
Sebuah ranjang berukuran 120x200cm yang di balut dengan seprey barwarna biru, dua buah bantal empuk dan sebuah guling serta selimut dengan warna yang senada itu sangat menggoda keduanya.
Mereka bertatapan sejenak, kemudian melirik ka arah kasur tersebut.
Puuk
Kompak, keduanya merebahkan tubuh mereka atas spring bed yang empuk itu, kemudian menutup mata mereka untuk menghilangkan segala beban dan rasa penat yang sangat membebani mereka.
"Sangat nyaman," ucap Nurul kemudian
"Iya, bagaimana perasaanmu?"
"Sudah lebih baik," kemudian Nurul bangun dan duduk di tepi kasur. "Bagaimana caranya kalian bisa menemukanku?"
"Menggunakan teknologi," jawab Lidya seadanya.
"Teknologi seperti apa?" Tanyanya penasaran.
"Pokoknya keren, namanya CCTV." Lidya pun bangun dan duduk di samping Nurul. "Oh iya, siapa wanita yang menggandeng tanganmu dan menyuruhmu masuk ke Bus itu?" Tanyanya dengan penuh telisik.
Nurul pun mencoba memutar ingatannya saat ia melihat kearah kartu tanda pengenal yang tergantung di leher Gadis tersebut "Namanya Chika," kemudian ia menatap ke arah Lidya. "Ya, dia mengatakan bahwa kamu menyuruhnya untuk mengajakku menaiki Bus itu."
"Hmmm, sepertinya ada yang aneh?" Gumamnya sambil mengernyitkan keningnya
Nurul pun paham dengan maksud Lidya. "Ya, dia menipuku."
"Bukan itu,"
"Terus?"
"Untuk apa dia menipumu dan mengapa dia mengenaliku?"
Dengan santainya Nurul hanya mengangkat kedua bahunya mengisyaratkan bahwa ia tidak tahu, ia tidak ingin memperpanjang masalah tersebut. Lagipula sekarang keadaannya baik-baik saja dan tidak kurang satu pun.
Beda halnya dengan Nurul, jiwa detektif Lidya semakin meronta-ronta. "Aneh?!!!"
"Sudah akh, sebaiknya kita bersiap-siap sebentar lagi Dzuhur."
__ADS_1
Kruuk
Kruuk
Kruuk
Terdengar sebuah kode dari perut Lidya, membuatnya cengengesan sendiri sambil mengelus perutnya.
"Dasar ceroboh, sudah jam segini belum ngurus diri sendiri. Lidya... Lidya." celoteh Nurul sambil berkacak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara yang bersangkutan hanya cengengesan sendiri. "He-he-he."
Mereka pun memutuskan untuk mencari makanan di luar, setelah sebelumnya mereka melapor kepada gurunya yang bersebelahan kamar dengan mereka.
Mereka pun memutuskan untuk membeli makanan di sebuah warung yang cukup sederhana yang terletak tidak jauh dari bangunan hotel tersebut. Kemudian memesan menu Ayam bakar geprek yang disajikan di atas sebuah cobek/ulekan.
.....
Malam harinya, guru mereka mengajak mereka untuk mengunjungi sebuah taman yang berada tidak jauh dari hotel tersebut. Taman tersebut hanya dijangkau dengan berjalan kaki selama kurang lebih sepuluh menit.
Udara malam dan pemandang yang indah dengan kerlipan cahaya lampu yang berwarna warni mampu membius penglihatan mereka dalam sekejap. Tak terasa mereka sampai di tempat tujuan.
Berbagai makanan ringan sampai makanan berat tersedia di taman itu, Lidya dan Nurul pun memutuskan untuk membeli jagung bakar dan minuman hangat untuk menemani mereka menikmati keindahan malam di tengah taman yang dilengkapi dengan hiruk-pikuk segala keramaian yang ada di kota tersebut.
Tak lupa mereka saling melemparkan berbagai candaan ringan dan menceritakan kelucuan-kelucuan selama beberapa hari yang telah mereka lewati di kota tersebut.
Lidya dan Nurul hanya menjadi pendengar saja, karena mereka telah sepakat untuk merahasiakan kejadian tadi siang.
Tawa renyah dan berbagai celotehan mewarnai kebersamaan mereka. Yang paling berkesan dari seluruh bualan yang mereka katakan adalah saat seorang teman siswa laki-laki yang bernama Fikri tersandung dan menabrak tiang tembok universitas A karena terpesona ketika melihat seorang gadis cantik yang putih berseri, tersipu sambil mengembangkan senyum manisnya kemudian mengedipkan sebelah matanya kepada Fikri.
Bugh!
Sebuah benjolan pun tumbuh tepat di dahinya yang sampai kini masih terlihat sedikit benjolan yang samar
"Ha-ha-ha,"
"Dasar genit."
__ADS_1
"Kualat!"
"Tobat."
"Hi-hi-hi"
"Lalu, gadis tersebut mendekati dan menolongmu?" tanya Lidya sekedar basa-basi.
Dengan percaya diri Fikri pun menjawab. "Tentu saja,"
"Terus?" tanya seorang teman yang lainnya.
Fikri menoleh ke arah Lidya, "Dia menanyakan namamu Lidya,"
"Aku?" tanyanya sedikit ragu sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya,"
Seketika, Nurul dan Lidya saling bertatapan. Ekspresi Lidya pun berubah menjadi serius, kemudian ia bertanya, "Bagaimana ciri-cirinya?"
"Cantik, putih, berambut lurus sebahu, dan c u k u p s e k s i ." jawabnya jujur dan nada yang sedikit genit.
Sebuah jeweran pun mendarat di telinga layarnya. "Dasar bocah," geram seorang guru yang berada di samping Fikri.
Kedua teman lelaki yang lainnya meringis kesakitan seakan-akan turut merasakan derita yang dialami temannya.
"Ekh, emang kenyataannya Bu," bantahnya sambil mengelus kupingnya yang sakit.
Lidya pun melanjutkan introgasinya, "Apakah gadis itu menyebutkan namanya."
"Pastinya, aku bukan lelaki yang bodoh. Aku menggunakan kesempatan tersebut untuk berkenalan dan mencium pungung tangannya yang sangat wangi dan lembut." Jelasnya dengan nada yang lebay.
"Sepertinya dia sudah mengincar kita sebelum menjalankan rencananya," gumam Lidya di dalam hatinya.
.
.
__ADS_1
.