
Keesokan harinya
Sesuai dengan janji mereka, akhirnya mereka ke Perpustakaan setelah menghabiskan bekal makan siang.
"Assalamu'alaikum..." ucap Nurul mewakili kedua sahabatnya.
"Waalaikumussalam.." jawab Raka tanpa menoleh ke arah mereka.
"Aku harus berani bertanggung jawab." bisik Lidya di dalam hatinya.
Lidya hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Hal itu ia lakukan beberapa kali sampai ia merasa tenang.
Akhirnya mereka memasuki ruangan dan berbaris membentuk saff di depan meja staf Raka.
1
2
3?
Menoleh sekilas ke arah mereka.
"Lidya." gumamnya di dalam hati
Kemudian tersenyum tipis dan mematikan Laptopnya.
"Bagaimana kabarmu Lidya?" tanya Raka ketika berada di samping Lidya.
Lidya hanya menunduk malu, ia sangat malu ketika teringat kejadian kemarin.
"Aku baik-baik saja," jawabnya sambil menunduk.
"Mungkinkah Dia akan menghukumku?" batin Lidya
"Ternyata, Dia tidak sekeras yang terlihat, hatinya cukup lembut." gumam Raka di dalam hatinya sambil mengamati Lidya yang terus menunduk.
"Baiklah aku tidak akan merusak kesempatan ini," gumamnya kemudian.
"Anggap saja kejadian kemarin tidak pernah terjadi." bisik Raka di telinga Lidya dengan sangat pelan agar tidak terdengar oleh Nurul dan Ani.
"Alhamdulillah..." ucap Lidya sambil memegang dadanya, dan mengangkat wajahnya.
Sungguh, ia sangat lega. Bagaimana pun ia telah melakukan kesalahan yang tidak kecil.
Ya, walau pun itu hanya gerakan refleks, tapi...
Sudah sangat keterlaluan kan...
Karena apapun alasannya, Raka adalah penyelamatnya dari serangan tikus kecil.
"Hmmm, ekspresinya sangaaaat lucu, sungguh menggemaskan." gemes Raka di dalam hatinya ketika melihat Lidya mengangkat wajahnya, yang saat itu masih menyisakan warna merah merona di pipinya karena sedari tadi menahan malu.
"Ehem...." akhirnya Raka berdehem untuk menetralkan perasaannya yang sangat ingin mencubit pipi Lidya yang merona itu.
"Baiklah pertemuan kali ini adalah membahas tentang bagaimana cara agar pengunjung di Perpustakaan dapat meningkat." ucap Raka untuk memulai pertemuan.
"Akh... Ternyata Dia benar-benar tidak mengungkit masalah kemarin, kalau Ani tahu Dia pasti akan mengejekku habis-habisan." gumam Lidya di dalam hatinya.
"Sepertinya Pak Raka sudah memaafkan Lidya." gumam Nurul di dalam hatinya.
__ADS_1
Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya. "Maaf Pak, apa boleh kita diskusi sambil duduk di sana saja?" tanyanya dengan hati-hati sambil menunjuk kursi panjang yang tersedia di dalam Perpustakaan.
"Ya, apapun alasannya tidak mungkin kan diskusi sambil berdiri." gumam Author.
Mendengar pertanyaan Nurul membuat Raka menyadari kecerobohannya.
Ya, Dia akan berubah menjadi seseorang yang ceroboh jika sudah berhadapan dengan Lidya.
Akhirnya mereka duduk di bangku yang tersedia di Perpustakaan dengan posisi Lidya di tengah.
Posisi duduk mereka adalah 3 vs 1.
Dan secara tidak langsung, Lidya dan Raka saling berhadapan, hanya di batasi sebuah meja panjang.
Lidya tak mampu mengangkat kepala untuk menatap Raka secara langsung, ia hanya bisa sesekali mencuri lihat ke arah Raka yang berada tepat di hadapannya.
Diskusi pun berlangsung dengan serius, dengan Nurul sebagai juru bicaranya. Karena di antara mereka, hanya Nurullah yang sudah berani mengangkat suaranya.
Ya, bagaimana pun ia adalah seorang Ketua OSIS yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Hanya saja perbedaan kali ini adalah menghadapi si Killer. Ya walau pun si Killer ini sudah tidak se Killer ketika pertama kali bertemu.
Si Killer yang berada di hadapan mereka saat ini adalah si Killer yang sudah bisa memaafkan seorang Gadis yang telah menggigit bahunya tanpa memberikan hukuman sedikit pun.
"Ok, aku setuju dengan ide kalian, besok sore, kita akan berkumpul lagi di tempat ini." ucap Raka menyetujui usul Nurul untuk membenahi ruang Perpustakaan menjadi lebih baik lagi untuk menciptakan kenyamanan bagi setiap pengunjungnya.
Awalnya ini adalah salah satu program OSIS yang sempat tertunda karena kesibukan mereka dalam memperingati hari Isra Mi'raj beberapa minggu lalu.
"Ekh... Isra Miraj, mengingatkanku pada seorang pangeran yang bernama Ari." gumam Author.
"Kalian juga pasti teringat kan..." tanya Author.
"Ekh... Kenapa jadi bahas Isra Mi'raj sih." rutuk Author kepada dirinya sendiri.
NEXT
"Aku akan mengajak Rendi agar pekerjaan cepat selesai." usul Raka
"Akh... Akhirnya aku bisa bertemu dengan kak Rendi lagi." teriak Ani di dalam hatinya.
Tanpa sadar Ani menyunggingkan senyum manisnya sambil membayangkan sosok Rendi yang sedang tersenyum di hadapannya.
"Jam berapa kita akan berkumpul?" Ucapan Nurul berhasil mengembalikan kesadaran Ani.
Karena terlalu semangat ingin segera bertemu dengan pujaan hati, Ani melupakan sosok Killer yang berada di hadapannya.
"Bagaimana kalau setelah sholat Ashar? tanya Ani dengan refleks, sambil mengangkat jari telunjuk kanannya dan menoleh ke arah Nurul.
Dan itu merupakan kebiasaan mereka ketika akan menyampaikan sebuah pendapat ketika sedang berdiskusi.
"Sepertinya ada yang sudah lepas kendali," gumam Raka setelah melihat reaksi Ani sambil tersenyum samar.
"Hmmm." jawabnya singkat
Deheman Raka membuat Ani menyadari kecerobohannya, ekh salah, jika Ani sudah lepas kendali.
Ting
Ting
__ADS_1
Ting
Bel masuk pun berbunyi.
Akhirnya Lidya bisa bernafas lega, setelah menahan diri untuk terus diam dan tidak mengangkat suara lagi. Karena terlalu malu untuk menatap si Killer yang berada tepat di hapannya.
"Sebaiknya kalian segera kambali ke kelas." ucap Raka karena sudah saatnya untuk menyudahi pertemuan kali ini.
Mendengar ucapan Raka, Lidya adalah orang yang pertama bereaksi.
"Ayo Nurul, Ani." ucapnya sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya itu.
Ani yang merasa heran dengan tingkah Lidya hanya mengernyitkan keningnya dan bergumam di dalam hatinya.
"Mengapa Lidya seperti orang panik?"
"Bukankah Raka adalah sang penyelamatnya?"
"Apakah Dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Lain halnya dengan Ani, Nurul langsung berdiri dan mengikuti Lidya.
Ani yang masih tetap dengan kebingungannya tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti mereka.
Akhirnya mereka meninggalkan si Killer sendirian di ruangan itu.
"Ternyata Dia masih merasa bersalah sampai-sampai tidak berani bersuara sama sekali selama diskusi."
"Namun tetap masih sangat berhati-hati seperti biasanya."
"Hmmm, Gadis yang cukup unik"
Gumam Raka mengiringi kepergian mereka.
Tanpa ia sadari
Benih-benih cinta pun mulai tumbuh di relung hatinya.
Bagaimana pun ini adalah pertama kalinya Raka mengagumi seorang Gadis.
Ya, walau pun usianya sudah beranjak 20 tahun, namun hal itu bukan berarti bahwa Dia adalah seorang Pria yang mudah untuk mengagumi seorang Wanita.
Lebih tepatnya adalah Lidya adalah Cinta Pertamanya yang belum ia sadari sampai saat ini.
Raka yang memiliki sifat Killer sejak kecil, menjadikannya susah untuk berhubungan dengan yang namanya Wanita.
Ya, meski pun tampan, siapa juga yang ingin berhubungan dengan Cowok Killer. Gumam Author mewakili someone pretty girls yang berada dalam masa lalu Raka.
.
.
.
.
Kalian juga setuju kan...
Dengan Author versi someone pretty girls?
__ADS_1
Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya...
Happy Reading Readers...