
Sejak Raka membela Friska, Lidya menjadi kurang bersemangat untuk melanjutkan kursus bersama Raka, ia sering tidak konsen ketika Raka mentransfer ilmunya. Bukan hanya pada saat kursus saja, tapi di dalam kelas pun akan berlangsung seperti itu.
Nurul dan Ani tidak bisa melakukan banyak hal untuk mengembalikan semangatnya, karena setiap kali mereka mencoba menghiburnya, tetap tidak ada respon dari Lidya selain tersenyum paksa dan mengiyakan semua yang mereka katakan.
"Sepertinya keadaan Lidya bertambah buruk dari yang sebelumnya," ucap Nurul mengawali pembicaraan. Saat itu mereka dalam perjalanan pulang setelah sholat Isya di Mesjid.
"Iya, apa lagi yang haru kita lakukan?" Tanya Ani.
Nurul diam sejenak untuk berfikir. "Bukankah ia menyukai kue Brownies?" tanya Nurul sambil menepuk pelan kedua tangannya.
"Oh iya, bagaimana kalau kita membuatkan kue khusus untuknya?" sambung Ani dengan penuh antusias, karena itu berarti ia mempunyai kesempatan untuk melatih lagi ketrampilannya membuat kue.
"Setuju, tapi sepertinya aku punya ide yang lain."
"Ide apa?"
"Siapa tahu puisi bisa membantunya,"
"Ok, Aku mengerti."
"Kalau begitu, kamu buatkan kue brownies, aku akan membuat puisi untuknya."
Ani mengacungkan jari jempolnya sebagai tanda bahwa ia menyetujui usul dari sahabatnya itu.
Malam itu juga setelah Ani sampai dirumahnya, ia memohon bantuan dari sang Bunda untuk mengolah adonan kue yang dipadukan dengan perasaan khusus dari seorang sahabat yang sangat peduli kepada sahabatnya yang kehilangan semangat akibat dari perasaan kecewa yang sulit di terimanya.
Dalam kesempatan itu, Ani menumpahkan segala perasaanya dalam proses pembuatan kue bersama sang Bunda tersebut. Butuh waktu sekitar satu jam lamanya sehingga terciptalah sebuah maha karya dari ibu dan anak tersebut.
Tada...
"Bukankah ini sangat jenius Bunda?" tanya Ani sambil tersenyum penuh rasa bangga melihat hasil karya mereka.
"Hmmm, benar-benar jenius." Jawab bunda Hani jujur, tapi ia merasa bahwa senyuman Ani memiliki arti yang tersembunyi. "Tapi, Bunda masih meragukan sesuatu." sambungnya untuk mengklasifikasi kecurigaannya.
__ADS_1
"Meragukan apa Bunda?" tanya Ani tidak mengerti sambil mengernyitkan keningnya.
"Apa benar kue ini untuk Lidya?" pancing bunda Hani berharap Ani mengerti maksudnya.
"Iya, memangnya kenapa Bunda?" jawabnya dengan jujur dan masih tidak mengerti dengan maksud dari bundanya.
Bunda Hani menarik nafasnya perlahan, kemudian menanyakan langsung ke intihnya. Ia sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. "Bukan untuk seseorang yang spesial seperti Kakak Ganteng?"
Deg
Seketika jantungnya berdebar kencang, ia pun hanya mampu bergumam di dalam hatinya, "Apa Bunda sudah menyadari sesuatu?" Ia terdiam sejenak sambil menepis kekhawatirannya tersebut.
"Kakak Ganteng yang mana Bunda," tanyanya berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan bundanya. "Pasti Bunda kebanyakan nonton film ya...?!!" Sambungnya dengan nada yang sedang menggoda sang bunda untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah kalau nggak mau curhat Ama Bunda. "Jawab bunda dengan ekspresi yang sedang merajuk, kemudian tersenyum miring dan berucap, "tapi Bunda yakin, suatu saat nanti Kakak Ganteng itu akan menemui Bunda untuk meminta Restu Bunda." Sambung bunda Hani dengan penuh keyakinan kemudian berkacak pinggang layaknya seorang ibu yang sudah memenangkan sebuah undian.
Ani merasa perubahan ekspresi bunda Hani itu sangat lucu, kemudian ia tertawa terbahak-bahak karena perutnya terasa seperti ada yang menggelitik. "Ha-ha-ha, ternyata Bunda narsis juga ya...,"
Siapa sangka, dibalik tawanya yang terbahak-bahak itu ia sedang menangis sejadi-jadi, jauh di dalam sana.
Ia tidak tahu apakah ia mampu menceritakan kemalangan nasibnya dalam percintaan itu kepada sang Bunda untuk saat ini, ataukah ia harus tetap berusaha untuk melupakan kisah cinta pertamanya yang harus layu sebelum berkembang itu. Pilihan yang benar- benar rumit untuknya.
Mungkin ia tertawa terbahak-bahak karena ekspresi Bunda Hani, atau ia menertawakan nasibnya sendiri. Hanya Ani dan Authorlah yang tahu jawabannya, he he he...
Sementara itu disisi yang lainnya, Nurul sedang berkutat dengan selembar kertas dan sebuah bolpoint yang bergerak dengan lihainya diatas kertas surat berwarna merah maroon. Ia sengaja menggunakan kertas itu karena warna merah maroon adalah warna kesukaan sahabatnya.
Ia pun menuliskan sebuah puisi untuk Lidya dan melipatnya dengan teknik khusus sehingga kertas surat itu menjadi sebuah burung.
Iya, burung kertas seperti yang kalian bayangkan Readers.
Keesokan harinya, mereka beraktifitas seperti biasa. Yang sedikit berbeda hanyalah barang bawaan Ani yang terlalu banyak.
Wajar saja kedatangannya menjadi pusat perhatian dari sebahagian siswa yang sedang memperhatikannya.
Namun ia memilih untuk mengacuhkan tatapan-tatapan aneh dari mereka, toh mereka tidak tahu apa-apa dan mereka tidak melakukan apa-apa.
__ADS_1
Dari kejauhan, Nurul tersenyum manis menyambut kedatangannya dan hal hal itu mampu mengalihkan perhatiannya dari tatapan orang-orang terhadapnya.
Ia pun membalas senyuman Nurul sambil mengangkat kotak kue yang akan diberikan untuk Lidya nanti.
Tak lama Lidya datang dengan ekspresi yang tidak jauh berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Ia melangkah dengan langkah yang terasa berat, setiap langkahnya terasa penuh dengan ketidak berdayaan yang setia mengirimnya ke dalam kelas.
Kedua sahabatnya merasa sangat iba, namun mereka tetap menyambutnya dengan senyuman yang tulus. Tak lupa mereka menanyakan keadaannya. Meskipun mereka tahu bahwa Lidya akan menjawab dengan kalimat yang sama. "Aku baik-baik saja."
Ya, seperti yang kalian ketahui bahwa jawaban itu berbanding terbalik dengan keadaan yang sesungguhnya.
Ting
Ting
Ting
Bel masuk pun berbunyi, akhirnya mereka duduk di tempat masing-masing untuk memulai pelajaran.
Nurul dan bersikap seperti biasa-biasa saja agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi siapapun.
Sementara itu, Friska yang sudah menyadari perbedaan dari hubungan persahabatan dari ketiganya merasa turut prihatin, ia berharap semoga mereka akan kembali seperti semula.
Iya sudah berubah, ia ingin menggunakan kesempatan yang diberikan untuk memperbaiki segala kesalahannya.
Tak terasa waktu istirahat pun tiba.
.
.
.
Hmmm, kira-kira akan menjadi seperti apa ya...
Nantikan jawabannya di episode selanjutnya Readers....
__ADS_1
Happy reading...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...