
Di dalam mobil, hanya ada suara deru mobil yang terdengar. Juna masih mempertahankan ekspresi wajahnya yang membuat Melati merinding. Dia lebih memilih diam dari pada salah bicara yang akan membuat keadaan menjadi tidak terkendali.
Niat hatinya hanya ingin menggoda Juna. Tapi melihat Juna dalam Mode On cemburu tingkat abal-abal itu dia sudah takut. Dia lebih suka Juna yang marah secara langsung daripada melihat Juna hanya diam seperti remaja yang ngambek melihat pacarnya jalan dengan cowok lain.
"Jadi ke Mall?" Melati tersentak mendengar pertanyaan Juna yang tiba-tiba. Melati melihat jam di tangannya. Ini sudah terlalu sore. Dia juga sangat lemah sekarang.
"Kita langsung pulang saja ya Na. Aku capek."
"Iyalah capek. Urusin anak orang." ketus Juna.
"Kamu kenapa sih Na? Aneh deh."
"Aneh kamu bilang?" sarkas Juna.
"Iya aneh. Kenapa kamu marah? Ini hanya masalah kecil. Kita bisa ke Mall lain kali. Lagipula aku juga tidak terlalu membutuhkan barang itu."
"Apa maksud kamu mendekati anak kecil itu?" Juna melirik tajam Melati.
"Dia muridku Na. Tidakkah kamu lihat tadi dia sedang sakit. Kamu kenapa sih Na? Aneh deh." Melati sangat kaget ketika mobil yang dikemudikan Juna dengan tenang tiba-tiba menepi dengan kasar. Membuat kepalanya membentur dasbor.
"Auch."
Juna panik. Dia segera mengelus kepala Melati yang membentur itu dengan lembut.
"Maafkan aku Mel." ucap Juna. "Aku nggak mau lihat laki-laki itu dekat sama kamu lagi." lanjutnya.
"Tuan Diego? Memangnya kenapa?"
"Jangan sebut namanya lagi. Aku tidak suka."
"Kamu kenapa sih Na? Hari ini kamu sangat aneh."
"Aku cemburu Mel." Melati tersenyum di dalam hati. Baru kali ini Juna menunjukkan perasaannya.
"Kenapa?" tanyanta pura-pura tidak faham.
"Aku cemburu lihat kamu dekat laki-laki lain." hati Melati sorak-sorak kegirangan.
"Kenapa? Aku hanya temanmu Na. Buat apa kamu cemburu?"
"Apakah selama ini kamu tidak mengerti perasaanku?"
"Kalau kamu tidak bilang mana aku tahu Na?" ini saatnya memberi umpan. Kali ini aku harus berhasil.
"Apakah tidak cukup perlakuanku selama ini padamu Mel? Kamu mau bukti apa lagi dariku?"
"Wanita butuh kepastian Na. Walaupun bayak yang bilang wanita butuh bukti bukan janji, Tapi wanita juga butuh sebuah kepastian Na." Melati menjeda. Tatapan tajam di depannya begitu memukau. "Jika kamu memberi perhatian tanpa memberi tahu alasan di balik perhatian itu, wanita akan menerka-nerka apa maksud dari tindakanmu."
"Aku mencintaimu Mel." Akhirnya kata-kata keramat itu berhasil terucap. Melati memperhatikan kesungguhan laki-laki di depannya."Tidakkah kamu merasakannya?"
"Aku tahu. Tapi selama ini aku merasa digantung Na. Merasa dicintai, tanpa status yang jelas. Itu sebenarnya sedikit menyiksa." Melati menunjukkan wajah tidak berdayanya. Membuat Juna tidak tahan untuk meraih tubuh itu ke dalam pelukannya. Mengecup pucuk kepala gadisnya dengan penuh cinta. membelai rambut panjang gadis itu.
__ADS_1
"Maafkan aku. Apakah kamu butuh kepastian?" Melati mengangguk. Wajahnya semerah udang rebus di dalam dekapan Juna yang menenangkan.
"Tapi..., Aku tidak ingin menjadikanmu pacar Mel." Melati langsung melepaskan diri dari dekapan Juna. Memasang wajah kecewanya disana begitu mendengar kata-kata Juna. Ini seperti dijatuhkan dari ketinggian setelah diajak terbang tinggi melihat keindahan di atas.
"Kamu jahat." Melati memalingkan wajahnya. Dia marah pada laki-laki yang selama lima tahun ini menggantung dirinya. Juna menangkup wajah itu. Dihadapkan ke wajahnya. Memandang wajah cemberut itu dengan penuh kehangatan.
"Aku ingin langsung menjadikanmu istriku Mel. Menjadi kekasih masa depanku. Menjadi ibu dari anak-anakku." Melati tidak dapat menahan harunya, air mata bahagianya jatuh begitu saja. Juna merogoh saku celananya. Mengeluarkan Kotak kecil merah berbentuk hati dari sana.
"Melati Anggia Risma, Maukah kamu menjadi istriku?" Juna membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin bertahta berlian disana.
Melati menutup mulutnya yang menganga tidak percaya. Ini sangat mengejutkan. Sejak kapan Juna menyiapkan cincin itu? Apakah selama ini laki-laki di depannya selalu menyimpan cincin itu disana? Tapi kenapa tidak dia berikan jika dia sudah menyiapkannya.
"Jawab dong Mel."
"Sejak kapan kamu menyimpan ini Na?" bukannya menjawab, Melati malah memilih menuntaskan rasa penasarannya.
"Ck. Jawablah dulu Mel. Aku pegal nih." Ih Juna merusak suasana romantis. Dia sudah menurunkan tangannya.
"Aku kan penasaran Na. Ayo jawab. Sejak kapan?"
"Aku bisa menjelaskan nanti. Masih banyak waktu. Tapi aku sudah tidak bisa menunggu. Jadi, Maukah kamu menikah denganku?"
"Aku.... aku mau Na. Tapi apa ini tidak terlalu cepat? Bisa kan kita pacaran dulu?"
"Menjadi kekasih halal akan lebih menyenangkan Mel."
Juna meraih tangan kiri Melati, menyematkan cincin di jari manisnya. Kedua orang yang baru saja meresmikan hubungan mereka dengan melompati tahap pacaran memandang senang cincin yang baru saja berada di tempat yang seharusnya.
"Aku juga."
"I Love you Mel"
"Sejak kapan?"
"Ck. Lama-lama berteman dengan Mikaila kamu jadi ketularan jiwa Keponya."
"Tinggal jawab Na."
"Kamu pikir sejak kapan?"
"Satu atau dua tahun belakangan?"
"Salah. Aku mencintaimu sejak lima tahun yang lalu."
"Ha?"
"Em." Juna mencium kening Melati saat gadis itu mendongak. Keduanya saling mengunci pandangan. Hingga Melati memalingkan wajahnya. Dari sinar mata Juna, apa yang dikatakan pria di depannya itu memang benar adanya.
"Sejak kapan kamu menyimpan cincin itu?"
"Sejak satu tahun yang lalu. Saat aku mulai masuk ke perusahaan. Aku membelinya saat kita liburan ke Puncak. Tapi, aku masih merasa belum mampu. Jadi aku urungkan niatku. Baru dua bulan belakangan ini cincin ini selalu ada di dekatku. Menunggu moment yang tepat."
__ADS_1
Mendengar itu, Melati terharu. Dia tidak menyangka jika Juna sejak lama berniat meminangnya.
"Jadi aku minta mulai sekarang kamu jauhi laki-laki itu. Kamu calon istriku."
"Oh ya?"
"Jangan menggodaku Mel! Aku tidak suka."
"Hahaha Na. Kamu lucu saat cemburu." Juna mendengus sebal.
"Sebenarnya, Tuan Diego itu adalah suami dari teman satu kelasku di kampus. Jadi, ibu dari Febri adalah temanku."
"Tapi ini juga tidak benar Mel. Dia berstatus duda sekarang."
"Kau benar. Tapi dia tidak sama dengan kita Na. Lagipula, dia sudah memiliki calon istri sekarang."
"Benarkah?"
"Hem. Kita mau sampai kapan di pinggir jalan seperti ini Na?"
Juna seketika sadar. Dia melakukan banyak hal penting di dalam mobil. Di tepi jalan lagi. Bahkan dia melamar seorang gadis di dalam mobil. Sungguh suasana yang tidak mendukung. Dia mengelus kepala Melati sebelum melajukan mobilnya.
Tapi itu semua tidaklah penting bagi Melati. Yang penting adalah pengakuan Juna atas dirinya. Apa yang lebih membahagiakan daripada ini? Sudah lima tahun penantian panjangnya. Dan inilah saatnya dia bahagia. Merasakan cinta dari orang yang juga dicintai.
*
*
*
Jangan lupa di like ya teman 😉
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
***
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ketujuh🍃...
...🌸Pada malam Ketujuh, Seolah-olah ia telah mencapai derajat Nabi Musa AS dan kemenangan Beliau atas Fir'aun dan Haman🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
...Salam sayang 😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...