
Refleks Lidya menoleh ke arah laptop untuk melihat tampilan yang berada di hadapannya. Dengan ragu-ragu ia mengangkat kepalanya,
Dan...
Cahaya bintang pun bersinar dari matanya, karena melihat sesuatu yang sangat amazing. Ya, ia merasa hal itu sangat luar biasa. Menjadikannya tidak dapat menyembunyikan ekspresi kekagumannya.
Dengan enteng ia mengangkat suaranya,
"Bagaimana cara menggunakan fitur ini Pak?"
"Hmmm, ternyata aku sudah tahu kelemahannya." Gumam Raka di dalam hatinya
"Bolehkah aku duduk di sampingmu?" tanya Raka sambil mengangkat kedua keningnya.
"Tentu saja." jawabnya santai tanpa ada tekanan sama sekali. Rasa canggung, deg-degan dan takut yang tadi ia rasakan telah menguap entah kemana.
Kini ia menjadi dirinya sendiri, lebih berani dan merasa rileks dengan kehadiran Raka yang berada di sampingnya.
Klik
Klik
Tak
Tak
Tak
Bunyi mouse dan keyboard mengisi ruangan itu, sesekali terdengar suara Raka yang menuntun Lidya.
Dengan penuh semangat Lidya mengikuti seluruh instruksi dari Raka tanpa perasaan sungkan lagi.
Raka hanya memperhatikan Lidya dengan seksama tanpa memperdulikan apa yang sedang dilakukan gadis itu. Ia sangat bahagia berada dalam satu ruangan bersama Lidya tanpa ada rasa takut atau pun enggan darinya. selain itu ia bisa sepuasnya melihat wajah Lidya dengan berbagai macam ekspresi ketika sedang serius bereksperimen dengan ikon word art tersebut.
Raka menopang wajahnya dengan tangan kanannya sambil melihat ke arah Lidya sambil tersenyum simpul. Ia merasa sangat bahagia.
__ADS_1
Sementara orang yang sedang ditatap tersebut tidak menyadarinya sama sekali. Ia tetap fokus mengekspresikan imajinasinya.
Tanpa mereka sadari ada sekelompok gadis yang sedang mengintip untuk melihat keakraban dari mereka. Senyuman licik pun terlukis di wajah kelompok gadis tersebut.
"Kita tunggu sebentar lagi."
"Hmmm."
Sementara itu di tempat yang lainnya, tepatnya di ruang OSIS. Nurul dan Ani mendapat instruksi dari pembina untuk menyiapkan segala keperluan dalam rangka serah terima kepengurusan dari Ketua OSIS yang lama kepada Ketua OSIS yang baru saja terpilih.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengajak seluruh PO untuk melaksanakan rapat saat itu juga. Tapi mereka sengaja membiarkan Lidya agar tidak mengganggu sepasang calon kekasih tersebut.
Tak lama kemudian, rapat pun dimulai. Kegiatan pembelajaran di undur sementara waktu. Selama 30 menit mereka berkumpul untuk mendiskusikannya.
Setelah semuanya sudah fix, akhirnya mereka bubar untuk kembali ke kelas masing-masing.
"Masih tersisa 15 menit lagi sebelum masuk, apa kita akan kembali ke Perpus?" tanya Ani setelah melihat jam tangan berwarna pink yang melingkar di tangan kirinya itu.
"Hmm, kita kembali ke kelas aja An,"
"Tapi..."
"Terus, kita akan ke mana?"
"Duduk di sana saja." jawab Nurul sambil menunjuk ke arah pohon ketapang yang sangat rindang, yang terdapat tidak jauh dari kelas mereka.
"Hmmm."
Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tersebut.
"Tunggu sebentar ya..." ucap Ani setelah beberapa detik duduk di samping Nurul, karena ia merasa tenggorokannya kering.
"Kenapa?"
"Aku mau beli es buah dulu di sana."
__ADS_1
"Siip." jawab Nurul singkat.
Tak lama kemudian Ani kembali sambil membawa 2 bungkus es buah di tangannya. Sambil menikmati hembusan angin yang sepoi-sepoi, kedua sahabat itu bertanya-tanya apakah yang sedang terjadi di dalam Perpustakaan. Berbagai macam bayangan melintas di pikiran mereka.
Sesekali mereka tertawa cekikan ketika membayangkan ekspresi Lidya yang malu-malu dengan perubahan wajah yang sudah kemerah-merahan tentunya.
"Hi hi hi... Pasti Dia sangat gugup."
"Iya, apa kamu juga merasa hal yang sama jika bersama dengan Ari?"
"Tentu saja, bukan hanya gugup, malu, takut, gengsi, dan masih banyak lagi deh. Pokoknya semua rasa itu menjadi satu. Yang pastinya aku merasakan sebuah kebahagiaan dan kenyamanan jika bersama dengannya." Jawab Nurul sambil melihat ke atas langit seakan-akan gumpalan awan yang berada di langit itu melukiskan sosok yang sedang dirindukannya.
"Ya, aku bisa merasakan hal itu juga jika bersama dengan kak Rendi," sambung Ani sambil mengikuti Nurul melihat ke arah langi yang sama. "Tapi... Nasib kita sangat berbeda, karena di saat yang bersamaan aku juga merasa sakit yang sangat pedih, seperti_." dengan seketika bayangan awan yang menggambarkan wajah Rendi menyebar begitu saja.
"Sudahlah An, buat apa kamu masih mengingatnya lagi." Sela Nurul karena ia tidak ingin sahabatnya itu merasakan kepedihan di hatinya lagi.
Ani hanya bisa tersenyum paksa agar Nurul merasa bahwa ia sudah baik-baik saja. Ya, ia sudah tidak secengeng dulu. Perlahan ia bisa menahan rasa sakit yang sudah sangat akrab di hatinya itu. Ia hanya bisa berharap suatu saat nanti rasa ini pergi dari dalam hatinya agar ia tidak perlu untuk merasakan yang sama lagi...
"Oh iya, bagaimana kalau kita ke Perpustakaan saja." ucap Nurul mengalihkan pembicaraan agar Ani tidak akan larut dalam kesedihannya lagi.
"Untuk apa, bukannya tadi_"
"Nanti kamu akan tahu sendiri Ani, ayo!" sela Nurul kemudian menarik tangan Ani.
.
.
.
.
Ayo Readers, berikan dukungan kalian sebanyak-banyaknya biar Author semakin semangat nge Upnya.
Kayaknya Author butuh secangkir kopi deh. Hi hi hi....
__ADS_1
Bercanda Readers
Happy reading....