
Suasana lapangan yang tadinya tenang sekarang menjadi gaduh. Siswa yang sudah tertidurpun terbangun.
"Ada apa sih sebenarnya?" tanya sesorang siswa yang setengah mengantuk karena baru dibangunkan. Kaget mendapati banyaknya warga yang ada.
"Nggak tahu. Tadi katanya ada laki-laki cari Aira. Tapi Aira nggak ada."
"Hah? Laki-laki? Aira hilang?" tanyanya tidak percaya.
"Iya. Sekarang panitia dibantu warga sedang mencari Aira."
"Kenapa jadi seperti ini camping kita? Sebenarnya kemana Aira pergi?"
"Entah."
Flash Back on....
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam dengan kecepatan penuh. Elang sampai di lapangan tempat Aira camping. Elang segera turun dari mobil dan menuju kantor panitia.
"Saya mau mencari Aira." kata Elang to the point saat dia sudah berada di dalam kantor dan bertemu dengan Pandu.
"Anda siapa ya? Para siswa sudah tidur sekarang."
"Saya hanya ingin memastikan Aira baik-baik saja. Ini sangat penting untuk saya. Saya merasakan Firasat saya tidak baik."
"Baiklah. Sela, tolong lihat Aira di tendanya."
Sela segara mendatangi tenda Aira, Sela merasa aneh karena tenda itu tidak tertutup rapat. Padahal di dalam sudah tidak ada suara yang menunjukkan yang ada di dalam sudah tertidur. Sela mengintip dan terkejut karena hanya melihat Mikaila dan Melati yang sudah tertidur. Sela masuk dan perlahan membangunkan Mikaila dan Melati.
"Ada apa kak?" tanya Mikaila setelah dia bangun.
"Aira mana?"
Mikaila dan Melati celingukan mencari Aira. Tapi gadis yang mereka cari tidak ada di sekitar mereka.
"Em tadi dia pamit ke kamar mandi kak." kata Mikaila, dia dsn Melati tadi mau menemani, tapi Aira menolak karena melihat mereka sudah terlihat lelah dan mengantuk.
"Jam berapa dia tadi pergi?"
"Jam sepuluh kak. Astaga!" Mikaila terpekik. Dia baru menyadari ada yang tidak beres. "Aira mana kak?"
"Ayo kita cari." Mikaila dan Melati mengikuti Sela untuk mencari Aira di kamar mandi. Tapi semua kamar mandi kosong
"Di kantor ada laki-laki muda yang mencari Aira. Katanya dia memiliki firasat buruk."
"Laki-laki muda? Siapa?"
"Dia tidak menyebutkan namanya. Dia kelihatan cemas sejak datang."
"Kak, saya panggil teman-teman saya dulu."
"Lebih baik aku saja yang panggil." usul Melati. Mikaila dan Sela menyetujui. Melati segera memanggil Juna dan yang lainnya, sedangkan Mikaila dan Aira melanjutkan perjalanan ke kantor.
Elang segera menatap ke arah pintu ketika mendengar seseorang masuk.
__ADS_1
"Aira mana Mik?" tanyanya saat melihat hanya Mikaila yang masuk bersama Sela.
"Em. Kak Elang. Aira tadi pamit ke kamar mandi sebelum tidur. Awalnya aku dan Melati menawarkan untuk mengantar, tapi Aira menolak karena kasihan kami kecapekan."
"Sial!"
"Ada apa kak?"
"Dia tidak bisa dihubungi dari tadi. Firasatku jelek Mik."
"Disini memang Sinyalnya buruk kak."
"Aku tahu. Tapi siang tadi dia sudah janji mau menelfonku malam ini. Dan aku yakin dia tidak akan mengingkari janji. Tapi sampai sekarang dia belum telfon."
Tak lama kemudian, Juna dan yang lainnya segera masuk ke dalam kantor.
"Kak Elang? Kenapa disini?" tanya Juna bingung.
"Aira hilang Na" ucap Elang singkat.
"Sebaiknya kita mulai mencarinya." ucap Pandu. Semua mengangguk dan mulai mencari.
Mikaila dan Melati melihat ke seluruh tenda cewek. Juna dan yang lainnya ke tenda cowok. Sedangkan panitia mencari di dalam bangunan kantor. Elang segera menyisir tepian hutan.
Dia melihat ada jejak mencurigakan yang tertinggal di tanah dan daun. Dia yakin bahwa itu jejak Aira. Elang semakin masuk ke dalam hutan. Dia kemudian menemukan jejak-jejak perkelahian dan menemukan handphone Aira di sana. Dia segera berlari ke dalam hutan dan menemukan sebuah gubuk.
Flash Back off....
Namun, sebelum mereka masuk ke dalam hutan. Mereka sudah melihat Elang yang keluar dari hutan dengan menggendong Aira. Teman-teman Aira segera mendekat.
"Aira kenapa kak?" tanya Mikaila saat melihat wajah Aira yang terdapat luka dan memar.
"Aira diculik." Semua orang melototkan matanya mendengar jawaban Elang. Para gadis menutup mulut mereka tidak percaya. "Juna."
"Iya kak."
"Kamu urus para penculik di dalam gubuk di hutan. Kamu ikuti saja ranting pohon yang patah. Penculik itu sudah aku ikat."
"Baik kak."
"Kami akan membantu." kata Pandu. Dia segera membawa banyak orang masuk ke dalam hutan sesuai instruksi dari Elang. Seno segera melaporkan kejadian itu pada polisi.
"Lo nggak apa-apa kan Ra?" tanya Mikaila saat menyadari Aira belum turun dari gendongan Elang.
"Kakiku sakit Mik."
"Sebaiknya kita obati dulu di kantor." kata Sela.
"Saya akan bawa Aira ke villa. Tadi saya sudah memanggil dokter." ucap Elang. Sella mengannguk mengiyakan.
"Kami ikut kak." ucap Mikaila sambil mengenggam tangan Melati.
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah meminta izin pada panitia, Mikaila dan Melati segera mengikuti Elang dan Aira untuk masuk ke dalam mobil Elang.
Elang mendudukkan Aira di jok depan. Memasangkan seatbeltnya dengan Hati-hati. Lalu segera memutari mobil untuk duduk di depan kemudi.
Setelah Mikaila dan Melati masuk, Elang segera melajukan mobilnya meninggalkan lapangan camping itu menuju Villa miliknya yang hanya membutuhkan setengah jam perjalanan.
Setelah kepergian Aira dan yang lainnya, keadaan mendadak mencekam. Semua orang tidak menyangka akan ada penculikan. Apalagi Aira ditemukan dengan banyak luka dan memar di beberapa bagian tubuhnya. Bahkan kakinya sampai tidak bisa berjalan karena terluka.
Tak lama setelah kepergian Elang, polisi datang dan meringkus penculik yang sudah dibawa keluar dari hutan oleh Pandu dan yang lainnya.
Para preman segera diamankan di mobil polisi. Pandu ikut ke kantor polisi sebagai saksi. Elang dan Aira nantinya juga akan dimintai keterangan.
"Aira kemana kak?" tanya Juna setelah tidak mendapati Aira dan yang lainnya disana.
"Aira dibawa ke villa laki-laki tadi. Mikaila dan Melati juga ikut kesana." jawab Rina.
"Baiklah kak. Terima kasih."
"Baiklah semuanya. Sebaiknya sekarang kalian semua kembali istirahat. Sesuai rencana, besok kalian akan pulang." kata Seno. Semua segera masuk ke dalam tendamya masing-masing. Sedangkan para warga sudah pulang.
Panitia laki-laki dan beberapa siswa tetap terjaga untuk menghindari kejadian serupa terjadi. Juna, Wildan dan Ridwan tentu saja ikut berjaga. Mereka tidak akan bisa tidur setelah melihat keadaan Aira. Apalagi melihat kekacauan yang terjadi di dalam gubuk tempat Aira disekap. Aira pasti melakukan banyak perlawanan.
****
Elang kembali menggendong Aira setelah sampai di villa. Seorang laki-laki paruh baya dan seorang wanita yang berusia dua puluh tahunan sudah menunggu kedatangan mereka.
"Tuan muda, kamarnya sudah saya siapkan." kata Mang Ujang. Penjaga villa.
"Hem." Elang segera masuk dan membawa Aira ke dalam kamar tidurnya. Membaringkan Aira dengan Hati-hati di atas ranjang kingsizenya. Menutup tubuh Aira demgan selimut. Mikaila dan Melati segera menghampiri Aira setelah Elang menjauh, memberi ruang untuk Mikaila dan Melati. Aira butuh teman-temannya sekarang.
"Dokternya mana?" tanya Elang.
"Tadi sudah saya hubungi. Sekarang pasti sudah dalam perjalanan." jawab mang Ujang.
"Baiklah. Mang Ujang tunggu dokternya di depan. Nanti kalau sudah sampai langsung dibawa kesini saja."
"Siap tuan muda."
"Mbak Siti, tolong bersihkan kamar untuk mereka berdua." tunjuk Elang pada Mikaila dan Melati.
"Siap tuan Muda." Siti segera berlalu untuk menyelesaikan tugasnya.
*
*
*
...Terima kasih sudah mampir 😁...
...Klik like 👍vote😎 dan rate⭐ lima oke...
...Salam sayang😘...
__ADS_1