Cinta Gadis Tomboi

Cinta Gadis Tomboi
Bab 43. Kalian Siapa?


__ADS_3

Malam harinya Aira kedatangan tamu yang tidak dikenal. Seorang wanita paruh baya beserta suaminya tiba-tiba saja datang dan menjenguknya. Keduanya bahkan terlihat cemas dan dengan teliti memeriksa bagian tubuh Aira yang terluka. Aira sampai risih dibuatnya.


Sehabis sholat maghrib tadi Elang pamit untuk ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian untuk melengkapi berkas perkara untuk Bella dan anak buahnya bersama dengan Reno. Jasson dan Jack juga baru saja pulang setelah menjenguknya. Jadi tidak ada yang bisa menjelaskan siapa tamunya itu pada Aira.


"Maaf sebelumnya tante, om. Sebenarnya kalian ini siapa?" tanya Aira saat kedua orang itu sudah menghela nafas lega karena tidak menemukan luka serius di tubuh Aira. Keduanya tertawa mendengar pertanyaan Aira. Erna bahkan sampai menepuk jidatnya.


"Hehehe. Maaf sayang mama sampai lupa."


"...." Aira semakin bingung kan. Tiba-tiba saja menyebut dirinya mama. Siapa sih?


"Mama ini adalah mamanya Elang. Dan om ini adalah papanya. Jadi kamu bisa panggil kami mama dan papa." ucap Erna semakin membuat Aira kebingungan.


"Elang sudah cerita pada mama kalau dia menyukaimu."


"Hah?"


"Elang adalah anak semata wayang kami. Jadi apapun yang terjadi dengannya, Elang selalu berbagi dengan kami. Apalagi mengenai kamu sayang."


"Segitunya tante?"


"Mama sayang. Kami hanya punya satu anak. Jadi kami juga sudah menganggap kamu sebagai anak kami juga. Iya kan pa?"


"Benar. Papa sudah tidak sabar Elang akan bawa kamu sebagai menantu papa. Terus membuat rumah kami penuh dengan tawa dari anak-anak kalian?"


"...." Apakah orangtua mas Elang akan memaksaku nikah muda? Tidak. Aku masih ingin menikmati masa mudaku.


"Pa. Jangan begitu. Papa membuat Aira ketakutan."


"...." Kalian memang membuatku takut. Aku nggak nyangka orang tua mas Elang seperti ini.


"Maafkan papa ya Aira. Soalnya Papa sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucu."


"...." Apakah buat cucu itu semudah mencetak roti? Apakah Setelah menikahkan anaknya, akan langsung mendapatkan bonus seorang cucu?

__ADS_1


"Iya Ra. Setelah lulus nanti kami akan segera melamarmu pada orangtuamu. Tapi tenang saja. Setelah menikah kamu masih bisa melanjutkan kuliah. Soal anak nanti serahkan pada kami. Tugas kalian adalah membuat cucu-cucu yang lucu." ucap Erna berbinar.


"...." Kenapa pembicaraannya seputar cucu sih. Aku dan mas Elang saja baru sehari resmi pacaran. Sudah dituntut membuat cucu.


Ketiga orang menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.


"Pa, ma kalian sedang apa disini?" Diantadi sudah panik saat diberitahu Bodyguard bahwa ada sepasang paruh baya yang menjenguk Aira yang mengaku bahwa mereka adalah orang tua Elang. Setelah mendapatkan kabar itu, Elang buru-buru perginke rumah sakit.


Erna segera mendekati Elang yang baru saja masuk. Menarik telinga Elang dengan kuat. Membuat Elang mengaduh merasakan sakit.


"Aduh duh duh Ma. Sakiiiit. Elang bukan kelinci Ma!" Erna melepaskan telinga Elang. Elang mengusap telinganya yang memerah. Aira ikut merasa kasihan. Pasti rasanya sakit. Tapi Aira tidak bisa membantu. Ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Kau ini! Calon menantu mama terluka tapi kamu tidak memberitahukan semua ini pada mama hah?" Erna berkacak pinggang. Memarahi Elang seperti memarahi anak kecil.


"Ma. Aku belum sempat memberitahukan pada kalian. Elang juga masih harus pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." Elang memegang tangan Erna. Berusaha meredakan amarah mamanya. Dia memang bersalah karena tidak memberi tahukan masalah sepenting ini pada mamanya. Tapi dia memang benar-benar belum sempat.


"Sudahlah ma. Yang penting calon menantu kita baik-baik saja."


Mendengar perkataan Adrian, Elang segera melihat Aira. Gadis itu terlihat canggung mendengar sebutan yang diberikan oleh kedua orang tuanya itu.


Adrian mengajak Elang untuk membicarakan masalah kerjaan di sofa. Sedangkan Erna mengajak Aira berbicara. Erna menceritakan banyak hal mengenai Elang. Tentang masa kecil Elang yang masih dengan jelas dia ingat. Aira dan Erna tertawa bersama. Mereka berdua sudah menjadi akrab dalam waktu yang singkat.


Flash back on.....


"Aduh cantiknya anak Mama." ucap Erna ketika baru saja selesai merias Elang kecil seperti anak perempuan.


Elang yang saat itu berusia lima tahun dibedakin, dipakaikan lipstik, eye sidow, blush on, dan sebuah titik di tengah dahinya seperti gadis India yang sedang trend saat itu. Serta jangan lupakan bando dengan bunga besar berwarna pink cerah di kepalanya. Erna juga memakaikan Elang sebuah gaun indah berwarna merah. Cantik sekali.


Namun, bibir Elang yang sudah merah karena lipstik itu maju beberapa senti. Wajah yang sudah dirias cantik ditekuk dan kedua tangannya dilipat di depan dada. Elang kecil sudah berusaha menolak perlakuan mamanya yang sudah dengan seenaknya mendandaninya. Dia merasa didzolimi oleh mamanya sendiri.


"Elang ini cowok ma. Kenapa didandani seperti ini!" dengus Erna.


"Kamu tahu kan kalau mama ingin anak perempuan. Dan karena kamu menolak nya, kamu yang harus mau jadi pelampiasan keinginan mama. Mama hanya ingin merasa mendandani anak perempuan Elang. Itu saja." Erna memang sempat berniat mengadopsi seorang anak dari panti asuhan. Tapi Elang menolaknya. Dia mau jika itu anak laki-laki. Tapi jika itu anak perempuan, dia menolak dengan keras.

__ADS_1


"Mama keterlaluan!"


"Kalau kamu nggak mau. Mama bisa kok cari anak yang mau melakukan itu untuk mama. Yang pastinya akan lebih manis dari kamu." ancam Erna. Elang akhirnya hanya bisa pasrah. Tidak sampai disitu, penderitaan Elang belum berakhir. Erna membawanya ke sebuah studio foto untuk mengabadikan penampilan Elang yang satu itu. Elang masih harus tersenyum pada setiap sesi foto di studio yang jelas sangat membuatnya malu.


Seorang asisten fotografer studio itu bahkan beberapa kali mencium pipi Elang dengan gemas setiap kali menata pose yang harus dilakukan Elang. Dia merasa anak kecil itu sangat manis dan cantik. Cocok untuk menjadi model.


"Aku cowok tante." sergah Elang ketika pegawai itu berusaha mencium pipi Elang sekali lagi dan memujinya dengan kata cantik.


Wanita itu malah tertegun sebelum tertawa. Dia malah semakin asik menggoda Elang yang dengan jelas menolak apa yang dilakukan oleh mamanya. Untung saja sesi foto itu sudah berakhir dengan sepuluh pose yang dilakukan Elang. Jadi dia bisa menggoda pemuda kecil tampan yang sedang menjelma menjadi seorang putri itu.


"Berarti ini adalah kesempatan emas. Tante yakin setelah ini tante tidak akan melihat penampilan kamu yang seperti ini. Tante harus punya koleksi fotomu yang berharga." ucap wanita itu dengan berbinar. Membuat Elang bergidik ngeri.


"Nyonya, bolehkan saya menyimpan foto anak nyonya yang cantik ini?" tanyanya membuat Erna terpingkal-pingkal. Dia merasa ada yang sana dengannya. Dari tadi dia mendengarkan wanita itu menggoda Elang. Dia sudah menahan tawa melihat wajah kesal Elang yang semakin terlihat menggemaskan.


Flash Back off....


"Dulu mama sangat ingin Elang punya adik. Tapi sayangnya keadaan mama tidak memungkinkan. Mama harus puas dengan hadirnya Elang. Padahal mama sangat ingin mempunyai anak perempuan." Erna menerawang jauh. Mengingat kejadian tragis kecelakaan yang membuatnya tidak bisa mengandung lagi.


Kejadian yang memukul jiwanya dengan keras. Erna bahkan mengalami depresi hingga dua tahun lamanya. Dia tidak sanggup mengalami kehilangan calon adik Elang beserta rahimnya. Rahim Erna terpaksa diangkat untuk menyelamatkan nyawanya karena ada kanker rahim yang bersarang saat Erna mengandung adik Elang. Pilihan yang sulit saat itu untuk memilih antara anak atau istri. Awalnya, Erna lebih memilih mempertahankan nyawa bayinya. Tapi, rencana tuhan berjalan lain. Sebuah kecelakaan membuat bayi dalam kandungan Erna meninggal. Dan rahim Erna pun diangkat karena telah rusak.


"Maaf ma." Aira melihat dengan jelas kesedihan Erna. Pipi wanita paruh baya itu sudah basah karena air mata. Aira membantu menghapusnya.


"Tidak apa-apa sayang. Mama sudah ikhlas menerima semuanya. Walaupun mama hanya bisa puas dengan Elang. Tapi mama senang akan segera mendapatkan anak perempuan yang cantik dan manis seperti kamu. Segeralah menjadi menantu mama." Erna menggenggam tangan Aira yang baru saja mengelap air mata di pipinya. Mengusap punggung tangan gadis itu. Seperti melihat harapan akan kehidupan yang indah pernikahan antara Aira dan Elang.


"...." Kenapa ujung-ujungnya selalu membahas tentang pernikahan. Aku masih sangat muda untuk ini kan. Walaupun aku mencintai mas Elang, tapi tidak semudah itu untuk menikah dan menjalani hidup dengan status menjadi seorang istri. Apalagi seorang ibu...


*


*


*


...Terimakasih sudah mampir ๐Ÿ˜...

__ADS_1


...Jangan lupa like ea๐Ÿ‘...


...Salam sayang๐Ÿ˜˜...


__ADS_2