
Dengan senyuman yang begitu kaku Lidya menyambut kedatangan Raka dan Rendi. Ia baru saja teringat tentang kejadian tadi siang di ruangan OSIS.
Berbeda halnya dengan Lidya, Raka dan Rendi justru terlihat sangat senang dengan kedatangan dari keduanya.
Saat ini Rendi tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dan terus menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat lebar di wajahnya. lebih tepatnya ia sangat terharu dengan kehadiran Nurul.
Ingin rasanya ia memeluk erat tubuh gadis tersebut dan tak ingin melepaskannya sedetik pun.
Ekspresi Rendi tersebut tak lepas dari pandangan bunda Hani. Membuatnya gemes sendiri ingin menjewer telinga anaknya tersebut. "Bisa-bisanya Dia menatap Nurul se intens itu, anak ini membuatku greget saja dengan tingkahnya." batin bunda Hani.
Ketika bunda Hani mengedarkan pandangannya ke arah Raka, tampaklah wajah seorang Pria yang sedang tersenyum samar dengan menahan perasaan senang demi mempertahankan harga dirinya di hadapan para gadis.
"Sungguh dua sifat yang sangat bertolak belakang." ucap bunda Hani di dalam hatinya sambil memperhatikan keduanya.
Di sisi yang lainnya, Nurul dan Lidya masih tertunduk, diam membisu menantikan sebuah suara yang dapat memecahkan keheningan yang sedang melanda mereka saat ini.
Tak lama kemudian bunda Hani mengangkat suaranya.
"Mengapa kalian terlambat pulang?" tanya bunda Hani sambil berkacak pinggang.
Namun tak ada jawaban dari keduanya, bunda Hani pun melanjutkan pidatonya. "Sudah cukup lama Nurul dan Lidya menunggumu Raka."
Plaakk
Kepala Rendi terasa sakit bagaikan dihantam sebuah palu yang terbuat dari gabus, he he he...
__ADS_1
Ia merasa menjadi kecil dalam sekejap akibat pukulan tersebut.
Ia menjadi orang yang paling kecil diantara mereka, senyuman lebarnya pun seketika memudar dwngan sendirinya. Ia sadar bahwa harapan dan impiannya tak akan pernah terwujud. Dengan berat hati ia melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Sedih rasanya Author membayangkan betapa berantakannya hatimu saat ini Rendi." gumam Author penuh keprihatinan.
Bunda Hani turut merasakan kepedihan yang dialami anak bungsunya tersebut. Dengan perasaan sungkan ia meninggalkan mereka setelah berpamitan untuk mengejar Rendi yang sedang patah hati.
Setelah kepergian Rendi dan bunda Hani, Raka mengambil alih peran sebagai tuan rumah. Kemudian ia menanyakan tujuan dari kedatangan mereka.
Lidya pun hanya menyenggolkan sikunya ke siku Nurul untuk memberikan kode bahwa Nurullah yang harus menjawab pertanyaan dari Raka tersebut.
Ia tidak berani mengangkat suaranya saat ini, perasaannya sudah diselimuti dengan perasaan bersalah. Walaupun kenyataannya hanya sebuah ketidak sengajaan, tapi sepertinya hal itu cukup menyakitkan. Buktinya saja sampai saat ini kepalanya masih terasa ngilu ketika teringat dengan kejadian itu.
Nurul menerima sinyal dari Lidya tanpa hambatan apa pun. Dengan hati-hati ia mengucapkan bahwa, "Sebenarnya kedatangan kami menyangkut hilangnya flashdisk yang akan digunakan untuk kegiatan besok."
Bagaikan disambar petir, rasa sangat terkejut bukan main setelah mendengar perkataan dari Nurul.
Ia pun mengayunkan langkah beratnya untuk mendekati Lidya. Dengan penuh amarah ia bertanya, "Bagaimana bisa, bukankah flashdisk tersebut ada padamu Lidya?"
Sambil menggertakan gigi dan bola mata yang sudah membulat sempurna ketika ia menatap Lidya.
Baru saja tadi siang ia menepis fikiran negatifnya terhadap Lidya, kini ia sudah di hadapkan dengan kenyataan yang sungguh di luar dugaannya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Lidya kali ini.
Nurul yang menyaksikan langsung kejadian tersebut membayangkan saat ini pak Raka menjelma seperti seekor singa jantan yang sudah bersiap untuk menghantam mangsanya yang sudah tidak berdaya lagi di hadapannya.
__ADS_1
Apalagi Lidya, ia merasa seperti sekuntum bunga layu yang baru saja disirami air panas. Tak berdaya dan sangat memprihatinkan.
Sungguh di luar dugaan, Nurul yang tadinya hanya diam saja tiba-tiba ia mempunyai kekuatan super untuk menengahi keduanya.
Nurul menarik lengan Lidya dan menyebunyikan wajah sahabatnya itu dibalik punggungnya. Tanpa berfikir dua kali ia mengucapkan, "Jangan salahkan Lidya Pak, jika Bapak tidak ceroboh, mana mungkin Friska dan kedua temannya mempunyai kesempatan untuk mencuri flashdisk tersebut." ucap penuh keberanian dan tatapan yang tajam.
Raka hanya mengernyitkan kedua dahinya karena ia tidak mengerti maksud dari ucapan Nurul.
Nurul pun melanjutkan pembelaannya. "Lidya hanyalah korban dari kecerobohan Bapak. Yang seharusnya Bapak hakimi adalah teman sekelas kami yang bernama Friska itu." sambungnya dengan nafas yang tersengal-sengal, baru kali ini ia mempunyai keberanian untuk berhadapan dengan si Killer.
Raka masih belum terlalu jelas dengan apa yang diucapkan Nurul. Ia belum bisa mengambil kesimpulan dari sebuah kenyataan yang baru saja ia dengar dari Nurul tersebut.
Lidya merasa terharu dengan pembelaan dari sahabatnya itu, lalu ia berdiri di samping Nurul. Ia tidak mungkin membiarkan Nurul menghadapi Raka sendirian. Yang seharusnya Lidyalah yang menjadi pelindung Nurul. Tanpa banyak basa-basi lagi ia mengucapkan,
"Jika Bapak masih mempercayai kami, izinkan kami memperbaiki kesalahan kami. Kami hanya ingin menyalin file-file yang berada di laptop Bapak di flashdiskku ini." ucapnya sambil menyodorkan sebuah flasdisk yang berwarna maroon kepada Raka.
Raka sangat terkejut dengan kekompakkan dan ikatan batin dari dua gadis yang sedang ia hadapi kali ini. Baru kali ini ada orang yang berani memojokkannya seperti saat ini.
"Mungkinkah selama ini aku terlalu memanjakannya sehingga ia bersikap seenak saja." gumamnya di dalam hati.
"Baiklah. Tapi bagaimanapun caranya, kalian harus mengembalikan flashdisk yang dicuri teman kalian tersebut." jawab Raka karena di dalam flashdisk tersebut terdapat beberapa file penting yang menyangkut tugas-tugas kuliahnya.
"Kami akan menyerahkannya kepada Bapak setelah kegiatan besok." Ucap Nurul dengan mantap dan di angguki oleh Lidya.
.
__ADS_1
.
.