
Selamat siang semua... π
Sudah siap melancong lagi kan hari ini? π
Kalo sudah. Siapin camilan gih. Kita lihat drama kecil-kecilan berikut ini.... πΏ
...πππππ...
Hari Sabtu. Hari kedua liburan mereka.
Di saat siswa yang lain sedang duduk menerima pelajaran di kelas, Aira dan teman-temannya sedang menikmati perjalanan mereka ke resort untuk menghabiskan siang disana. Untuk bersenang-senang. Jangan ditiru Lo ya kelakuan mereka...
Benar yang dikatakan Elang. Resort miliknya memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Terutama yang memanjakan mata. Interiornya mengusung tema tradisional. Segala ornamen khas Banten terlihat jelas di beberapa bagian resort.
οΏΌ
Kedatangan mereka disambut ramah oleh manager resort. Tentu saja. Mereka datang bersama pemiliknya. Tentu saja mereka akan melakukan yang terbaik. Bukan begitu lah. Mereka memang sudah ramah dari sononya. hehehe
Manager menjelaskan segala hal mengenai resort itu. Memberi tahu fasilitas apa saja yang dapat dinikmati disana.
"Kita spa saja yuk!" ajak Mikaila semangat. Kapan lagi bisa spa gratis. Dela mengangguk setuju.
"Enggak. Mendingan kita renang." usul Wildan.
"Ck. Kalau renang di rumah juga bisa." cibir Mikaila.
"Spa juga bisa ke salon kan? Nggak harus disini."
"Gimana kalau fitnes?" usul Ridwan.
"Kita ini mau liburan. Bukan nyiksa diri." kata Dela. Dia sudah membayangkan nyamannya berada dalam ruangan hangat beraroma terapi itu. Belum lagi pijatan-pijatan lembut yang memanjakan tubuh itu.
"Fitnes itu membentuk tubuh. Menyehatkan. Bukan nyiksa diri."
"Pokoknya kita spa dulu."
"Fitnes dulu."
"Spa"
"Fitnes."
"Bagaimana jika yang cewek pergi ke ruang spa, nah sambil nunggu para cewek spa, Yang cowok ke ruang fitnes saja?" usul Manager itu.
"Nggak bisa gitu. Kami ke ruang fitnes buat olah raga. Bukan buat buang waktu nungguin urusan mereka yang tidak perlu." kata Ridwan.
__ADS_1
Perdebatan masih berlanjut. Manager itu menepuk jidatnya melihat perdebatan tamu kehormatan mereka. Tidak ada yang mau mengalah. Dia Merutuki penataan kata pada kalimatnya yang salah. Andaikan dia tadi menghilangkan kata "sambil nunggu" itu, semua tidak akan seribet ini.
"Sudahlah. Sekarang dengarkan aku. Yang cewek silahkan pergi ke spa untuk bersenang-senang disana. Dan yang cowok ke ruang fitnes untuk membentuk otot disana. Bagaimana?" putus Reno. Mungkin dialah yang paling dewasa disana. Elang? Dia sudah terbawa suasana SMA punya Aira. Katanya, kembali muda.
"Setuju!" teriak semuanya. Mengagetkan Manager yang sudah pusing mendengar kehebohan mereka.
"Baiklah. Para cewek silahkan ikut saya. Saya akan menunjukkan tempatnya."
Keempat cewek itu segera mengikuti Sang manager. Aira mengikuti saja. Walaupun dia tidak begitu suka pada spa, dia tidak mungkin mengikuti para cowok ke tempat fitnes. Lagi pula dia sudah lama tidak mengunjungi tempat yang memanjakan tubuh itu.
οΏΌ
Aira, Mikaila, Melati dan Dela sudah di atas ranjang. Pakaian mereka juga sudah berganti dengan handuk khusus yang halus. Rambut mereka sudah terbungkus handuk setelah menerima perawatan. Keempatnya merem melek merasakan pijatan-pijatan yang menenangkan yang dilakukan oleh tukang pijat profesional.
Bau aroma terapi yang merileksasi tercium dalam ruangan ini. Bau itu berasal dari lilin-lilin berwarna putih yang menyala di setiap sudut ruangan. Satu kata yang merupakan ungkapan hati Keempatnya, Menenangkan.
"Gue sebel sama para cowok." ucap Mikaila di sela pijatan yang dia rasakan.
"Gue juga. Mereka terlalu meremehkan urusan wanita." kata Dela.
"Lo benar. Dari kemarin mereka merendahkan martabat kegiatan wanita." ujar Mikaila menggebu. Melati dan Aira hanya mendengarkan orasi keduanya. Sebenarnya mereka berdua tidak begitu mempermasalahkan semua ini. Namun sebagai bentuk solidaritas sebagai sesama wanita, mereka akan mendukung.
"Gimana kalau kita kerjai mereka?"
"Ide bagus. Tapi bagaimana?"
"Huh! Gue fikir lo udah punya rencana."
"Difikir dulu lah... "
Di tempat fitnes
Setelah melakukan pemanasan, kelima laki-laki itu memilih alat fitnes mereka sendiri-sendiri. Elang sudah bermandikan peluh. Sarung tinju yang dia pakai, dia pukulkan ke permukaan samsak dengan keras. Membuat samsak berwarna merah itu bergerak ke kanan dan ke kiri. Pukulan dan Tendangan Elang layangkan pada samsak dengan semangat.
Ridwan dan Wildan berlari di atas treadmil sambil ngobrol. Keduanya jika sudah berdua suka berganti menjadi Bibir cewek yang suka bergosip. Awalnya mereka berdua yang paling semangat ke ruang fitnes. Tapi sekarang, mereka malah mengatur treadmil dengan kecepatan paling rendah. Ini memudahkan mereka sambil bergosip ria. Mereka tidak akan terjatuh karena mereka melakukannya dengan santai.
Reno lebih memilih angkat beban. Dia sudah bosan mengangkat beban kehidupan selama ini. Beban perasaan juga sering dia rasakan. Apa lagi beban pekerjaan Elang yang sering dilimpahkan kepadanya. Maka dari itu hari ini dia akan menikmati hari kuburnya yang menyenangkan.
Juna sudah bergelantungan di atas dinding. Dia memang suka oleh raga panjat tebing. Sekarang yang ada wall climbing, ya sudah lah, kan lumayan buat latihan. Juna sudah beberapa kali naik turun dibantu instruktur disana. Otot tangannya sudah menonjol dan memperlihatkan kekuatannya.
Setelah beberapa lama, kelimanya sudah kehabisan energi. Mereka berbaring di lantai sambil mengelap keringat yang tercuci dengan handuk di tangan mereka.
"Tempat ini sangat hebat." kata Wildan
"Benar. Apa lagi gratis. Kalau kita pergi fitnes sendiri. Pasti uang jajan kita selama sebulan. terkuras habis." ucap Ridwan. Elang dan Rwno yang mendengarnya tersenyum. Masalah uang adalah masalah yang paling membuat kesal di saat remaja. Belum mempunyai penghasilan sendiri. Uang juga dibatasi supaya bijak dalam belanja.
__ADS_1
"Cewek-cewek tadi Ngapain ya?" tanya Wildan. Dia memang tidak pernah melakukan perawatan spa. Saat diminta mengantarkan oleh mamanya, paling banter dia duduk-duduk di kursi tunggu sambil main game.
"Mereka kan pergi ke spa. Tentu saja mereka sedang spa."
"Maksud Wildan, mereka Ngapain aja disana?"
"Ya spa lah. Mai Ngapain lagi?" Wildan dan Juna kompak menoyor kepala Ridwan.
"Sakit tau. Kalian berdua teman yang kejam." Wildan dan Juna cuek. Merak tidak memperdulikan gerutuan Ridwan. Itu tidak penting. Mereka lebih berfikir apa sebenarnya yang dilakukan para cewek di dalam ruangan penuh lilin itu.
"Di ruang spa, mereka akan dipijat, diberi lulur, perawatan wajah, kulit dan rambut. mereka juga akan Manicure pedicure. Setelah selesai mereka akan berandam di kolam air hangat untuk merilekskan diri." jelas Reno.
"Lo pernah masuk kesana Ren?" tanya Elang tidak percaya. Yang dia tahu tempat itu khusus untuk wanita.
"Tentu saja pernah. Lagipula gue harus mengecek sendiri fasilitas dan pelayanan dari resort ini. Disana tidak buruk kok. Malahan setelah keluar akan merasa berbeda. Tubuh serasa baru di restart." jawaban Reno membuat Elang panik.
"Kita harus segera menghentikan mereka Ren!" Elang tiba-tiba berdiri. Dia sepertinya salah dalam mengartikan kalimat yang Reno ucapkan.
"Kenapa?" tanya Reno heran.
"Jika Aira keluar dari sana terus perasaannya berubah gimana hah? Lo mau tanggung jawab?"
"Bukan begitu maksud gue Lang. Kemana sih otak encer lo?" Elang berdecak. Dia sudah dihina sekretarisnya sendiri.
"Kalo Aira sampai melupakan cintanya sama gue, gue potong gaji lo selama setahun."
"Ck. bisanya selalu mengancam. Maksud gue, keluar dari sana tubuh terasa ringan. Badan jadi enak. Gitu."
"Oooo"
"Gue jadi pengen nyobain. Ikut berandam bersama mereka pasti asik." Kepala Ridwan sudah dipenuhi bayang-bayang mesum sekarang. Menyadari hal itu, keempat laki-laki itu secara kompak melayangkan tatapan penuh intimidasi.
"Hehehe. Gue cuma bercanda." Ridwan nyengir. Dia harus segera menyingkirkan otak aneh miliknya. Sekarang waktunya tidak tepat. Jangan sampai dia ditendang oleh Elang karena berani memikirkan hal mesum ditempatnya.
*
*
*
...Terima kasih sudah mampir π...
...Sebelum keluar, like dulu dong π...
...Terima kasih π...
__ADS_1
...β€β€β€Queen_OKβ€β€β€...