
Keesokan harinya, mereka telah sepakat untuk menemui Raka di Perpustakaan setelah jam istirahat.
Ketika mereka sampai di Perpustakaan, Raka masih seperti biasanya, tenang dan tanpa ekspresi sama sekali karena ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi,
"Apakah kalian ingin tahu yang sebenarnya?" tanya Raka ketika mereka berada di pintu masuk.
"Bagaimana Bapak tahu tentang hal itu?" tanya Nurul
"Tentu saja, kami ingin tahu kebenarannya." jawab Lidya dengan angkuh.
"Untuk apa?" tanya Raka setelah mematikan laptopnya.
"Hanya untuk memastikannya saja." jawab Lidya santai
"Apa tidak ada maksud lain?"
"Itu bukan urusan Bapak" tegasnya
Mendengar bentakan Lidya, Raka segera mendekati mereka. "Hmmm, jika aku tidak memberitahukan kepada kalian?"
"Maka kami tidak akan membantu Bapak lagi." ancam Lidya sambil membalas tatapan Raka.
"Gadis ini sangat keras kepala." gumamnya di dalam hati.
Raka sudah kehabisan kata-kata untuk menghadapi Lidya. "Baiklah... Kebenarannya adalah yang telah aku katakan kepada Ayahmu semalam Lidya..." jawab Raka dengan penuh penekanan.
"Ani pasti sangat kecewa." gumam Nurul di dalam hatinya kemudian memegang tangannya lembut untuk menguatkan hati sahabatnya itu.
"Sudah kuduga, kak Rendi tidak mungkin melakukan hal itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan perasaanku. Aku bukanlah siapa-siapa baginya."
"Sedangkan kelembutan yang ia berikan kemarin hanya karena merasa bersalah saja."
"Tidak lebih Ani."
"Akh.. Betapa bodohnya dirimu Ani, harapanmu hanya akan menjadi angan-angan semata. Lupakanlah kejadian kemarin dan anggap saja semua itu tidak pernah terjadi."
Gumam Ani sambil menguatkan dirinya agar menerima kenyataan ini dengan ikhlas.
Genggaman hangat dari Nurul berhasil membuatnya untuk tetap tegar.
"Lalu apa maksud dari semua itu?" tanya Lidya karena tidak puas dengan jawaban dari Raka.
"Iya, kenapa Bapak membohongi kami? Tambah Ani
"Karena kalian." jawabnya santai
"Maksud Bapak?"
"Apa kalian akan menyetujui hal itu jika kalian tahu yang sebenarnya?"
"Untuk apa kami menolak niat baik Bapak." jawab Lidya dengan enteng
Sedangkan Ani dan Nurul hanya menganggukkan kepala mereka mengiyakan jawaban Lidya.
Raka sedikit terkejut dengan jawaban itu. Hal ini jauh bertolak belakang dengan perkiraannya.
"Jadi kalian tidak mempunyai rasa dendam padaku?" tanya Raka untuk memastikan apa yang telah didengarnya.
Tawa Lidya pecah mendengar pertanyaan dari Raka. "Ha ha ha... Bapak sangat lucu." ucapnya sambil tertawa renyah.
Hal itu juga membuat Ani dan Nurul tersenyum sambil menahan tawa mereka karena takut jika hal itu akan membuat Raka tersinggung.
Seketika perasaan kecewa yang Ani rasakan tadi menghilang entah kemana. Ia tidak habis pikir jika Raka mengira kalau mereka akan menyimpan dendam kepadanya.
__ADS_1
Ya, mereka bukan gadis yang seperti itu, karena mereka memang melakukan sebuah kesalahan. Walau pun kesalahan itu tidak disengaja, tapi yang namanya kesalahan tetaplah kesalahan kan... Dan mereka harus bertanggung jawab untuk menjalani hukuman.
"Lalu, kenapa kalian menghindar dariku selama ini?"
Disisa-sisa tawanya, Lidya menjawab pertanyaan Raka apa adanya. "Kami hanya waspada saja, karena kami tidak ingin dihukum lagi."
"Hanya itu?"
"Tentu saja."
"Baguslah."
"Si Killer ini ternyata lucu juga ya..." gumam Lidya di dalam hatinya, sambil tersenyum setelah puas menertawai kebingungan si Killer.
Kini Raka sedikit menjauh dari mereka. Dan bersandar di meja stafnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ok. karena kalian sudah di sini, kita akan melanjutkan rencana berikutnya."
"Rencana?"
"Iya, bukankah kalian menyarankan untuk menaruh beberapa pot bunga di dalam ruangan ini."
"Jadi Bapak menyetujuinya?"
"Sepertinya itu tidak buruk."
"Ok. Laksanakan." jawab Nurul
Pekerjaan hari itu berjalan dengan lancar, Nurul mengajak beberapa PO laki-laki untuk mengangkat pot bunga yang sudah disediakan dari beberapa minggu lalu.
Kini Perpustakaan sudah disulap menjadi ruangan yang sangat nyaman.
Mereka merasa puas dengan hasil kerja keras selama beberapa hari ini.
Raka tidak tinggal diam, ia membeli berbagai macam gorengan dan minuman dingin untuk di makan bersama.
Sejak hari itu rasa empati siswa dan siswi terhadap Raka mulai meningkat, mereka mencoba untuk lebih mengenal lagi sosok Raka.
Ya, itulah yang sedang mereka pikirkan saat ini.
Walau pun masih sedikit kaku, Raka mencoba untuk sesekali tersenyum melihat kelucuan dari beberapa siswa yang sedang menggoda siswi yang lain.
"Sangat tampan,"
Wajah tampan tanpa ekpresi kini telah menjadi sosok yang hampir sempurna. Bagaimana tidak,
"Wajahnya terpahat hampir sempurna."
"Senyumnya... Sungguh mempesona"
"Hatinya... Membuatku kagum."
"Dan..."
"Perhatiannya..."
"Akh... Membuatku meleleh ketika melihatnya seperti ini."
Pekik Lidya di dalam hatinya. Sambil mengamati Raka dari kejauhan.
Nurul yang sedang mencari Lidya untuk memberikan bagian makanan dan minumannya segera mendekati Lidya sambil melambai-lambaikan tangan kanannya di depan wajah sahabatnya itu.
Lidya hanya diam mematung sambil memperhatikan Raka, dan tidak menyadari kehadiran Nurul sama sekali.
"Lidya sedang terpesona Nurul." bisik Author.
__ADS_1
Nurul hanya mengernyitkan keningnya ketika tidak ada reaksi apa-apa dari Lidya. Sambil melihat ke arah si Killer yang telah berhasil mencuri perhatian sahabatnya itu.
Dari kejauhan tampaklah Raka yang sedang bercengkrama bersama beberapa siswa sambil tersenyum ringan. Sangat berbeda dari biasanya.
Akhirnya Nurul mengerti apa yang sedang terjadi dan mencoba untuk berbisik di telinga Lidya.
"Apakah Dia sangat tampan?"
"Ya, sangaaat tampan."
"Benarkah?"
Lidya hanya mengangguk.
"Apakah kamu menyukainya?"
"Aku... Jatuh cinta padanya."
"Akh... Aku senang mendengarnya." pekik Nurul sambil memeluk sahabatnya itu. Karena ia sangat terkejut sekaligus bahagia mendengar pengakuan dari Lidya.
Dan hal itu berhasil membuat Lidya sadar dari lamunannya.
*****
Keesokan harinya
Hari ini, semuanya berjalan seperti biasa, rutinitas yang seperti biasanya, cuaca yang seperti biasanya. Hanya ada satu yang berbeda, yaitu tekad yang luar biasa dari seorang Gadis yang Cantik dan imut.
Ya, gadis itu bernama Ani.
"Mulai hari ini aku akan mencoba untuk melupakannya."
"Aku akan membuang segala kenangan tentangnya."
"Aku akan memulai hari dengan harapan yang baru."
"Aku tidak ingin terus disakiti oleh orang sama lagi."
"Orang yang sudah jelas-jelas tidak pernah menghargaiku."
"Orang yang tidak pernah menganggapku sama sekali."
"Selamat tinggal kak Rendi."
Dengan penuh semangat ia mengikrarkan segala tekad yang ada di hatinya sambil membuang buku Diary kesayangannya di dalam tong sampah yang terdapat di depan rumahnya.
.
.
.
.
Hmm... Kasihan si Ani
Yuk Readers semangatin si Ani dengan cara
Vote
Like
Koment
__ADS_1
dan...
Berikan hadiah kalian sebanyak-banyaknya untuk membuat Ani tersenyum lagi. He he he...