
2 jam kemudian
Ting
Ting
Ting
Bel masuk pun berbunyi, Lidya langsung menahan kedua sahabatnya itu untuk di introgasi. Menjadikan mereka orang yang paling akhir keluar dari kelas dari pada teman-teman yang lain.
Ingin sekali Nurul menerobos ke luar agar segera ke Perpustakaan untuk menemui Raka. Tapi Lidya menggenggam erat tangan kirinya. Ia hanya bisa pasrah.
Tak lama kemudian...
"Baiklah, kami akan mengatakan yang sebenarnya." Ucap Nurul sambil memegang tangan Lidya. "Tapi, ada yang lebih penting." sambungnya lagi dan memilih untuk berterus terang.
"Lebih penting?" tanya Lidya sambil mengerutkan keningnya
"Iya, kita harus segera menemui pak Raka."
"Untuk apa?" tanyanya lagi dan mengangkat kedua keningnya untuk memberi kode kepada Ani. Namun kodenya itu hanya mendapat jawaban 'Tidak tahu' dari Ani yang mengangkat kedua bahunya itu.
"Nanti kamu akan tahu sendiri Lid, waktu kita sangat terbatas. Ayo Lid!" desak Nurul kemudian menarik tangan kedua sahabatnya itu.
Mau tak mau Lidya dan Ani mengikuti Nurul karena mereka juga penasaran ada urusan apa antara Nurul dan pak Raka sehingga Nurul mendesak mereka seperti ini.
Tak lama kemudian mereka sampai di Perpustakaan, sayangnya mereka sudah terlambat karena mereka hanya mendapati pintu Perpustakaan yang sudah tertutup rapat dan terkunci dari luar, menandakan bahwa penghuni ruangan itu sudah tidak berada di tempatnya lagi.
"Heehh." Nurul menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk menghilangkan kekecewaanya.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan Nurul?" tanya Ani mewakili Lidya, karena sedari tadi ia juga bingung dengan apa yang ingin dilakukan oleh sahabatnya itu.
Bruk
Nurul menghempaskan bokongnya di kursi panjang yang berada di depan Perpustakaan.
"Sebenarnya aku ingin meminta bantuan pak Raka untuk menjadi MC (Pembawa Acara) ketika pelantikan Pengurus OSIS yang baru." jawab Nurul dengan ekpresi yang menampakkan sebuah kekecewaan. "Acaranya akan diadakan lusa, jadi waktu kita sangat mepet." ucapnya kemudian.
"Lagipula kita tidak mungkin meminta bantuan sama kak Rendi kan...." sambung Nurul di dalam hatinya.
__ADS_1
"Oh... Jadi begitu?"
"Andai saja aku dan kak Rendi tidak ada masalah pasti_" gumam Ani pelan, tapi masih bisa didengar oleh kedua sahabatnya itu.
"Tenang saja, kita langsung singgah ke rumah Rendi saja." usul Lidya dengan santai.
Awalnya itu rencana cadangan Nurul, tapi tidak mungkin ia mengajak Ani untuk ke sana bersama mereka kan...
Jika hal itu terjadi, yang ada hanya akan menimbulkan perasaan canggung di antara Ani dan Rendi. "Uummm..." ucap Nurul sambil milirik ke arah Ani.
Lidya langsung mengerti kode dari Nurul tersebut. Kemudian ia menepuk pelan jidatnya sendiri. "Aku lupa." gumamnya di dalam hati.
"Nggak apa-apa Nurul, aku nggak akan ikut kalian kok. Aku akan langsung pulang ke rumah." ucap Ani sambil tersenyum menyembunyikan kesedihannya lagi.
"Sendirian?"
"Iya, sekali-kali juga nggak apa-apa."
"Maaf ya An," ucap Nurul bersimpati
"Iya, aku baik-baik saja. Kalian nggak perlu khawatir." jawabnya masih dengan senyum yang sama.
"Iya, kalian juga harus bersemangat untuk menghadapi si killer he he he..." ucap Ani sambil terkekeh kecil untuk menghibur mereka. Hmmm, sebenarnya untuk menghibur dirinya sendiri.
"Tenang saja, kan ada aku." jawab Lidya penuh percaya diri sambil berkacak pinggang.
"Iya, iya... Kamu memang pawangnya. Hi hi hi..." sambung Nurul sambil tertawa cekikikan.
Akhirnya mereka langsung pulang. Di tengah perjalanan Lidya menagih janji Nurul yang sebelumnya untuk menceritakan kejadian yang terjadi dan alasan mereka yang meninggalkannya bersama Raka dalam waktu yang cukup lama.
Alhasil, sebuah jeweran pun mendarat di telinga kedua sahabatnya itu.
"Isshh, kenapa di jewer lagi sih." cerocos Ani sambil menggosok-gosok telinganya.
"Iya, kami sudah berkata jujur kan..." tambah Nurul
"Itu karena kalian sengaja tidak mengundangku untuk ikut rapat." jawab Lidya dengan acuh tanpa peduli dengan protes dari kedua sahabatnya itu.
"Ekh... Bukannya kamu senang bisa beduaan dengan _" tiba-tiba ucapan Nurul langsung disela oleh Lidya.
__ADS_1
Dengan gesit Lidya merangkul keduanya dan berhenti sebentar. "Ssttt, jangan nyebutin namanya," sambil menaruh jari telunjuk di depan bibirnya. "Kalau ada yang dengar gimana?" bisiknya kepada kedua sahabatnya itu sambil menoleh ke arah mereka secara bergantian.
"Iya, iya."
"Pokoknya, apa pun alasannya, kalian berdua tetap salah." ucap Lidya dengan menekankan kata salah. Kemudian ia melangkah ke depan.
Ani dan Nurul tak bisa berkutik lagi. "Sebaiknya kita diam saja." bisik Nurul kepada Ani.
"Hmmm."
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Rendi, dan hal itu menandakan bahwa kini saatnya mereka harus berpisah.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang mengamati mereka dari balik pohon.
Flashback on
Rendi yang baru saja ingin berbelok memasuki pekarangan rumahnya tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika melihat tiga sosok gadis yang sangat dikenalnya. Ya, mereka adalah Nurul, Ani dan Lidya.
Kemudian ia bersembunyi di balik pohon mangga untuk mengintip mereka dari kejauhan. Awalnya ia hanya ingin melepas rindu saja, entah siapa yang ia rindukan. Ia masih belum bisa memastikannya karena Nurul dan Ani sama-sama masih bersemayam di dalam hatinya.
Tiba-tiba ia di kejutkan dengan keberadaan mereka yang berhenti tepat di depan rumahnya.
"Kenapa mereka berhenti?"
"Ekh... Kok Ani pulangnya sendiri?" tanyanya ketika Ani melanjutkan perjalanannya sendirian.
Dengan rasa penasaran ia masih tetap bersembunyi di balik pohon tersebut. Dan benar saja Nurul dan Lidya menuju ke rumahnya.
Flashback off
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian Readers...