Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 115. Juna And Melati's Day


__ADS_3

Juna terlihat tampan memakai jas hitam dengan kemeja putih. Dilengkapi dengan dasi hitam yang bertengger di lehernya. Celana hitam beserta sepatu pantofel yang juga berwarna hitam membingkai kaki panjangnya.


Beberapa kali dia berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Beberapa kali juga tangannya sibuk mengusap keringat yang muncul di pelipisnya. Mulutnya komat kamit merapalkan kalimat ijab kabul yang satu jam lagi harus ia ucapkan untuk menghalalkan kekasih hatinya. Juna sedang gugup sekarang. Telapak tangannya berkeringat dingin.


"Kamu sudah siap Nak?" Hana, mama Juna memasuki kamar ananya. Ia tersenyum melihat anaknya yang sedang gugup.


"Aku gugup Ma." Juna berhenti dan memandang mamannya.


"Itu wajar nak. Semua orang juga akan mengalaminya."


"Bagaimana ini ma? Bagaimana kalau aku nanti salah ucap?"


"Dengarkan mama. Mama yakin kamu bisa. Cintamu yang akan membimbingmu nak."


"Doakan Juna ma."


"Tentu saja Nak. Doa mama akan selalu menyertaimu. Kamu dan Melati saling mencintai. Kalian pasti menjadi pasangan yang sangat serasi. Cepat buatin mama cucu ya." goda Hana. Berusaha mengurangi ketegangan yang dirasakan putra semata wayangnya itu.


"Ah mama."


"Ayo berangkat nak. Sudah saatnya menjemput menantu mama."


Hana menggamit lengan putranya. Setelah ini, akan ada wanita lain yang lebih berhak menggamit lengan itu. Hana melihat anaknya yang begitu tampan. Ia terharu dengan semua ini.


Ia menyangka jika Juna masih akan lama menikah. Melihat anaknya begitu dingin pada para wanita. Berulang kali Juna menolak untuk dikenalkan dengan anak dari temannya. Awalnya Hana mengira jika wanita yang disukai Juna mungkin jau dari kriteria menantu idamanya. Atau lebih parahnya Hana pernah berfikir jika Juna tidak menyukai wanita.


Tapi dia sangat bahagia saat tiga bulan lalu dia bilang bahwa ia telah melamar Melati. Kekhawatirannya lenyap begitu saja. Dia mengenal baik siapa Melati. Hana sudah sering bertemu dan mengenal baik gadis manis yang akan menjadi menantunya.


Hana tidak menyangka jika guru muda itulah yang berhasil menarik perhatian Juna. Hana mengenal Melati karena seringnya Melat dan yang lainnya main ke rumahnya. Ia menyangka jika Melati sama saja dengan Mikaila dan Aira. Juna menutupi perasaannya dengan sangat baik.


...β˜˜οΈπŸŒΈβ˜˜οΈπŸ’β˜˜οΈπŸŒΈβ˜˜οΈ...


Juna merasa lega telah berhasil mengucapkan kalimat sakral yang akan menyatukan dirinya dan Melati. Ucapan ijab kabulengalun merdu dan lancar dari mulut Juna. Kata Sah menggema dari dalam rumah Melati. Kalimat syukur dan Doa mengiringinya.

__ADS_1


Melati segers turun saat mendengar kata sah terucap. Dia dituntun oleh Mikaila dan Aira. Gadis yang baru saja sah menjadi seorang istri itu menundukkan wajahnya. Ia malu. Tangannya yang berada di genggaman Mikaila dan Aira terasa dingin. Dia gugup. Menemui Juna dengan status barunya sebagai istri dari teman yang tujuh tahun lebih dikenalnya.


"Aku gugup." kata Melati saat ia baru saja menuruni tangga yang akan membawanya ke ruang tamu dimana akad nikahnya dilaksanakan.


"Tenanglah Mel. Aku yakin kamu bisa. Tarik nafas dan baca basmalah Mel." kata Aira menenangkan. Ia juga pernah mengalaminya. Ia masih ingat dua puluh hari yang lalu saat ia juga baru saja sah menjadi nyonya Elang.


Melati menuruti perintah Aira. Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya setelah membaca bismillah. Rasa gugup itu perlahan sirna.


Di ruang tamu, kedantangan Melati menjadi pusat perhatian. Gadis itu terlihat sangat cantik. Juna terpesona kepada pengantinnya yang terlihat sangat cantik dengan wajah yang full make up yang membuat kecantikan Melati semakin terpancar.


Ibu Melati membantu anaknya untuk duduk samping Juna yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya pada istrinya yang baru ia halalkan.


Kedua pasangan pengantin baru segera menyelesaikan proses yang melengkapi ritual ijab kabul. Setelah sah di mata agama, mereka juga menanda tangani buku nikah yang menandakan mereka juga sah di mata hukum.


Setelah itu, Juna memberikan mas kawin kepada Melati sesuai dengan yang diucapkannya saat ijab kabul tadi yang berupa seperangkat alat sholat beserta seperangkat perhiasan yang terbingkai indah di dalam sebuah kotak kaca transparan.


Melati mecium punggung tangan Juna sebagai bentuk penghormatan pertamanya sebagai istri. Sebuah kecupan singkat dan bermakna mendarat sukses di kening Melati sebagai balasannya. wajah keduanya memerah secara alami. Apalagi menyadari jika semua pasang mata yang hadir disana memperhatikan mereka.


"Akhirnya mereka menikah juga ya mas." kata Aira yang menggamit lengan Elang. Sedangkan Naira ikut Erna dan Andrian yang sudah menunggu di hotel tempat resepsi selanjutnta yang dilaksanakan disana.


"Sayang, nanti kita ulangin lagi malam pengantin kita di hotel ya." bisik Elang.


"Malu mas. Bukan pengantin baru lagi sekarang."


"Tapi rasanya masih baru terus kok. Ku sudah seminggu puasal lho. Kamu nggak kasian sama Pedro?"


Aira mencubit perut Elang ringan. Membuat laki-laki itu meringis di sela tawanya yang berhasil menggoda istrinya.


Setelah acara ijab kabul, mereka segera menaiki mobil masing-masing untuk menuju hotel tempat diselenggarakannya acara resepsi pernikahan.


Juna dan Melati harus berpisah sementara waktu saat memasuki hotel karena acara selanjutnya adalah temu manten. Jadi, Juna dan Metllati harus berganti kostum dengan menggunakan pakaian khas jawa.


Elang, Reno, Ridwan dan Wildan memutuskan untuk menjadi pengiring pengantin laki-laki, jadi mereka akan berada di depan hotel. Sedangkan Mikaila dan Aira nantinya akan mengikuti Melati masuk ke dalam hotel untuk membantu Melati bersiap.

__ADS_1


Sedari turun dari mobil, Elang tak melepaskan genggaman tangannya pada Aira sebelum istrinya masuk ke dalam hotel. Elang bahkan mencium pipi Aira sebelum melepaskan tangan Aira.


"Hati-hati yang." kata Elang sambil mengecup pucuk kepala Aira.


"Lebai kalian. Bukan lagi pengantin baru. Masih aja tebar kemesraan." cibir Ridwan yang melihat Aira dan Elang yang dari tadi bisik bisik dan tertawa sendiri.


"Biarin. Biar kamu semakin kebelet kawin." kata Aira demi menghilangkan gugupnya.


"Dia mah udah puas kawinnya Ra. Nikah aja yang belum. Nunggu Laila mau di sahin. Dan kurasa sampai lebaran monyet juga nggak bakal mau dianya. Hahahaha." cibir Wildan. Mengingat curhatan Ridwan kapan hari lalu.


"Tenang Rid. Aku doain semoga kamu nyalip Nih pengacara kaku. Biarin aja Wili semakin bulukan." kata Juna.


"Amiiin." kini giliran Wildan yang cemberut. Teman-temannya selalu menertawakan kesialannya karena Mikaila masih belum mau mengesahkan hubungan mereka. Pacarnya itu masih ingin mengerjar karir.


"Tenang aja Wil. Biarin aja Ridwan duluan. Yang penting kan kita akan jadi pasangan terfenomenal." Kata Mikaila sambil mencium bibir Wildan. Membuat Wildan tersenyum penuh kemenangan sekarang. paling tidak dia tidak jomblo sekarang. Dan Ridwanlah yang masih setia menjadi jomblo satu tahun ini.


Aira dan Mikaila segera masuk ke dalam hotel. Sedangkan Elang dan lainnya menuju ke samping hotel. Tempat yang disediakan untuk keluarga besar Juna yang sedang menunggu acara temu manten sebelum acara resepsi dilaksanakan. Juna sendiri juga masuk hotel untuk berganti dengan baju adat.


Acara resepsi akan dilaksanakan di taman belakang hotel yang sudah disulap menjadi tempat party garden dengan bunga asli yang tertata apik. Tinggal menunggu pasangan pengantin yang sedang dirias.


...****************...


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...πŸ€—...


...Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. πŸ™...


...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya...


...**...


...Salam sayang 😘...

__ADS_1


...❀❀❀Queen_OK❀❀❀...


__ADS_2