
30 menit kemudian
"Apa?!!" pekik Lidya setelah mendengar perkataan Nurul yang akan membantu Raka untuk meramaikan Perpustakaan kembali.
"Bagaimana bisa?"
"Aku nggak mau Nurul?" tambahnya.
"Aku tidak mungkin membantu orang yang telah membuatku ketakutan setengah mati kan..." gumamnya di dalam hati.
"Memangnya kenapa Lid?" tanya Nurul karena kaget dengan ekspresi Lidya.
"Bukankah kemarin Dia sudah baik-baik saja?"
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Pertanyaan itu muncul di dalam hati Nurul. Bagaimana tidak, Nurul sangat mengenal karakter Lidya. Tapi kenapa kali ini Lidya langsung menolak untuk membantu orang yang telah menggendongnya keluar dari Perpustakaan disaat ia sangat ketakutan?
Ini bukan Lidya yang kukenal. Lidya yang sangat menghargai orang dan Lidya yang tahu balas budi kenapa berubah menjadi seperti ini?
"Bukankah ini kesempatan kita untuk kembali di Basecamp?" ucap Nurul mencari alasan.
"Iya... Tapi..."
"Ada apa Lid?"
"Aku..."
"Katakan saja..." desak Nurul.
5 menit kemudian
"Astaga!" ucap Nurul setengah kaget setelah mengetahui bahwa Lidya telah menggigit bahu Raka.
"Aku hanya refleks aja, aku_" ucap Lidya membela dirinya dan ia merasa sangat bersalah ketika langsung menuduh Raka tanpa bukti yang jelas.
"Sebaiknya kamu minta maaf Lid," ucap Nurul menasehati. "Bagaimana pun Dia telah nembantumu."
"Tapi..." ucap Lidya karena ia masih ragu apakah Raka akan memaafkannya begitu saja.
__ADS_1
"Pasti ujung-ujungnya akan dihukum lagi kan..." batin Lidya
Nurul sangat mengerti perasaan Lidya, "Aku dan Ani akan menemanimu." ucap Nurul sambil memegang bahu Lidya sebagai tanda bahwa ia tidak sendiri. ada kami yang akan selalu mendukungmu Lidya.
Akhirnya Lidya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Heehh.. Sebaiknya jangan bilang sama Ani."
"Kenapa?" tanya Nurul heran.
"Aku nggak mau Dia meledekku saja."
"Iya, iya." jawab Nurul sambil tersenyum geli sehingga menampakkan lesung pipinya.
Lidya tidak bisa mengabaikan tangannya yang sudah meronta-ronta untuk menyentuh lesung pipi itu.
Ciiit
"Kamu sangat manis." ucap Lidya gemes sambil mencubit pipi Nurul.
"Kamu bisa aja." ucap Nurul sambil mencubit hidung Lidya.
"Ha.. ha.. ha..." keduanya pun tertawa bersama.
"Besok, setelah istirahat kita akan menemui Pak Raka, kamu bisa menggunakan kesempatan ini kan..." ucap Nurul dengan sangat serius.
"Sebenarnya aku sangat malu Nur, tapi... aku akan mencobanya." ucap Lidya penuh semangat.
"Hmmm.." sambil mengangguk
"Aku rasa si Killer itu sebenarnya baik, buktinya waktu kami pulang tadi siang, Dia tidak meninggalkan kami dan mendorong motornya sampai kami tiba di rumah." ucap Nurul dengan sorot mata yang sangat meyakinkan.
"Benarkah?" tanya Lidya terkejut.
Nurul pun melanjutkan ceritanya dengan santai sambil bersandar di tempat duduk. "Ya, awalnya aku tidak menyangka sama sekali." kemudian ia teringat dengan sebuah imbalan yang sangat menggiurkan dari Raka.
"Oh.. Iya, apa kamu tahu jika kita berhasil," ucapnya sambil meluruskan duduknya dan menatap Lidya. "Maka Dia akan mengajari kita cara menggunakan Laptop lho." sambungnya dengan sinar mata berbinar yang memancarkan sebuah kebahagiaan.
"Bagaimana bisa?" tanya Lidya semakin terkejut.
"Bukankah itu bisa membuktikan kebaikan hatinya?" tambah Nurul
__ADS_1
"Iya juga ya.."
"Aku yakin, Dia pasti akan memaafkanmu." ucap Nurul dengan penuh keyakinan.
Melihat ekspresi sahabatnya, membuat Lidya menepis keraguannya.
"Hmmm." jawabnya singkat
*****
Keesokan harinya
Sesuai dengan janji mereka, akhirnya mereka ke Perpustakaan setelah menghabiskan bekal makan siang.
"Assalamu'alaikum..."
.
.
.
.
"Wa'alaikumussalam... Jawab Author.
Sudah pada penasarannya ya...
jangan lupa dukungannya
Like
Koment
Vote
Hadiahnya ya...
Happy reading..
__ADS_1