Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 101. Meminta Kembali


__ADS_3

Baru dua Minggu Aira kembali ke panti. Namun, Juna dan Melati menjemputnya untuk kembali. Pasalnya, pada saat ini Raharja Grup sangat membutuhkan Aira disana.


Satu bulan ini, Raharja Grup terus mengalami kemerosotan. Saham turun. Dan banyak investor yang mencabut modal mereka hingga membuat proyek pembangunan perumahan yang sedang dikerjakan oleh Raharja Grup menjadi tersendat.


Hal ini membuat kondisi kesehatan Andra memburuk dan akhirnya harus dibawa ke rumah sakit. Sekarang,selain Aira tidak ada yang bisa diandalkan untuk mengurus masalah ini. Sedangkan Elang, ia sudah tidak mempunyai hak untuk ikut campur karena dia sudah resmi bercerai dengan Safna.


"Papi kamu sakit Ra." kata Juna.


"Mami kamu kangen sama kamu." tambah Melati.


"Sudah aku bilang kan kalau aku akan kembali saat pernikahanku."


"Perusahaan keluargamu membutuhkanmu."


"Aku nggak bisa."


"Kamu bisa."


"Aku nggak ngerti masalah perusahaan Na. Kenapa kamu jadi tukang paksa sih?!"


"Kasian Mami kamu Ra. Lakukan demi papi mami kamu. Kamu nggak mau kan perusahaan yang sejak lama dibangun dengan susah payah hancur begitu saja?" kata Juna setelah mengungkapkan niatnya datang ke panti yang jaraknya jauh dari tempatnya.


"Ck. Demi Papi."


"Kalau bukan untuk pami mami kamu. Pikirkan nasib ribuan orang di luar sana yang akan kehilangan pekerjaannya jika perusahaan gulung tikar." bujuk Melati.


"Nak, kembalilah. Bagaimanapun mereka adalah orang tuamu. Keluargamu. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Entah itu disengaja ataupun tidak. Dan kita sebagai manusia hanya harus saling memaafkan." Bunda yang sedari tadi diam akhirnya ikut menasehati Aira. Dia mengerti semua keadaannya sekarang.


"Tapi hatiku sakit bunda." Aira memegang dadanya yang terasa sesak.


"Bunda ngerti sayang. Tapi coba kamu pikir, bagaimana perasaan orang tuamu sekarang? Mereka sudah menyesal telah mengatakan semua hal itu padamu. Mereka sudah dihukum telah dijauhkan dari kamu lima tahun ini. Kamu sendiri kan yang bilang kalau mereka menyayangimu saat kamu bersama mereka?"


"Iya. Tapi itu aku rasa saat aku belum ingat. Dan saat aku ingat... "


"Egomu berkuasa. Amarahmu yang menang. Cobalah pikirkan dengan kepala dingin. Jika kamu masih berkubang dalam kemarahan, hal sebaik apapun tidak akan terlihat baik. Yang ada hanya bertambah buruk dan buruk. Pikirkan baik-baik Nak. Jangan sampai kamu menyesal."


"Ra, aku yakin hatimu tidak sekeras itu. Aku yakin sahabatku tidak akan tega membiarkan keluarganya menderita." kata Juna.


Setelah itu keheningan merenggut. Mereka semua larut dalam fikirannya sendiri. Berharap Aira mau membantu orang tuanya.


Gadis itu sendiri masih mencoba berdamai dengan hatinya. Rasa sakit yang dirasakannya seakan menyesakkan dada. Menyiksa jiwanya. Rasa sakit yang lima tahun terlupakan itu seakan menusuk jantungnya. Membuatnya luka hingga sedalam-dalamnya.


"Baiklah aku akan ikut." putus Aira akhirnya.


"Bunda bangga padamu nak. Kamu bisa mengalahkan Egomu." Bunda Fatma memeluk Aira. Memberinya semangat untuk berjuang.


Pada hari itu juga, Aira kembali pulang. Kembali ke rumah yang membesarkannya selama ini. Tidak ada yang menyambutnya kali ini. Amira sedang menemani Andra di rumah sakit.


"Mbak Aira, akhirnya mbak pulang juga." Mbak Ida tergopoh-gopoh menghampiri anak majikannya yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Syukurlah mbak. Tuan dan Nyonya pasti senang. Setelah kepergian mbak, rumah ini seperti kuburan setiap hari. Hujan tangis setiap saat." ucap mbak Ida. Dialah yang menjadi saksi hancurnya sebuah keluarga yang disebabkan oleh tajamnya lidah.


"Papi dirawat dimana Bik?"


"Rumah sakitnya Tuan Elang mbak."


"Oo. Baiklah. Aku akan segera kesana."


Aira segera masuk ke dalam kamarnya. Meletakkan barang bawaannya di dalam sana. Kemudian bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Juna dan Melati kembali mengantarkan Aira menemui orangtuanya.


Sesampainya di depan kamar inap Andra, tangis haru menyambutnya. Amira menubruk anak bungsunya itu. Menumpahkan segala keluh kesah dan penyesalannya selama ini. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu.


"Bagaimana keadaan papi Mam?"

__ADS_1


"Ayo ikut ke dalam."


Amira menuntun anaknya itu masuk untuk menemui sang suami yang masih tak sadarkan diri. Pagi tadi, keadaan pria tua itu semakin drop. Dokter menyatakan jika Andra mengalami koma.


Berbagai alat medis canggih terpasang dan terhubung ke tubuh Andra yang biasanya terlihat gagah dan berwibawa. Saat ini, tubuh itu tak sadarkan diri di atas brangkar rumah sakit dengan dikelilingi alat-alat yang mengeluarkan suara-suara yang menyeramkan.


Diraihnya tangan papinya. Diciuminya. Air mata Aira mengalir menunjukkan kesedihan yang melanda hatinya.


"Salsa disini Pi. Bangunlah Pi."


"Tadi pagi Papi drop Sa. Kata dokter papi Koma."


"Sebenarnya apa yang terjadi Mam? Kenapa semua jadi begini?"


"Papi kurang istirahat. Di kantor sedang ada masalah. Sebentar lagi perusahaan akan hancur."


"Apa masalahnya separah itu Mam?"


"Ya sayang. Entah bagaimana nasih semua karyawan nantinya. Akan ada ribuan orang yang menjadi pengangguran."


"Itu tidak akan terjadi Mam. Salsa akan menyelamatkan perusahaan." kata Aira mantap.


"Apa kamu sekarang bersedia untuk mengurus perusahaan?"


"Ya. Demi kalian semua. Aku akan melakukan apapun. Mami tenang saja."


"Apa yang akan kamu lakukan sayang?"


"Mami tenang saja. Tugas mami hanya merawat Papi agar cepat sembuh. Urusan perusahaan serahkan sama Salsa."


"Baiklah. Nak. Mami yakin kamu bisa."


"Do'akan Salsa Mam."


Aira menghampiri papinya. Memegang erat tangan keriput sang papi.


"Salsa akan selametin perusahaan demi papi. Bangunlah Pi. Papi harus kasih hadiah besar nanti." ucap Aira sembari mencium pipi Andra.


"Salsa pamit Mam."


"Ya sayang. Selamat berjuang."


Aira segera pergi meninggalkan rumah sakit. Juna kembali mengantarnya ke kantor pusat Raharja Grup setelah mengantarkan Melati pulang.


Saat sampai di Raharja Grup. Tak ada seorangpun yang mengenalinya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dirinya menginjakkan kakinya di lantai perusahaan.


"Mbak, tolong bilang sama Pak Hendro, katakan jika Aira Salsabila datang." kata Aira kepada resepsionis.


"Apakah nona sudah membuat janji?"


"Katakan saja sepeti itu."


"Baiklah. Silahkan tunggu di sana." Resepsionis itu menunjuk Sofa yang berseberangan di depan mejanya. Aira dan Juna mengikutinya.


Tak lama setelah itu, lift khusus terbuka. Seorang laki-laki yang biasanya selalu mengekor Andra saat di perusahaan keluar dan berjalan tergesa-gesa menemui orang yang mencarinya.


"Selamat siang nona muda." Hendro membungkukkan badannya.


"Apa yang om lakukan?" Aira merasa risih diperlakukan seperti itu. Aira hanya sesekali bertemu dengan sekretaris Andra itu saat dia datang ke rumah untuk urusan pekerjaan.


"Maafkan saya." Hendro kembali mengangguk.


"Aish. Jangan seperti itu Om. Aku nggak suka."

__ADS_1


"Baiklah. Kamu memang beda dengan kakakmu."


"Tentu saja." Airw mencelos. Selalu saja dibandingkan dengan Safna.


"Tuan Hendro, apa anda sudah menyiapkan semua yang saya minta di telfon kemarin?" tanya Juna.


"Sudah tuan Juna. Semua sudah saya siapkan di ruangan Tuan Andra."


"Tunggu apa lagi? Antar aku ke ruangan Papi."


"Mari." Hendro memimpin jalan. Sepanjang jalan, banyak yang menunduk hormat pada ketiganya.


"Ini ruangan tuan Andra. Silahkan masuk." Hendro membuka pintu. Membiarkan kedua tamunya masuk. Dia tahu bahwa mereka datang untuk menyelamatkan perusahaan yang telah menjadi tempat bekerjanya selama dua puluh tahun ini.


Di dalam ruangan Andra, ketiga orang itu berdiskusi mencari solusi untuk memecahkan masalah untuk menyelamatkan perusahaan yang berada di ambang kehancuran.


Banyak masalah yang harus mereka selesaikan. Masalah terbesar adalah mengenai pembangunan perumahan yang masih enam puluh persen berjalan. Dan sudah dua minggu ini macet terkendala dana.


Investor menarik modal mereka sehingga saat ini terjadi gejolak di perusahaan. Belum lagi produk jus kemasan yang siap edar. Tapi masalahnya, di luar sana sudah ada yang menjiplak ide mereka. Bahkan sampai kemasan dan komposisinya hampir sama. Ini jelas ada yang dengan sengaja membocorkan rahasia perusahaan.


"Apa gue terlambat?" tanya seorang pria yang sekarang mendapat julukan Playboy Tobat. Laki-laki tampan itu sudah menampakkan dirinya di ambang pintu. Membuat ketiga orang yang sedang fokus bekerja menjadi tersentak.


"Huahahahaha. Kalian lucu." Melihat ekspresi kaget ketiganya membuat tawa sang mantan Playboy itu pecah.


"Dasar Ogeb! Lo pengen bunuh gue?" Aira segera menghampiri teman durjananya itu. Menjitak keras kening mulus itu.


"Ouch! Sakit tau Ra." Ridwan mengelus keningnya yang terasa ngilu.


"Biarin. Salah sendiri siapa bikin orang jantungan."


"Ya maaf." Ridwan menggaruk tengkuknya tanpa sebab.


"Sudah-sudah. Ayo bekerja. Kalau kalian terus aja bercanda nggak akan kelar ni kerjaan."


Dan kedua orang yang sudah bersiap dengan jurus andalan masing-masing itu segera diam dan menghampiri dua orang lain yang sudah kembali serius dengan berkas-berkas di depan mereka.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😍


Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya


...***...


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam Ke Dua puluh empat🍃...


...🌸Pada malam ke dua puluh empat, ia akan mendapatkan dua puluh empat do'a yang akan dikabulkan 🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...


...Salam sayang 😘...

__ADS_1


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


__ADS_2