Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 33. Camping Part 3


__ADS_3

☘️Sahabat sejati selalu berusaha saling melengkapi☘️


Malam yang dingin digantikan kehangatan dari api unggun yang menyala di tengah-tengah Siswa-siswi yang duduk melingkar. Di lapangan itu sendiri ada tiga kelompok api unggun. Masing-masing kelompok mendapatkan lima orang panitia yang menjadi pendamping mereka.


Di kelompok Aira didampingi oleh Pandu, Damar, Sela, Rina dan Seno. Pandu dan Sela berdiri memberikan hiburan yang akan mengisi acara api unggun pada malam itu. Banyolan dari mereka membuat perut yang mendengarnya serasa dikocok.


Juna yang duduk di samping Aira memasang wajah masamnya dari tadi. Aira yang biasanya jarang tertawa kini tertawa terbahak-bahak hingga menjadikan Juna sebagai pelampiasan. Sepertinya bakat Amira yang satu itu menular pada Aira.


"Sakit Ra." ucap Juna dengan kesal setelah mendapatkan pukulan keras di lengannya.


"Cemen lo Na. Dipukul gitu aja ngeluh. Kayak cewek."


"Iya kalo yang pukul gue tuh cewek beneran. Lah ini cewek jadi-jadian. Mana bisa dianggap pukulan gitu aja. Huh!"


Gerutuan Juna sepertinya tidak mempan untuk Aira. Sekali lagi dia mendapatkan cubitan di perutnya. Juna sekali lagi merintih merasakan sakit akibat cubitan itu.


"Aduh Na. Perut gue sakit." keluh Aira sambil memegang perutnya.


"Makanya jangan ketawa mulu." Juna menoleh pada Aira. Wajahnya jelas terlihat rasa khawatir pada gadis yang duduk di sampingnya.


"Gimana nggak ketawa. Lucu banget Na." Aira masih tidak bisa menahan tawanya. Malam ini dia benar-benar merasa puas untuk tertawa.


"Kak, gimana kalau kita ganti acara?" seru Juna. Dia tak tahan melihat Aira kesakitan akibat terlalu banyak tertawa. Jika acara stand up comedy itu terus berlangsung. Dia yakin Bukan hanya Aira yang akan kram perut. Tapi seluruh siswa yang berada di lapangan itu.


Tidak ada yang mengerti mengapa Juna mengusulkan itu. Tapi, Melati yang dari tadi mengamati interaksi dua orang sahabat itu tahu alasan dibalik tindakan Juna.


"Boleh. Mau acara apa?" tanya Pandu, salah satu panitia.


"Apa saja Kak. Yang penting ganti. Ini banyak yang sudah sakit perut karena tertawa."


"Ah. Kamu benar. Bagaimana kalau kita bola berhadiah?"


"Seperti apa kak permainannya?" tanya salah satu siswa.


"Permainannya gampang. Saya akan bernyanyi dan kalian mengoper bola. Siapa yang mendapatkan bola saat saya berhenti bernyanyi harus maju ke depan. Menunjukkan bakat atau memilih dihukum. Bagaimana." Pandu menerima bola dari Seno dan memainkan bola itu di tangannya.


"Sepertinya menarik. Setuju Kak." kata Mikaila yang disetujui oleh seluruh siswa.


"Baiklah kita mulai." Pandu mulai bernyanyi sambil melemparkan bola pada salah satu siswa. Seno menutup mata Pandu dengan kain hitam. Bola terus dioper. siswa yang mendapatkan giliran memegang bola itu tertawa. Ada yang terlihat sangat gugup. Bahkan ada yang dengan sengaja menahan bola itu lama berada di tangannya. Untuk mengerjai teman-temannya. Itulah pemikiran mereka, sehingga membuat temannya geram dan mengutuknya.


Namun, Dion tidak mempunyai rencana untuk menggoda teman-temannya. Dia bermaksud untuk mendapatkan kesepakatan untuk maju. Lagu pun berhenti. Dion, siswa yang menahan bola itu tertawa riang sambil maju kedepan tanpa diminta.


"Wah wah wah. Sepertinya semangat sekali teman kita yang satu ini." kata Sela saat melihat Dion maju sambil tertawa.


"Iya kak. Saya maju untuk melakukan sesuatu."


"Boleh. Ayo ke sini." Dion mendekat ke arah Pandu dan memberikam bola yang ada di tangannya pada pemuda berusia dua puluhan tahun itu.


"Saya mau mengungkapkan cinta kak. Apakah boleh?" bisik Dion malu-malu. Menatap harap pada Pandu agar mengizinkannya.


"Tentu saja boleh."


Wajah Dion terlihat bahagia. Dengan senyum, pandangan matanya terkunci pada salah satu siswi bernama Ratna.


"Ratna."

__ADS_1


Ratna yang mendengar namanya dipanggil memperhatikan Dion yang berdiri tepat di seberangnya dengan bingung.


"Ya."


"Bisa maju kesini?"


Ratna segera maju dan berdiri di depan Dion. Dion menatap gadis di depannya demgan lembut dan penuh perasaan. Perlahan maju dan meraih kedua tangan Ratna. Pipi Ratna merona menyadari apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Suasana mendadak hening.


"Ratna, apa kamu tahu perbedaan tunas kelapa dan kamu?"


Siulan bersahutan setelah mendengar gombalan Dion.


"Tahu lah. Tunas kelapa itu tumbuhan. Sedangkan aku manusia."


"Itu benar. Tapi juga salah."


"Memangnya Apa yang benar?"


"Kalau tunas kelapa menancap jauh di dalam tanah. Kalau kamu menancap jauh di dalam hatiku."


"Cie cie."


Pipi Ratna semakin merah.


"Kamu tahu nggak bedanya apel sama kamu?"


"Apa?"


"Kalau apel jadi sasaran tembak tentara. Kalau kamu jadi sasaran panah asmara hatiku."


"Ya. Apa kamu mau menjadi pacarku?"


Ratna terdiam. Dia terkejut. Dia fikir tadi Dion hanya bercanda. Tapi setelah melihat matanya. Hanya terlihat ketulusan dalam binar mata itu. Ratna memang selalu merasa bahwa Dion selalu memperhatikan dirinya. Tapi dia fikir, Dion juga bersikap sama pada gadis lain. Dia memang punya rasa pada Dion Tapi... dia ragu memukulnya lebih dalam.


"Jadi apa jawabanmu Ratna? Kalau kamu belum siap jawab... aku akan menunggu." wajah yang tadi berseri mendadak suram.


"Aku terima Dion. Aku juga suka sama kamu."


Dion memandang gadis di depannya setengah tak percaya. Gadis yang sudah dua tahun menjadi incaranya akhirnya menerima cintanya. Suara riuh sekeliling tak menghentikan suasana romantis keduanya. Keduanya berpelukan dengan senyum yang terkembang. Kenekatan Dion membuahkan hasil yang manis.


"Uh.... manisnya." ucap Sela membuat kedua siswa yang baru saja resmi menjadi sepasang kekasih itu tersadar. Melepaskan pelukan mereka.


Dion menggaruk tengkuknya. "Hehehe. Maaf kak. Terima kasih semuanya." Dion segera menarik tangan Ratna untuk kembali duduk.


"Woy jangan lupa PJ." teriak Aira. Dion mengacungkan jempol pada Aira yang dibalas jempol juga olehnya.


"Manis sekali ya. Saya tidak menyangka camping kali ini akan menjadi camping manis yang berkesan." Pandu menarik nafas sebelum suara kerasnya kembali membahana. "Bisa kita mulai lagi acaranya?"


Tanpa menunggu jawaban, Pandu melempar bola pada Dion dan mulai bernyanyi. Suaranya yang merdu sedikit mengalihkan perhatian para siswi disana. Saat bola tepat di pangkuan Mikaila, nyanyian Pandu berhenti. Pandu membuka kain yang menutupi kedua matanya.


"Mika semangat Mika sayang." teriak Wildan. Mikaila maju.


"Nah Mika. Kamu mau memberikan kami hiburan apa malam ini?"


"Saya akan bernyanyi."

__ADS_1


"Bagus-bagus. Mau ditemani?" Pandu menaik turunkan alisnya. Sedikir menggoda Mikaila. Wildan mendengus di tempatnya melihat gadisnya digoda.


"Ah tidak perlu kak. Saya minta teman-teman saya saja kalau boleh.


"Tentu saja boleh. Ayo temannya Mika bisa maju menemaninya."


"Bentar kak. Kita ambil perlengkapan dulu." pamit Ridwan sebelum pergi mengambil peralatan yang biasanya mereka gunakan untuk mengamen.


"Kalian benar-benar mempersiapkan segalanya." kata Pandu setelah melihat Aira membawa gitar, Wildan membawa markas dan Ridwan membawa galon.


"Tentu. Camping di adakan untuk bersenang-senang. Dan kami tahu cara kami untuk itu." jawab Aira santai sambil melenggang menyenggol pundak Juna dengan gitar yang dibawanya.


"Sakit tahu Ra." teriak Juna keras. Aira hanya terkekeh. Menggoda sahabat tampannya itu menjadi sesuatu yang menarik untuk Aira.


"Hahaha. Mik, lo butuh Jones satu ini nggak?" tanya Aira saat melihat Juna hendak berdiri.


"Nggak. Gue nyanyi solo kali ini." mendemgar jawaban Mikaila, Aira menujulurkan lidahnya pada Juna.


"Lo nggak dibutuhin sekarang Jones!" cibir Aira. Juna mendengus sebal. Kembali duduk santai mengamati teman-temannya beraksi di dekat api unggun.


Saat Aira dan teman-temannya beraksi. Banyak tatapan kagum yang terpancar dari binar mata yang memandang. Mereka tak mengira bahwa berandal sekolah yang selama ini mereka kagumi menamlilkan bakat mereka yang lain. Tepuk tangan menggema di lapangan itu. Tampaknya, dari ketiga kelompok yang ada disana, kelompok inilah yang suasananya paling hidup.


Saat Keempatnya akan pergi, Juna menghentikan mereka semua.


"Kak. Ini tidak adil." seru Juna sambil mendekati keempat temannya yang sudah berdiri.


"Maksud kamu?" Pandu mengerutkan alisnya. Pandu tahu bahwa Juna adalah salah satu teman keempat siswa yang maju setelah memgamati interkasi mereka sejak mereka datang pagi tadi.


"Saya Juna. Mereka semua teman-teman saya. Biasanya kami bermain musik bersama. Tapi lihatlah mereka sekarang." Juna menampilkan wajah tidak terimanya.


"Terus sekarang apa yang bisa dilakukam agar kamu mendapatkan keadilan?"


"Saya juga mau tampil. Dan lo Ra." Juna menunjuk Aira dengan tatapan dendam. "Ko harus temani gue." lanjutnya.


"Oke." Aira kembali duduk. Mikaila dan yang lainnya kembali ke tempatnya.


"Nah sekarang silahkan mulai." Juna duduk di samping Aira. Membisikkan lagu yang akan dia nyanyikan.


"Ok. Baiklah tampan. Tunjukkan pesonamu!" seru Aira sebelum memetik senar gitarnya.


Akhirnya, acara malam itu diisi dengan acara menyanyi yang di iringi oleh musik sederhana yang dihasilkan dari galon, marakas dan juga gitar. Serta ditambah suara tepuk tangan yang selaras dari puluhan pasang tangan.


*


*


*


...Terima kasih sudah mampir 😍...


...Maaf banyak Typo bertebaran 🙏...


...Jangan lupa like 👍vote 😎dan rate ⭐lima...


...Ramaikan juga kolom komentarnya🗨...

__ADS_1


__ADS_2