu kembali di buka oleh panitia acara.


Raka melanjutkan acara ke sesi penyambutan dan penyampaian visi misi ketua OSIS yang baru. Seperti biasanya, Rahmat akan melanjutkan program-program yang telah dijalankan Nurul dan kawan-kawan sebelumnya dengan menambahkan beberapa kegiatan lainnya.


Adapun kegiatan yang dimaksud adalah :


- Meminimalisir tingkat kekerasan dalam lingkungan sekolah;


- Melaksanakan sholat Dhuha berjamaah;

__ADS_1


- Meningkatkan kedisiplinan siswa.


Sorak sorai dan tepuk tangan pun menghiasi ruangan itu kembali. Dan tak lupa Rahmat meminta bimbingan dari Nurul dan PO yang sebelumnya, sebagai bentuk penghargaan dari junior untuk seniornya.


Bapak kepala sekolah pun.merasa kagum dengan segala ide dan kreatifitas yang di tampilkan dalam acara kali ini. Beliau merasa bangga sekaligus puas dengan hasil kinerja mereka. Beliau berharap semoga sekolah mereka akan semakin maju dan berkembang dari sebelum-sebelumnya.


Dalam pertemuan kali ini bapak Kepala Sekolah mengumumkan bahwa, "Mulai semester depan sekolah kita akan mengadakan sebuah proyek besar-besaran tentang penambahan unit komputer untuk siswa karena pada bulan November nanti desa kita akan di bangun sebuah tower Telkomsel, dimana kita akan dapat mengakses internet dengan bebas dan bertanggung jawab tentunya."


Penyampaian tersebut mendapat respon yang tidak kalah heboh dari semua orang yang masih setia mengikuti jalannya acara tersebut.


Tak lama kemudian acara ditutup dengan mengucapkan hamdallah.


"Alhamdulilla hirabbil alamin..."


Kini yang tersisa dalam Aula hanyalah panitia kegiatan, Lidya segera menarik kedua sahabatnya untuk mwncari tahu tentang kelanjutan kasus Friska kepada Raka.


Ketika mereka hendak mengutarakan maksud dan tujuannya, tiba-tiba datanglah si pemilik kursi kemudian bertanya kepada Ani.


"Apa kamu menemukan pria culun itu?" Tanya si pemilik kursi kepada Ani.


flashback on


Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul si pria culun. Ia menghentikan langkahnya ketika mendapati si pria culun tengah berbicara dengan kedua sahabatnya.


Flashback off.


Ani hanya bersikap pura-pura lupa di hadapan mereka.


Si pemilik kursi pun berinisiatif untuk menanyakan kebenarannya kepada Raka.


"Oh... Maksud kalian Rendi?" Jawab Raka dengan santai.


"Apa... Rendi?!!" Ucap mereka bersamaan karena terkejut akan perkataan dari Raka.


Kemudian...


"Pffft." Lidya dan si pemilik kursi menahan tawanya ketika teringat penampilan dari rendi tersebut.

__ADS_1


Berbeda halnya dengan mereka, Nurul dan Ani merasa ada sesuatu yang janggal dengan sikap Rendi.


Nurul pun bertanya kepada Raka, "Mengapa dia harus menyamar sebagai pria culun segala?"


"Ia tidak ingin orang lain mengenalinya, apalagi ia bukan siswa di sekolah ini." jawab Raka sekenanya.


"Hmmm, benar juga."


"Tapi apa harus segitunya hanya untuk memberikan sebuah kado untuk Nurul?" tambah Ani karena ia masih belum puas dengan jawaban dari Raka.


"Kalau masalah itu sebaiknya kalian tanyakan saja kepada orangnya langsung." jawab Raka asal karena ia juga tidak tahu apa alasan Rendi mengenai hal itu. Lebih tepatnya ia tidak ingin tahu dan tidak ingin ikut campur masalah percintaan keponakannya itu. Kemudian ia melangkahkan kakinya hendak meninggalkan mereka yang masih penuh tanda tanya.


Si pemilik kursi pun meninggalkan mereka karena urusannya sudah selesai.


Lidya segera menyusul Raka dan menarik lengannya. "Ekh tunggu dulu Pak." ucap Lidya ketika Raka terus berjalan dan tidak menghentikan langkahnya.


Bruuk


"Pffftt." tawa tertahan dari Nurul dan Ani melihat kesialan Friska.


Tanpa sengaja Lidya menabrak punggung Raka yang tiba-tiba berhenti tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. "Ada apa lagi?" tanyanya dingin tanpa memperdulikan Lidya yang sedang meringis kesakitan.


Lidya hanya mendengus kesal karena merasa diabaikan oleh Raka. Akhirnya ia melangkah ke hadapan Raka, "Bagaimana dengan friska?" tanya Lidya sambil menggosok-gosok dahinya yang sakit.


"Urusan friska sudah ku serahkan kepada bagian kesiswaan."


"Akh, Bapak tidak menepati janji, harusnya dia dikeluarkan dari sekolah ini." ucap Lidya kecewa dengan keputusan dari Raka.


"Untuk masalah itu, kalian lapor sendiri saja di bagian kesiswaan." balas Raka dengan nada mencemooh seaakan-akan ia tidak ambil pusing dengan protes dari Lidya.


"Ini semua gara-gara Bapak, kalau saja Bapak tidak menghalangiku pas_"


Ucapan Lidya terhenti karena kini jari telunjuk Raka sudah mendarat di bibir Lidya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2