Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)

Cinta 3 Serangkai (3 Sahabat)
Aw... was Lidya!


__ADS_3

Dari kejauhan, Raka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam. "Gadis itu masih sama keras kepalanya."


Sementara Friska harus menelan mentah-mentah kegagalannya. Ia tidak berhenti sampai di situ saja. Kemudian ia mengajak kedua temannya untuk menemui Raka.


"Bapak sudah lihat bagaimana hasilnya kan...


"Lidya itu gadis yang keras kepala, ia tidak mungkin akan memaafkanku begitu saja Pak."


"Terserah kamu Friska, jika memang kamu ingin dilaporkan maka_"


"Ekh, jangan Pak." cegah Friska panik. "Bisa-bisa aku di keluarkan dari sekolah ini." Gumamnya di dalam hati.


"Kalau begitu pikirkan sendiri caranya!" ucap Raka dengan raut wajah yang dingin.


"Waktu kamu hanya tiga hari Friska." Tambahnya kemudian ia beranjak dari tempat itu dan meninggalkan mereka begitu saja.


"Akh... kenapa aku harus terjebak di antara dua orang yang sama-sama galak sih." celoteh Friska untuk menumpahkan kekesalannya.


Kedua temannya pun hanya diam membisu sambil tersenyum kecut menanggapi celotehan Friska.


Sementara itu di sisi yang lainnya, Nurul dan kedua sahabatnya sedang menunggu kehadiran dari Raka sambil bertanya-tanya, "Kenapa pak Raka tidak berada di tempat seperti biasanya?"


Tak ada satu orang pun yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.


Tak lama kemudian orang yang sedang mereka bicarakan itu muncul di hadapan mereka.


Dengan gaya cueknya, ia duduk di kursi staffnya dan mengeluarkan laptop dari tas penyimpanan.


"Bapak dari mana saja?" tanya Lidya setelah berada di hadapan Raka.


"Ada sedikit urusan." jawabnya tanpa menoleh dan meneruskan aktifitasnya dengan laptop.


Hal itu membuat Lidya bertambah kesal, sebenarnya... Lidya sudah sangat kesal kepada Raka sejak Raka melerai pertengkarannya dengan Friska.


Dengan jahilnya, ia berusaha membalikkan keadaan. Ia ingin Raka juga merasakan hal yang sama dengannya. Biar hasilnya jadi seri.


"Sejak kapan Bapak mempunyai urusan yang lebih penting dari pada Perpustakaan?" tanyanya dengan nada yang sedikit mencemooh.


Akhirnya Raka terpancing dan menutup laptopnya dengan kasar.


"Gawat, pak Raka sepertinya akan memarahi Lidya." bisik Ani kepada Nurul.

__ADS_1


"Hmmm." Jawab Nurul singkat, karena ia sudah penasaran dengan kelanjutannya.


"Sejak kamu mencari masalah Lidya." jawab Raka dengan nada yang sangat menekankan.


"Masalah...?" bingung Lidya sambil berfikir. "Oh, maksud Bapak tentang Friska?"


"Hmmm."


"Oh iya, apa Bapak yang menyuruhnya untuk meminta maaf?"


"Hmmm."


"Pantas saja hari ini dia terlihat aneh."


Kemudian Raka berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Lidya. "Mengapa kamu tidak memaafkannya Lidya?"


"Biar dia tahu bahwa tidak semudah itu berhadapan denganku." jawab Lidya dengan bangganya sambil menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.


Raka pun menjadi gemes sendiri melihat tingkah Lidya, ia mentoel kening Lidya dengan sedikit memakai kekuatannya sehingga membuat Lidya kehilangan keseimbangannya.


Syuut


Bruuk


Lidya jatuh ke pelukan Raka. Raka memeluknya dengan erat, membuat Lidya dapat mendengarkan alunan jantungnya.


Sebuah senandung pun dinyanyikan bersamaan dengan alunan jantung mereka.


Memandang wajahmu cerah


Membuatku tersenyum senang


Indah dunia...


Tentu saja kita pernah


Mengalami perbedaan


Kita lalui...


Tapi aku merasa

__ADS_1


Jatuh terlalu dalam


Cinta... Mu...


"Aw.... was Lidya!" Teriak Nurul dari kejauhan.


"Pasti akan berakhir seperti ini." Celoteh Ani dengan refleksnya.


Raka yang memeluk Lidya dengan erat itu kemudian melepaskan pelukannya dan bertanya, "Kamu tidak apa-apa Lidya?" ucapnya sambil membingkai wajah Lidya dengan kedua telapak tangannya.


Wajah Lidya yang sudah bersemu merah itu hanya terlihat sangat menggemaskan.


Lidya masih tetap tidak bergeming dan menatap wajah Raka dengan intens. Ia sangat terkejut dan tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi di antara mereka.


"Sangaaaat tampaaaannn." Teriak Lidya di dalam hatinya.


"Lidya... Lidya..." panggil Raka sambil menepuk pelan pipinya.


"Ekh... ma... maaf Pak." jawab Lidya setelah sadar dari lamunannya.


"Kamu tidak apa-apa kan.."


"Akh... Aku khilaf lagi..." pekik Lidya di dalam hatinya.


"Eum.. Itu_"


"Jangan buang-buang waktu lagi dengan ocehanmu Lidya."


"Apa kita akan lanjutkan pelajaran yang sebelumnya?"


"Hmmm."


"Waahh... Terima kasih Pak." ucapnya dengan penuh antusias.


"Dasar gadis aneh." celoteh Raka di dalam hatinya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2