Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Keputusan Raka


__ADS_3

Ia baru menyadari bahwa ia sudah mengacaukan keadaan yang baru saja membaik tersebut.


Ia memperkeruh keadaan yang sebelumnya sudah menjadi lebih baik.


Tapi di sisi yang lainnya, ia juga tidak terima dengan pernyataan Lidya seakan-akan ialah penyebab dari perubahan sikapnya selama beberapa hari ini.


Ia hanya ingin Lidya mengetahui bahwa tujuan dari keputusannya itu adalah agar Friska berubah menjadi lebih baik lagi.


Tapi sepertinya ia sudah tidak mempunyai harapan lagi, ia harus mengundurkan diri dari sekolah itu. Mungkin keputusannya terlalu buru-buru tapi ia sudah terlanjur sakit hati dengan perkataan Lidya.


"Bapak yang tidak tahu diri, Bapak hanya magang di sini! Bapak tidak berhak mengatur urusan yang ada disekolah ini."


Ia merasa harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya. Ia tidak bisa memberikan toleransi lagi kepada Lidya.


Sementara itu di dalam kelas, mereka hanya diam membisu. Nurul dan Ani tidak tahu harus membela siapa kali ini.


Di sisi lain Raka memang tidak bersalah, tapi ia juga tidak menepati janji.


Di sisi yang lain, Lidya sudah keterlaluan dalam perkataannya dan langsung melontarkan kalimat yang kurang baik terhadap Raka, tapi bagaimanapun Lidya adalah sahabat mereka.


Baru saja mereka merasakan hubungan mereka kembali harmonis, namun seketika menjadi keruh, bahkan lebih keruh dari yang sebelumnya.


Kita kembali ke Perpustakaan Readers...


Raka yang sedang dilanda kebingungan tersebut berusaha mengalihkan perhatiannya dengan menyelesaikan makalah di laptopnya, tapi bayangan Lidya terus saja menghantuinya.


Seakan-akan ia bisa merasakan jejak jari-jemari Lidya di keyboardnya. Ia mengusap wajahnya kasar, dan menghembuskan nafasnya dengan kasar pula untuk menumpahkan kekesalannya.


Tak lama kemudian, terdengar suara seorang gadis yang mengucapkan salam.


"Waalaikumussalam," jawabnya sambil menoleh sekilas ke sumber suara, "ada apa Friska?"

__ADS_1


Friska maju beberapa langkah untuk mendekati Raka dan mengutarakan maksud kedatangannya. "Maaf Pak, sebenarnya tadi saya mendengar pertengkaran yang terjadi antara Bapak dan Lidya." ucapnya dengan nada yang sedikit ragu.


"Iya, lalu kenapa."


Friska pun, megumpulkan segala tekadnya dan mengucapkan, "Jika memang kepergian saya dari sekolah ini dapat mengembalikan keadaan seperti semula, saya bersedia Pak." ucapnya dengan satu nafas.


Raka hanya tersenyum samar mendengar niat baik dan ketulusan dari Friska, "Tidak perlu Friska, sayalah yang harus ke luar dari sekolah ini. Memang benar apa yang dikatakan Lidya, saya bukan siapa-siapa di sekolah ini." tolaknya dwngan halus sambil tersenyum.


"Tapi Pak."


Raka pun berdiri dari duduknya, kemudian ia memegang bahu Friska. "Sudahlah, tugas kamu hanyalah menepati janji yang sudah kamu ucapkan beberapa hari yang lalu."


"I... iya Pak." jawab Friska sedikit gugup karena ia kaget saat Raka memegang bahunya tersebut.


.....


Malam harinya di rumah Rendi, tampaklah seorang Pria yang sedang mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke kota B.


Ya, Raka sengaja langsung pulang ke rumah setelah sholat Maghrib untuk mengemasi barang-barangnya karena ia ingin menghindar dari berbagai pertanyaan yang akan dilontarkan Rendi nantinya.


Ketika ia selesai berkemas, Raka menyembunyikan kopernya di kolong tempat tidur.


Tak lama kemudian Adzan Isya berkumandang, Raka pun kembali ke Mesjid menggunakan sepeda motornya agar tidak terlambat.


Rendi yang belum menyadari keanehan dari sikap Raka tersebut tidak menaruh kecurigaan sedikit pun kepada Raka.


Setelah selesai melaksanakan sholat Isya, Raka ingin meminta maaf sekaligus berpamitan kepada Nurul dan Ani karena mulai esok ia tidak datang lagi ke sekolah mereka.


Ia sudah mengundurkan diri sebelum jam pulang sekolah berakhir, sebenarnya Kepala Sekolah membujuknya untuk tetap berada di Perpustakaan. Namun ia tetap bersikeras dengan keputusannya itu.


Jika di ingat-ingat lagi, masa magangnya baru sekitar dua bulan, itu artinya masih ada waktu satu bulan lagi sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.

__ADS_1


Dengan berat hati Kepala Sekolah merelakan kepergian Raka, meski hanya dalam waktu dua bulan itu, Raka mampu mengukir berbagai kenangan manis selama ia magang di sekolah yang di pimpinnya.


Sebagai ucapan terima kasih Kepala Sekolah menyerahkan honornya seratus persen tanpa potongan karena mereka sangat berterima kasih atas segala sesuatu yang telah ia lakukan selama ini.


Raka yang tidak mengetahui hal tersebut, langsung menerimanya tanpa memeriksa jumlahnya terlebih dahulu karena saat itu keadaan emosinya yang kurang stabil.


"Apakah Bapak percaya dengan omongan Lidya yang sedang dilanda amarah?" tanya Nurul ketika Raka mengucapkan kata permintaan maaf dan berpamitan dengan mereka.


"Ya, bagaimanapun dia telah mengatakan yang sebenarnya."


"Tapi saat itu ia sedang emosi Pak, bukankah di setan membisikkan hal-hal yang tidak bagus?!"


"Mungkin," jawabnya dingin.


Nurul masih tidak menyerah, "Bukankah Bapak menyukainya?


"Apakah Bapak rela berpisah dengan cara seperti ini?


"Apakah Bapak sudah mengatakan kata perpisahan kepadanya?"


Tanya Nurul dengan nada yang menekankan. Ia berharap Raka dapat membatalkan kepergiannya, setidaknya sampai hubungan mereka mambaik.


.


.


.


Hmmm, Author baru menyadari ternyata sudah bab 100.


Apakah kalian juga merasakan hal yang sama?

__ADS_1


__ADS_2