
Dan...
Itulah yang terjadi, setelah kepergian siswa yang lainnya, Raka segera menutup laptopnya dan mengambil rantang makanannya kemudian mendekati mereka.
Ani dan Nurul tidak mengetahui hal itu, mereka hanya fokus memperhatikan Lidya yang sedang menutup mulutnya yang sudah terbuka lebar karena tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Ingin rasanya ia berteriak. "OMG, Dia sedang menuju ke sini." namun hal itu hanya mampu ia salurkan di dalam hatinya.
Kini, matanya membulat sempurna ketika Raka memasang senyum ramahnya.
"Akh, rasanya aku ingin pingsan." gumamnya di dalam hati.
Ani dan Nurul hanya saling menatap dan mengernyitkan keningnya ketika melihat ekspresi Lidya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menengok ke belakang.
Kini, giliran mereka yang terkejut. Ketika melihat Raka yang sudah semakin dekat dengan mereka.
"Pantas saja Lidya bersikap aneh."
"Jadi ini masalahnya."
"Mungkin saja Dia ingin lebih mengenal Lidya."
Gumam mereka kemudian berpura-pura melanjutkan kegiatan makan mereka.
Lidya mulai menetralkan debaran jantungnya dan berusaha bersikap senormal mungkin ketika mendengar gumaman dari kedua sahabatnya itu.
Setelah Raka berada di samping mereka, Lidya semakin gugup. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia memilih untuk terus menunduk sambil berpura-pura membuka kotak bekalnya yang sudah dianggurin sedari tadi.
Raka hanya tersenyum tipis lagi. Ya, ia merasa setiap tingkah Lidya sangat lucu, dan selalu membuatnya kesem-sem sendirian.
"Apa boleh aku duduk di sini Lidya?" tanyanya ketika berada di samping Lidya.
Lidya hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil menahan debaran jantungnya saat ini.
Ia mulai mengatur nafasnya untuk menetralkan debaran jantung yang mulai tak karuan yang menyebabkan rasa laparnya menghilang begitu saja dalam waktu seketika.
Ia mencoba mengambil makanannya dan memasukkan ke dalam mulut. Pelan tapi pasti, ia mulai mengunyah makanan tersebut.
Kini, Nurul dan Ani saling berpandangan lagi. Mereka hanya memperhatikan wajah Lidya yang sudah merah merona.
Ingin rasanya mereka keluar dari ruangan itu agar dapat memberikan ruang gerak yang lebih luas untuk dua insan yang sedang dilanda asmara itu. Mereka menjadi serba salah.
__ADS_1
Sementara itu Raka yang masih dengan tenangnya mulai membuka rantang makanannya. Secara bersamaan, terhirup bau yang sangat familir di indra penciuman mereka.
Wangi rempah dari daging rendang kini memenuhi ruangan itu. Tanpa sadar mereka menoleh ke titik yang sama.
Glek
Mereka hanya bisa menelan saliva dengan kasar, dan menahan iler yang akan keluar.
"Aromanya... Sangat menggoda."
Tanpa sadar, kalimat itu keluar dari mulut mereka secara kompak.
Raka tak dapat menahan tawanya lagi melihat ekspresi mereka.
"Pfftt, kalian juga mau?" tanya Raka sambil rasa gelinya.
Mereka hanya membalas dengan anggukan.
Raka mempersilahkan mereka untuk mengambil lauknya dengan memakai sendoknya yang masih bersih.
Tanpa malu-malu lagi, Nurul yang berhadapan dengan Raka, langsung menyendok lauk tersebut dan memindahkan ke rantangnya, karena ia sudah tidak sabar lagi untuk mencicipi daging rendang tersebut.
Setelah itu sendok tersebut disambut dengan mata yang sudah berbinar-binar oleh Ani, tanpa peduli dengan keadaan sekitar, Ani langsung menyendok daging rendang tersebut. Namun... Saat Lidya hendak menyendok bagiannya, Raka langsung menyela begitu saja dan segera menyendok lauk tersebut dan meletakkannya di dalam rantang Lidya.
Deg
Jantungnya mulai meronta-ronta,
1 detik
2 detik
3 detik
Ada desiran-desiran yang sangat aneh menjalar di sekujur tubuhnya, perasaan aneh yang semakin menjadi-jadi.
"Akh... So sweet." pekik Ani
Dan hal itu berhasil melerai pandangan mereka. Lidya hanya menunduk malu menyembunyikan wajahnya lagi.
Sementara Raka hanya berdehem kemudian segera menyendok lauk tersebut untuk diletakkan di dalam rantang nasinya.
Ani yang menyadari kecerobohannya hanya menepuk pelan mulutnya sendiri, sedangkan Nurul hanya menjadi penonton dan memilih untuk berpura-pura acuh dengan kejadian barusan.
__ADS_1
Padahal di hatinya ia sedang merutuki kecerobohan Ani yang sudah merusak moment antara Lidya dan Raka. Ya, moment yang sangat sweet... sweet...
Acara makan bersama pun dilanjutkan dengan canggung dan tanpa ada yang bersuara lagi sampai mereka selesai.
Ting
Ting
Ting
Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi.
Dan hal itu menandakan bahwa mereka segera berpisah untuk sementara waktu. Ya, mungkin hanya sementara buat Nurul dan ani. Tapi... Bagi Lidya dan Raka itu adalah perpisahan semenbulan.
"Ha ha ha... Kok bisa sih." bingung Author.
"Sebentar." ucap Raka ketika mereka hendak berdiri setelah membereskan peralatan makan mereka.
Mereka terkejut dan saling memandang satu sama lain dengan sebuah pertanyaan di dalam benak mereka.
"Ada apa lagi?"
.
.
.
.
Hay Readers
Berikan dukungan kalian ya...
Vote
Like
Subcribe
Komentarnya
Happy reading....
__ADS_1