
Mereka masih bersikap biasa-biasa saja, seolah-olah mereka tidak mempunyai rencana apapun. Ketika mereka sampai di Perpustakaan, mereka mengucapkan salam seperti biasanya. Namun... Tidak ada jawaban dari Raka meskipun mereka sudah tiga kali mengucapkan salam tersebut.
Lidya hendak berbalik ke kelas tapi niatnya itu langsung dicegah oleh kedua sahabatnya. Mereka merentangkan kedua tangan mereka untuk menghalangi jalan Lidya.
"Jangan kembali dulu Lidya!" cegah Ani.
"Kenapa?"
"Sebaiknya kita masuk dulu." bujuk Nurul sambil merangkul lengannya.
"Iya, siapa tahu sebentar lagi pak Raka akan masuk." tambah Ani.
"Hmmm." jawabnya singkat, ia tidak bisa menolak permintaan mereka.
Mereka pun masuk ke dalam Perpustakaan.
Masih dengan langkah malasnya, Lidya menuju ke tempat favorit mereka. Sementara Nurul dan Ani sengaja berjalan di belakang Lidya, karena mereka ingin merayakan keberhasilan mereka dengan sebuah tossan yang sangat pelan agar tidak diketahui oleh Lidya. "Yes, langkah pertama berhasil." Gumam mereka bersamaan, kemudian mendekati Lidya.
Setelah mereka duduk di tempat masing-masing, Nurul pun memulai percakapan dengan berbagai pertanyaan basi-basinya. Mereka memberikan sekotak kue yang sudah dititipkan Nurul kepada Raka. Tak lupa Nurul memberikan sebuah surat yang sudah ia siapkan semalam.
Adapun puisi yang ditulis Nurul seperti di bawah ini 👇👇👇
Kalau kau sedang rapuh, berhentilah sebentar dan simpan sejenak hatimu
Biarkan dia menyembuhkan diri melalui proses dan waktu
Aku tau segala hal tentang perasaan memang tidak pernah bisa jika harus dijalani dengan terburu-buru
Tapi kau juga harus ingat, jangan terlalu larut meratapi kekecewaan yang tidak sesuai dengan keinginanmu itu
Aku juga menyadari, bahwa perjalanan menuju sembuh itu butuh waktu
Tapi kau juga harus sadar jangan pernah mengabaikan mereka-meraka yang mencintaimu
Orang-orang yang bahkan rela menunggu hanya untuk melihat kebahagiaanmu
__ADS_1
Maka nikmatilah setiap hal yang terjadi dalam prosesmu dengan suka cita
^^^Salam hangat dari sahabatmu^^^
^^^Nurul^^^
Setelah Lidya membaca surat tersebut, ia merasa terharu dan meminta maaf kepada kedua sahabatnya itu. Keadaan pun menghangat seketika, canda dan tawa mereka sesekali terdengar.
"Aku jadi ingat waktu aku jauhin kalian karena Rendi," ucap Nurul ketika teringat kejadian yang lalu.
"Apa hubungannya?" tanya Lidya sambil mengernyitkan keningnya.
"Mungkin tidak ada hubungannya, hanya saja ada sedikit perbedaan."
"Maksudnya?"
"Jika kesalahanku waktu itu adalah menjauhi kalian, kali ini kesalahan kamu adalah mendiamkan kami Lidya...."
"Mendiamkan bagaimana Nurul?"
"Kamu tidak seceria dan seantusias dulu Lidya."
"Bukan hanya itu, kamu memang berada di samping kami. Tapi hatimu tidak bersama dengan kami." sambungnya lagi.
"Apakah hanya karena ketidakpuasan mu dengan hukuman yang diberikan Kepala Sekolah waktu itu sehingga kamu mengabaikan kami?"
"Bukan karena itu Nurul, tapi karena pak Raka. Kalau saja dia tidak datang dan membela Friska dengan ide konyolnya itu, mungkin saat ini Friska tidak berada disekolah ini lagi."
Tanpa mereka sadari, orang yang sedang mereka bicarakan berada di samping rak buku. Karena sedari tadi orang tersebut menguping pembicaraan mereka. Ia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Lidya.
Namun ia tidak menyangka bahwa ialah yang menjadi sumber masalah. Ia tidak bisa menerimanya begitu saja. Ia keluar dari tempat persembunyiaannya dan mengajukan protes. "Owh... Jadi seperti itu?"
"Pak Raka, sejak kapan Bapak ada di sini?" tanya Ani yang sangat terkejut dengan kedatangannya.
Flashback on
__ADS_1
Ketika pelajaran sedang berlangsung, Nurul meminta izin untuk ke toilet. Sebenarnya ia ingin menemui pak Raka untuk bekerja sama dengan mereka.
Mereka meminta kesempatan dari Raka untuk meliburkan mereka dari kursus karena mereka ingin memberikan kue dan surat yang telah disiapkan dari semalam.
Tanpa berfikir panjang, Raka langsung menyetujui ide mereka karena ia juga merasa bahwa beberapa hari ini ada sesuatu yang berbeda dari sikap Lidya.
"Baiklah, aku akan membantu kalian." Ucapnya ketika Nurul mengutarakan maksud mereka.
Flashback off.
Namun sepertinya ada perubahan rencana, karena pak Raka muncul di waktu yang tidak sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
"Kenapa pak Raka muncul tiba-tiba?" tanya Nurul berbisik kepada Ani.
Raka menyadari hal itu, lalu ia mengatakan, "Maaf Nurul, Ani, aku tidak menepati janji karena sahabat kalian yang tidak tahu diri ini." sambil menunjuk ke arah Lidya. Ia tidak terima dengan pernyataan Lidya.
Lidya tidak mau kalah, ia langsung membentak Raka dengan celotehannya. "Bapak yang tidak tahu diri, Bapak hanya magang di sini! Bapak tidak berhak mengatur urusan yang ada disekolah ini."
"Oh... jadi seperti itu, baiklah. Mulai besok aku akan mengundurkan diri dari sekolah ini."
Lidya maju satu langkah mendekati Raka. "Ya, sebaiknya memang seperti itu." jawab Lidya sambil berkacak pinggang.
Nurul dan Ani tidak bisa melerai pertengkaran dari dua orang yang menurut mereka sama-sama hebat itu.
Raka semakin geram dan menggertakkan giginya menahan amarah. Lidyalah orang yang selalu berani membentaknya.
Lidya menggandeng tangan kedua sahabatnya dan berucap. "Ayo Nurul, Ani, kita harus pergi dari sini!"
"Ekh... Tapi..." cegah Nurul sambil menahan bahu Lidya namun Lidya tidak menggubris protes dari sahabatnya itu. Ia semakin menarik tangan Nurul untuk keluar dari ruangan tersebut.
Nurul dan ani hanya bisa pasrah dan melihat ke belakang karena merasa bersalah kepadanya.
"Akh... Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?" Teriak Raka frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya setelah kepergian mereka.
.
__ADS_1
.
.