
🐙Orang yang selama ini diam dengan kedzoliman yang diterima bukan berarti dia lemah🐙
Lapangan camping saat ini sudah dipenuhi oleh sorak sorai penonton yang melihat berbagai Permainan yang dilaksanakan di lapangan itu. Setelah sebelumnya lomba estafet balap karung yang khusus untuk laki-laki, kini giliran para gadis unjuk kebolehan dengan memindahkan air secara estafet.
Kini, waktunya Aira dan kedua temannya bermain. Lawan mereka adalah Bella dan teman-temannya. Aira duduk paling depan karena dia paling tinggi, di tengah Melati dan Mikaila di belakang. Itu adalah salah satu rencana mereka. Dari Melati mereka tahu jika yang paling tinggi berada paling depan agar tidak kesulitan dalam memindahkan air nantinya yang akan melewati kepala mereka. Juga meminimalisir badan yang basah kejatuhan air.
Di depan Aira ada timba besar yang berisi air, sedangkan ditanamnya ada timba berukuran kecil sama seperti milik kedua teman di belakangnya. Di belakang Mikaila ada timba untuk menampung air yang berhasil mereka pindahkan.
Prrriiittttt
Aira segera mengambil air degan timbanya. Tidak penuh agar air tidak cepat habis dsn kecil kemungkinan jatuh membasahi tubuhnya. Setelah timba terisi air, dia menundukkan kepalanya dan mengangkat timba di atas kepalanya, kemudian setelah mendapat kode dari Melati, dia memiringkan timba agar airnya masuk ke dalam timba Melati yang berada di belakangnya secara perlahan. Sukses! Hanya sedikit air yang tumpah.
Begitu juga dengan Melati, dia menundukkan kepala, mengangkatnya di atas kepala dan memiringkannya setelah mendapat kode dari Mikaila. Dan Mikaila lah yang menjadi penentu, Dengan hati-hati dia memiringkan timbanya agar usaha kedua teman di depannya tidak sia-sia.
Juna, Ridwan dan Wildan berteriak heboh saat Mikaila berhasil memindahkan air dari timbanya dengan sukses. Mereka bertiga seakan menghilangkan sifat cool yang selama ini melekat pada diri mereka.
Aira segera mengisi timbanya dengan air lagi dan dengan cara yang sama mereka memindahkan air yang mereka bawa sampai air yang ada di timba Aira habis.
Di kelompok lain, Bella, Dira dan Megan sudah basah kuyup terkena air yang terus jatuh di atas kepala mereka dalam proses permainan itu. Mereka tidak tahu cara yang aman agar dapat Selamat dari air dan untuk memenangkan permainan itu.
Penonton terbahak-bahak saat mendengar Bella dan teman-temannya mengumpat dan berteriak setiap kali air mengguyur kepala dan badan mereka.
Itu salah satu rencana Mikaila. Dia tahu Bella akan mengikuti permainan yang diikuti oleh Aira. Makanya dia mengajak teman-temannya untuk mengikuti permainan yang bisa membuat Bella kesusahan. Sedangkan kelompoknya sendiri mendapat untung dengan adanya Melati yang mengerti banyak permainan tradisional.
Dan sudah dipastikan kelompok Airalah yang menang dalam permainan kali ini. mereka bertiga berjalan ke arah Juna dan yang lainya yang menghampiri mereka. Memberikan Hi five pada ketiganya.
"Gue nggak nyangka lo pada ikutan permainan konyol ini." kata Ridwan. Aira yang mendengar itu langsung menoyor kepalanya. Bagaimana permainan seru seperti tadi disebut konyol. Menyenangkan melihat Bella tersiksa seperti tadi. Itulah yang lebih menarik sebenarnya.
"Lo cemen. Nggak ikut permainan."
"Ini permainan anak kecil Ra."
"Terus lo mau apa datang kesini hah? Mau tepe-tepe?" tanya Mikaila.
"Hehehehe. Iya deh nanti Kita-kita juga main." ucap Wildan setelah mendapat pelototan dari sang pacar.
"Kalian hebat. Dari mana kalian tahu cara agar menang tanpa basah-basahan seperti yang lain?" tanya Juna setelah berhasil mendapatkan lengannya di bahu Aira yang sedikit basah.
"Ini semua berkat Melati." Aira merangkul bahu Melati sehingga tangan Juna jatuh dari bahu Aira. Juna berusaha merangkul bahu Aira lagi.
__ADS_1
"Juna risih tahu nggak. Ini basah." Aira menepis lengan Juna. Bagaimanapun. dia seorang cewek yang risih jika disentuh saat pakaiannya basah.
Permainan terakhir di sore itu adalah permainan tunggal, menggigit koin yang ditancapkan di sebuah pepaya mentah yang telah diolesi dengan coklat. Mikaila dan Melati memilih melihat saja Aira melakukannya. Sebelumnya Melati sudah memberitahu cara yang mudah tanpa terkena banyak coklat yang akan menghiasi wajah. Juna, Wildan dan Ridwan dipaksa oleh Aira dan Mikaila untuk ikut dalam permainan ini.
Aira dan semua peserta sudah berdiri di gantung di depan pepaya yang berada di depan mereka. Seperti yang diduga Mikaila sebelumnya.Bella juga menjadi salah satu peserta. Permainan ini diberi tenggang waktu sepuluh menit. Siapa yang mendapatkan koin paling banyak dialah yang menang.
Prrriiiiitttt
Suara peluit melengkung pertanda permainan dimulai. Wajah peserta sudah berantakan dengan coklat di sekitar mulut dan hidung mereka. Tak sedikit yang bahkan seluruh wajah mereka terkena coklat. Mereka dengan tergesa-gesa menggigit koin yang tertancap pada permukaan pepaya. Dan itu membuat pepaya bergelantungan bergerak-gerak dan mengenai wajah mereka. Itu juga menyulitkan mereka menggigit koin.
Sedangkan Aira yang telah menerima breafing dari Melati dengan tenang berdiri dan menggigit satu persatu koin dengan tenang. Menghindari goncangan besar pada pepaya sehingga pepaya miliknya cenderung diam berbeda dengan milik peserta lain yang terus bergerak.
Permainan itu berhenti saat lengkingan peluit terdengar nyaring di telinga para peserta.
Setelah mereka berhenti. Mereka saling menertawakan penampilan wajah mereka yang jauh dari kata bersih.
"Huahahahaha" gelak tawa terdengar dari peserta maupun penonton.
"Na wajah tampan lo ilang! hahahaha" Ridwan menggoda Juna yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang penuh coklat. Wildan dan Aira yang ada di dekat mereka pun meletakkan tawa mereka membuat Juna semakin bersungut kesal.
"Lo nggak kalah jelek ogeb!" Aira melohat ketiga sahabat yang sebelumnya tampan menjadi belepotan coklat.
"Ngapain lo pada?" Aira memasang wajah waspada melihat senyuman iblis dari ketiga sahabatnya.
"Seraaaang!!!" Juna berteriak sambil mengejar Aira yang sekarang berlari menghindari Juna yang tangannya penuh coklat dari wajah tampannya. Ridwan dan Wildan melumuri tangan mereka dengan coklat dari pepaya mereka.
Segera Wildan dan Ridwan ikut mengejar Aira untuk membubuhkan coklat pada wajah Aira. Mereka berempat berkejaran di antara siswa lain. Ketiganya tertawa riang seperti anak kecil yang menikmati masa kecilnya. Mikaila mengabadikan moment tersebut dalam kamera Video handphone miliknya.
"Mika tolongin gue!" teriak Aira. Bukannya menolong Mikaila malah semakin memberi semangat pada ketiga temannya.
"Ayo Wil tangkap Aira!" teriak Mikaila semangat. "Tangkap Na! Jangan Biarin dia tetap cantik." lanjutnya saat melihat Aira mulai kelelahan dan Juna sudah berada di dekatnya.
"Lo nggak bisa lari Ra." Tangan Juna mencengkeram lengan Aira agar tak lepas. Menekuknya ke belakang. Kemudian mengoleskan tangannya yang sudah penuh coklat. Aira menghindari tangan Juna, namun tak berhasil lolos. Wajahnya kini penuh coklat. Wildan dan Ridwan segera mendekat dan ikut mengoleskan coklat dari tangan mereka berdua.
"Hahahah Rasain Ra." Semua yang melihat itu ikut merasakan kehangatan persahabatan mereka.
"Curang kalian. Beraninya keroyokan." kata Aira setelah dia terlepas dari ketiga sahabat yang menyiksanya. Tatapan matanya penuh kejengkelan melihat ketiga cowok di depannya yang duduk terpingkal-pingkal di tanah.
"Baiklah kalian suka ya liat gue kayak gini?" Aira bertolak pinggang di depan ketiganya. Berjalan mendekat dan menggelitiki ketiganya secara bergantian.
__ADS_1
"Hahahaha ampun Ra!" teriak ketiganya. Tanpa ampun Aira menyerang ketiga sahabatnya. Membuat mereka memegang perut mereka yang kram.
"Cukup Ra! Perut gue kram." Juna menghapus titik air mata yang ada di sudut matanya.
"Kita impas sekarang." Aira menghentikan perbuatannya. Membantu ketiganya berdiri dan bersatu dalam pelukan.
"Kalian curang. Gue nggak di ajak pelukan." Mikaila menghampiri Keempatnya dengan muka ditekuk. Keempatnya menoleh dan tersenyum.
"Ada yang cemburu Rupanya. Ayo kita pelukan lagi." kata Ridwan. "Sini Mik gue peluk." Wildan memukul bahu Ridwan keras. Membuatnya terhuyung ke belakang.
"Sini Mik. Pelukan sama gue aja." Aira merentangkan tangannya. Menyambut Mikaila dalam pelukannya. Juna, Wildan dan Ridwan terseyum melihat keduanya.
Ekspresi mereka berubah saat melihat senyum jahil. yang muncul dari bibir Aira. Matanya mengisyaratkan agar ketiganya mendekat dan berbuat jahil pada Mikaila.
Setelah ketiga cowok itu mendekat. Aira menempelkan pipinya yang penuh coklat pada wajah Mikaila.
"Hahahaha. Sekarang baru adil." Mikaila melepaskan pelukanya. Menyentuh pipinya yang kini terkena coklat dari pipi Aira.
Tak lama setelah itu, Juna, Wildan dan Ridwan mengoleskan coklat bersama-sama di pipi Mikaila.
"Kaliaaaaan!!!"
Suara nyaring teriakan Mikaila membuat Aira Juna Wildan dan Ridwan berlari meninggalkan gadis yang tampak mengeluarkan tanduknya sekarang.
Akhirnya, sore itu ditutup dengan cara yang menyenangkan. Melihat betapa hangatnya persahabatan berandal sekolah yang selama ini mereka kagumi. Siswa yang lain pun seperti merasa ikut dalam kehangatan itu.
Dan moment kebahagiaan itu tak sedikitpun luput dari bidikan lensa kamera Melati yang sedari awal merekam kejadian itu.
*
*
*
...**Terima kasih sudah mampir 🤩...
...Jangan Lupa Like 👍vote 😎dan rate⭐ lima...
...Ramaikan kolom komentarnya🗨...
__ADS_1