
* Perpustakaan sekolah
Setelah menyelesaikan santapan siang mereka pun memulai perbincangan dengan sangat serius.
"Aku sudah nggak sabar nih, ceritain dong," desak Ani
"Kayaknya Lidya yang harus mulai duluan deh." ucap Nurul sambil memberikan kode kepada Lidya.
"Iya, iya.... maaf An, aku yang ngambil buku Diarymu."
"Hah.... Kapan Lid ?? Dimana ?? Kenapa ?? Buat apa ??"
"Tenang An, jangan langsung nyerbu gitu aja, Lidya jadi bingung kan jawabnya."
"Uummm..." ucap Lidya ragu ragu "Tapi kamu harus janji dulu." sambungnya.
"Akh... Kamu bikin penasaran aja Lid"
"Janji dulu An..." desak Lidya
"Iya.. iya... aku nggak bakalan marah sama kalian."
"Sebenarnya aku ngambil buku itu ketika aku menginap di rumah kamu saat kamu lagi patah hati." ucap Lidya dengan satu nafas
"Akh... Kamu jahat Lid"
"Bukan gitu An, waktu itu aku pikir siapa tahu aja bisa bermanfaat. Jadinya... " kemudian mengangkat kedua alisnya untuk memberikan kode kepada Nurul agar Nurul melanjutkan arah pembicaraan mereka.
"Iya, kami berencana untuk memberikan buku itu kepada kak Rendi." sambung Nurul.
"Siapa tahu aja kak Rendi berubah haluan." sambung Lidya
"Uumm... Kalau di pikir-pikir benar juga sih, tapi aku jadi malu kalau ketemu sama kak Rendi."
"Nggak apa apa juga kali, siapa tahu aja setelah melihat wajahmu yang kemerah-merahan ini bisa membuat hati pangeranmu terpesona, ha ha ha....." ucap Nurul kemudian tertawa lepas.
"Iissh... Kalian jahat bangat sih." celoteh Ani
"Ha ha ha.... Wajah kamu jadi merah merona An " tawa Lidya pun pecah ketika melihat wajah Ani yang bertambah merah.
"Iisshh... Aku pergi aja akh." rajuk Ani
"Ya udah keluar aja sana, biar dilihatin banyak orang, ha ha ha...."
Suara tawa pun menggelegar di ruangan itu.
"Ha ha ha ... Aduh, perutku sakit An ha ha ha....."
"Ehem... ehem... kalian yang di sebelah boleh diam nggak?" tiba-tiba terdengar suara seorang laki laki yang berasal dari rak buku sebelah.
__ADS_1
Dengan gerakan refleks Lidya menutup mulutnya. "Ow ow ternyata ada orang lain di sini," bisik Lidya.
"Iya, iya aduh perutku masih sakit nih, ha emm.." ucap Nurul kemudian menutup mulutnya dengan tangan.
Ani pun mendekati kedua sahabatnya "Kira kira siapa ya...," tanya Ani.
"Bukankah ini masih jam istirahat?" tanya Nurul
"Iya juga sih, kita labrak aja gimana?" usul Lidya.
"Jangan, gimana kalau guru baru, suaranya kayak orang yang sudah dewasa gitu." ucap Nurul
"Terus gimana nih." sambung ani mulai panik.
"Kita keluar aja deh." usul Lidya
"Terus wajah merona Ani gimana?"
Bugh..
Sebuah pukulan melayang di lengan Nurul
"Lagi panik nih, jangan bercanda dong" celetuk Ani.
"Sakit An..." rintih Nurul sambil memegang tangannya yang sakit.
"Hei, hei" ucap Lidya sambil menggerak gerakkan buku di tangannya, "Kita tutupin pakai buku aja." sambungnya.
Aksi saling dorong pun dimulai, tak lupa mereka menutupi wajah dengan buku.
"Kamu duluan Nur." ucap Lidya
"Kamu aja." ucap Nurul sambil menarik lengan Ani maju ke depan
"Iisshh kamu..." ucap Ani menarik lengan Nurul.
"Ehem... ehem... Kalian bertiga lagi ngapain?" seorang Pria dengan tubuh tinggi tegap datang menghampiri mereka.
"Eh anu"
"Eh itu..."
"Ah... Tikus" teriak Lidya
Mereka bertiga pun lari sekencang kencangnya meninggalkan orang yang tak dikenal itu.
Ya, "Orang yang tak dikenal" itulah julukan mereka.
"Dasar anak-anak nakal " ucap orang yang tak dikenal itu sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jadi salah satu dari mereka bernama 'Nur'" gumamnya.
Nama itulah yang terucap ketika adegan saling dorong terjadi.
* Di kelas
"Huft.. huft... akhirnya sampai juga ke kelas." ucap Ani dengan perasaan lega.
"Iya, kalian tadi sempat lihat wajahnya nggak??" tanya Nurul
"Nggak sempat, habisnya panik bangat."
"Iya, aku juga." sambung Lidya
"Tapi ide kamu oke juga Lid." sambil menepuk punggung Lidya.
"He he he... Siapa dulu dong." ucap Lidya dengan bangga
"Kalau ketemu lagi gimana?" tanya Ani
"Kayaknya Basecamp kita udah nggak aman lagi deh." ucap Nurul
"Iya, kalau balik ke sana lagi nanti katahuan"
"Hmmm...." jawab Nurul singkat, "Udah ah, perutku sakit bangat nih." sambil memegang perutnya.
Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi.
Akhirnya mereka melanjutkan pelajaran seperti biasa.
Tanpa mereka sadari, buku Diary Ani tertinggal di dalam perpustakaan.
.
.
.
Hay Readers
Jangan lupa
Like
favorit
Koment
__ADS_1
Votenya ya...
Happy reading Readers