
Lidya yang sedari tadi mencari kesempatan untuk mengejar Friska akhirnya mempunyai ide untuk menayangkan film tersebut agar perhatian orang-orang teralihkan untuk sementara waktu.
Bagaimanapun film tersebut akan menghabiskan waktu kurang lebih satu jam lamanya.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, akhirnya ia mengajak Nurul untuk menemaninya menyusul Friska yang sudah keluar dari tadi.
Mereka pun keluar dari ruangan tersebut meski mereka tidak tahu arah dan tujuan mereka.
Raka yang mengetahui hal tersebut mengikuti mereka dari belakang karena ia penasaran dengan hal apa lagi yang akan dilakukan Lidya kali ini. Tanpa diketahui oleh keduanya, Raka terus mengekori kepergian mereka.
Sementara itu Lidya dan Nurul masih berkeliling untuk mencari keberadaan Friska.
Tak lama kemudian ketika mereka hendak kembali ke kelas untuk beristirahat sejenak, tiba-tiba mereka mendapati Lidya yang sedang memasukkan flashdisk yang dicurinya kemarin kedalam tas seorang teman yang tidak bersalah sama sekali.
"Oh... jadi kamu sedang mencari orang yang akan dijadikan kambing hitam dari kesalahan kamu Friska?!!!"
Deg
Jantungnya bergetar hebat ketika mendengar suara orang yang sangat dikenalnya itu.
"A... apa maksud kalian?" tanya Friska terbata-bata dan berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan dari lawan bicaranya yang tidak lain adalah Lidya.
"Jangan pura-pura lagi Friska!! kamu sudah tertangkap basah." tambah Nurul yang masih setia bersiaga di samping Friska untuk mencegah hal-hal yang tidak baik nantinya.
"Cepat berikan flash disk itu sebelum kita berubah fikiran dan melaporkan kejahatanmu kepada pemilik flash disk tersebut." ancam Lidya sambil menyodorkan telapak tangannya.
Friska tak berkutik lagi. Ia sangat ketakutan dan tidak ingin sesuatu hal buruk akan menimpanya jika ia tidak menyerah saat ini juga. "Ma... maafkan aku Lidya, aku hanya_" ucapan Friska tersela dengan kehadiran sosok tampan yang berada di belakang Lidya dan Nurul.
Saat ini sosok tampan itu berdiri dan bersandar di tiang pintu kelas sambil menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Sosok tampan itu berniat untuk menonton sebuah drama panggung yang akan di mainkan oleh ketiga gadis yang berada di hadapannya.
Ya, setidaknya drama ini lebih nyata dan lebih menarik dari pada film layar lebar yang sedang berlangsung di Aula.
Dengan gaya santainya ia menatap ketiganya tanpa ekspresi sama sekali.
Syuuut
Seketika Flash disk yang berada di tangan Friska terjatuh ke atas lantai.
Bagaimana tidak, baru saja Friska mendapat kejutan dengan kehadiran Lidya dan Nurul yang muncul di saat yang kurang tepat, kini ia harus menghadapi kemunculan si Killer yang sangat tiba-tiba itu.
Ia merasa seluruh tulang belulang dan persendiannya menjadi sangat rapuh seakan-akan tak mampu menahan beban dari hasil perbuatannya sendiri.
Friska adalah satu-satunya orang yang mengetahui kehadiran Raka saat itu.
Nurul dan Lidya masih tidak mengerti dengan reaksi apa yang sedang di tunjukkan Friska saat ini. Mereka hanya saling bertatapan dan mengernyitkan kedua kening mereka.
Ting...
Kini, flash disk tersebut telah mendarat sempurna di atas lantai.
"Hey..." teriak Raka dari kejauhan ketika melihat flash disk berharganya kini terbaring lemah di atas lantai. Ia tidak menyangka bahwa drama panggung yang baru saja ingin dinikmatinya itu langsung berakhir dengan mengorbankan sebuah flash disk berharga miliknya sendiri.
"Apakah aku tidak salah dengar Nurul?" Bisik Lidya ketika mendengar suara Raka yang barusan.
Nurul menoleh sekilas ke arah Lidya, kemudian ia menangkap sosok seorang Pria Killer yang sangat dikenalnya itu. Ia pun hanya menjawab pertanyaan Lidya dengan sebuah gelengan kepalanya yang samar. "Cari aman saja." batin Nurul karena si Killer sedang mengayunkan langkahnya yang belum jelas ke mana langkah itu akan berpijak.
Ssrraaasshhh
__ADS_1
Suara udara yang singgah di pendengaran Lidya ketika Raka melewati mereka dengan tergesa-gesa. "Pak Raka?" gumam Lidya ketika melihat Raka berjalan mendekati Friska.
"Sejak kapan dia ada di sini?" tanya Lidya sambil berbisik kepada Nurul.
Nurul menggelengkan kepalanya sekali lagi, tapi dengan gerakan yang lebih jelas dari sebelumnya.
Raka langsung memunguti flash disk tersebut tanpa menghiraukan seseorang yang hanya diam mematung sejak kehadirannya di ruangan itu.
"Oh... Jadi kamu yang bernama Friska? Si Pencuri itu? Ternyata kamu punya nyali yang besar juga Friska." ucapnya setelah berdiri tepat di hadapan Friska dengan melancarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada tersangka.
"AAAKKKHHH" rasanya Friska ingin berteriak sekencang-kencangnya dan berlari dari tempat itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia merasa sangat kecil seperti setitik bakteri yang hinggap di sebuah daun yang sedang ditiup oleh angin topan. Jika ia lengah sedikit saja, maka nyawanya akan terancam.
Tamat sudah riwayatnya kali ini.
Lidya menyeringai melihat pemandangan yang ada ada di hadapannya. "Rasakan bagaimana diintrogasi oleh si Killerku." gumam Lidya di dalam hatinya sambil menepuk tangan kanannya yang sudah terkepal dengan tangan kirinya sendiri dan tatapan yang garang sambil tersenyum licik.
Nurul pun hanya merem melek membayangkan jika saat ini ia berada di posisi Friska, mungkin saja ia sudah jatuh pingsan. Wkwkwk...
.
.
.
Tahan dulu Readers...
Nantikan Kelanjutannya besok ya...
"Jangan lupa dukungannya." ucap Author sambil berbisik.
__ADS_1